Perang Dagang, Tekan Ancaman dan Genjot Peluang

0
47
Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping tampak akrab di panggung, namun di lapangan keduanya saling serang lewat kebijakan bea masuk.

Nusantara.news, Jakarta – Efek dari ancaman perang Amerika terhadap China sudah sangat jelas, karena menyangkut angka yang besar. Namun efek perang dagang Amerika terhadap indonesia telah membuat rupiah ikut melemah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut terkoreksi tajam.

Jika diperhatikan, aura perang dagang AS dan China sangat terasa. Kedua negara saling mengenakan tarif bea masuk yang tinggi, sehingga terkesan sangat kuat bahwa AS ingin mengurangi defisit perdagangannya dengan China.

Maklum, defisit dagang Amerika terhadap China lumayan besar, yakni mencapai US$275,2 miliar pada 2017. Dimana ekspor AS ke China tercatat sebesar US$130,4 miliar, sementara impor Amerika dari China mencapai US$505,6 miliar. Karena itu Presiden Donald Trump ingin negaranya menghentikan defisit perdagangan yang begitu besar lewat perang dagang.

Sementara terhadap Indonesia, defisit perdagangan AS hanya US$9,6 miliar pada 2017, itupun berusaha diminimalisir lewat pengkajian ulang (review) terhadap bea masuk 124 barang yang selama ini menerima fasilitas bebas bea masuk (Generalized System of Preference—GSP).

Gayung bersambut

Seperti diketahui, perang dagang AS-China bermula pada Kamis 22 Maret 2018, Presiden Donald Trump menandatangani surat keputusan sebagai jalan untuk menerapkan tarif perdagangan senilai US$60 miliar bagi seluruh barang Cina yang masuk ke negaranya.

Bak gayung bersambut, Kementerian Perdagangan China akan menerapkan tarif sebesar US$3 miliar atas impor baja dan aluminium asal AS. Cina juga akan menerapkan tarif tambahan 15% terhadap produk AS termasuk buah kering, anggur dan pipa baja serta tambahan 25% untuk produk daging babi dan aluminium daur ulang.

Tentu saja kebijakan Kementerian Perdagangan China sudah mendapat endorsement dari Presiden China Xi Jinping.

Sebanyak 128 produk AS telah telah didaftarkan Cina untuk dikenakan tarif jika kedua negara tak bisa mencapai kata sepakat soal tarif dagang. Cina dikabarkan akan menerapkan pemberian tarif tersebut secara bertahap.

Pertama, pemberian tarif 15% untuk 120 produk Amerika Serikat termasuk pipa baja dan minuman anggur sebesar US$977 juta atau sekitar Rp13,5 triliun.

Kedua, memberikan tarif lebih tinggi yakni 25% sebesar US$1,99 miliar atau sekitar Rp27 triliun untuk produk babi dan aluminium.

Proses tersebut secara psikologis telah berdampak buruk terhadap industri keuangan dunia, termasuk Indonesia. Sebagaiman ditandai pelemahan rupiah dan IHSG. Itu sebabnya Gubernur BI Perry Warjiyo mewanti-wanti dampak buruk perang dagang tersebut terhadap industri keuangan Indonesia.

Potensi dampak finansial muncul karena China yang mengancam akan mengevaluasi kepemilikan surat utangnya terhadap AS. Evaluasi tersebut berpotensi menimbulkan keguncangan pasar obligasi yang berdampak pada meningkatnya perlombaan kenaikan suku bunga internasional.

Melihat peluang

Sebenarnya, jika pemerintah Indonesia dan para eksportir cukup jeli, ada peluang bagus di balik perang dagang antara Amerika dan China, bahkan perang dagang antara Amerika dengan Indonesia.

Karena itu, para eksportir 124 produk Indonesia ke Amerika tidak lantas panik, harusnya mereka dapat memanfaatkan momentum perang dagang AS-China. Situasi panas kedua negara besar tersebut otomatis akan turut berimbas kepada perdagangan Indonesia.

Apa pun ceritanya, situasi perang dagang itu akan berdampak pada perekonomian kita. Minimal, ada trade diversion (pengalihan perdagangan). Dan itu adalah peluang.

Indonesia harus tetap mampu mencari kesempatan dan memanfaatkan momentum dalam kondisi kisruh ini. Oke mengimbau pelaku perdagangan dalam negeri untuk dapat memanfaatkan potensi perjanjian dagang bilateral antar negara yang sudah ada. Sebagai contoh, perjanjian ASEAN-China.

ASEAN-China hampir 95% komoditas sudah diperjanjikan. Jadi sudah banyak yang bisa kita manfaatkan. Sehingga kalau China misal menjadi kurang kebutuhan karena pasokan di situ tidak ada, kita bisa memanfaatkan.

Namun demikian, perang dagang ini sejatinya berdampak merugikan bagi banyak negara dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu kita harus terus mendorong agar Indonesia bisa melihat peluang yang ada.

Sebenarnya perang dagang  antara Amerika dan China vis a vis dengan Indonesia, dapat memberi keuntungan sekaligus ancaman bagi Indonesia. Penetapan tarif terhadap produk-produk China oleh AS memungkinkan China akan mengalihkan pasarnya ