Perang Dagang, Optimisme Trump dan Kegelisahan Pengusaha AS

0
100
Ilustrasi/ Sumber Darrin Bell

Nusantara.news, Jakarta – Setelah Amerika Serikat (AS) mengenakan tarif impor atas sejumlah produk China – terakhir kali baja dan alumunium – negeri tirai bambu itu tak tinggal diam. Kini China membalas mengenakan tarif senilai US$ 3 miliar atas 128 produk AS yang masuk ke China. Meskipun Trump optimis memenangkan perang dagang dengan mudah namun sejumlah pengusaha AS mulai khawatir dengan memanasnya perang dagang ini.

Terakhir kali Gedung Putih mengecam langkah balasan China yang memasang tarif untuk produk-produk AS – khususnya daging babi dan anggur. Langkah Beijing itu sebagai balasan atas tarif impor baja dan aluminum asal negaranya. Balasan itu terpaksa dilakukan, ungkap pemerintah China, untuk melindungi kepentingannya dan menyeimbangkan kerugian yang disebabkan oeh tarif baru.

Optimisme Trump

Perang dagang itu telah merambah ke indeks harga gabungan Pasar Saham. Saham produk-produk AS dikabarkan jatuh, dan saham-saham produk asal Asia juga dibuka lebih rendah karena kekhawatiran perang dagang terus meningkat. Di Wall Street, indeks harga saham S & P 500 jatuh 2,2%, sedangkan Dow Jones Industrial Average tercatat turun 1,9%. Begitu pun di Asia, Nikkei 225 Jepang dibuka turun sekitar 1,5%.

Dalam pernyataan tertulisnya Gedung Putih kembali menuding Beijing telah “mendistorsi pasar global”. “Subsidi China dan kelebihan kapasitas adalah akar penyebab krisis baja,”ungkap Juru Bicara Gedung Putih Lindsay Walters.

“Alih-alih menargetkan ekspor AS yang cukup diperdagangkan, China perlu menghentikan parktik perdagangan tidak adil yang merugikan keamanan nasional AS dan mendistorsi pasar global,” tandas Walters.

Namun Presiden AS Donald J Trump lewat akun Twitter miliknya justru optimis perang dagang dengan China yang disebutnya sebagai “musuh ekonomi” akan dimenangkannya dengan mudah. Pernyataan Trump di akun media sosialnya itu menggambarkan perang dagang antara China dan AS dikhawatirkan terus meningkat.

Di akun Twitter Trump menulis: “Ketika suatu negara (AS) kehilangan banyak miliaran dolar dalam perdagangan dengan hampir setiap negara tempat ia berbisnis, perang dagang itu baik, dan mudah dimenangkan. Contoh, ketika kita kehilangan US$100 miliar dengan negara tertentu dan mereka menjadi lucu, jangan berdagang lagi – kita menang besar. Mudah!”

Neraca Perdagangan AS Vs China

Setelah pada 8 Maret 2018 AS mengumumkan tarif baja dan alumunium global, langkah itu didasari oleh alasan melindungi produsen dan keamanan nasional AS. Namun AS bersedia merundingkan sejumlah pengecualian kepada Kanada, Meksiko dan Uni Eropa. Dengan demikian AS telah mengambil dua langkah besar yang memicu ketegangan dengan China.

China yang merasa menjadi sasaran tarif oleh pemerintah AS membalas dengan mengumumkan tarif untuk sekitar 128 item produk AS senilai US$ 3 miliar. Tarif itu berlaku sejak Senin Pahing (2/4) kemarin. Produk-produk andalan AS seperti daging babi beku, kacang-kacangan, buah segar dan kering, ginseng dan anggur terancam langsung oleh sengketa perdagangan ini.

Isyarat Berunding

Wartawan BBC News di Hong Kong, Stephen McDonnel, dalam analisnya tentang siapa yang akan muncul sebagai pemenang dengan judul “Siapa yang Berkedip Duluan”. Artinya akan ada negosiasi ulang atas sejumlah isu perdagangan di kedua negara. Tapi itu pun tergantung siapa yang terlebih dulu memberikan isyarat ke meja perundingan.

Pencurian hak atas kekayaan intelektual adalah isu utama dimulainya perang dagang AS terhadap China. Jika perusahaan internasional ingin beroperasi di China, tuding Washington, ada semacam kewajiban menyerahkan kekayaan intelektual mereka untuk mendapatkan hak istimewa, sehingga investor China dengan mudah mendapatkan teknologi “kereta cepat” asal Jerman.

Meskipun ada yang bersimpati dengan pembalasan China, namun McDonnel menyebutkan ada juga sebagian yang khawatir perang tarif bukan sesuatu untuk memperbaiki masalah. Secara umum orang lain mungkin mengatakan, selama bertahan-tahun China menikmati pencurian intelektual dan tindakan keras diperlukan untuk memaksa perubahan.

Ada juga faktor ketidak-seimbangan perdagangan AS-China – dengan surplus China yang terus membesar – tentu saja, sebut McDonnel, itu berarti China akan memberikan isyarat pertama untuk mengajak AS berunding. Karena perang dagang itu akan lebih banyak merugikannya, meskipun beberapa produk AS akan merugi dengan adanya perang dagang ini.

Bisnis-bisnis Amerika banyak yang terjebak dalam perang dagang ini. Suka atau tidak suka, China adalah pasar besar produsen AS untuk barang-barang tertentu seperti daging babi, kedelai, dan pesawat terbang. Dari daging babi saja, sebut Dewan Produser Daging Babi Nasional (NPPC/National Pork Producer Council) angka perdagangan babi AS ke China mencapai US$ 1,1 miliar.

“Setiap pembatasan di pasar ekspor bukanlah perkembangan yang baik bagi produsen daging babi AS,” ungkap Juru Bicara NPPC Jim Monroe sebagaimana dikutip dari BBC.

Berbagi Kegelisahan

Perusahaan Fermentasi juga akan terkena imbas perang dagang ini. Meskipun China belum termasuk pangsa pasar anggur AS, karena pemasok utama anggur di China masih didatangkan dari Perancis, namun tren perdagangan anggur AS ke China yang terus meningkat dan jumlah penduduk kelas menengah China yang terus bertambah adalah pangsa pasar yang tidak bisa diabaikan prospeknya.

Tidak mengherankan apabila perusahaan-perusahaan AS saling berbagi kegelisahan atas sikap pemerintahan Donald Trump. Meskipun bisa memaklumi keinginan Presiden Trump namun mereka menganggap perang tarif bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.

“Arah dari apa yang dilakukan, apabila hanya sebagai tekanan untuk menyetarakan bidang permainan adalah hal yang baik, meskipun saya tidak berfikir tarif adalah cara terbaik untuk mengatasi perdagangan yang tidak adil dengan China,” cetus Ketua Kamar Dagang dan Industri AS kantor Perwakilan China William Zarit kepada wartawan.

Zarit juga menyebut anggota organisasinya yang mewakili lebih dari 900 perusahaan AS di China – termasuk intel, Dell, Honeywell, Coca-Cola – terdorong untuk menghimbau para pejabat tinggi di kedua negara menyelesaikan di meja perundingan. “Saya berpikir ada gelagat yang menunjukkan kedua belah pihak ingin menyelesaikan persoalan ini,”paparnya.

Balasan China itu tidak terlepas dari ancaman AS – beberapa minggu setelah mengumumkan pengenaan tarif baru atas baja dan alumunium – akan memberlakukan tarif tambahan sebanyak US$ 60 miliar terhadap impor China atas pelanggaran hak kekayaan intelektual. Sebab China dituding menempatkan perusahaan-perusahaan As pada posisi yang kurang menguntungkan dan secara adil menekan mereka untuk berbagi teknologi, terutama di bidang-bidang seperti robotika dan telekomunikasi.

Kedua belah pihak kini sedang bernegosiasi tentang intellectual rights itu meskipun Gedung Putih juga mengatakan pembicaraan sebelumnya telah gagal. Dengan demikian balasan China atas pengenaan tarif produk-produk AS bisa dimaknai sebagai upaya meningkatkan posisi tawar China untuk merundingkan tarif yang lebih krusial – seperti robotica dan teknologi informasi – yang menjadi bagian dari isu utama perekonomian sekarang ini.

Namun yang mencemaskan – selain banyak perusahaan AS terdampak secara langsung oleh perang tarif – konflik perdagangan yang terus meruncing ini akan menyeret sejumlah negara – termasuk Indonesia dan negara-negara Asia lainnya – terseret dalam pusaran arus perang dagang di antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu.

Penting juga diwaspadai, perang dagang itu hanya “halaman pembuka” dari perang kepentingan yang lebih luas lagi di antara negara-negara besar yang bukan tidak mungkin melancarkan armada-armada hantunya untuk dimulainya perang tidak kentara yang lebih memiliki dampak mematikan ketimbang perang dingin 3 dekade yang silam. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here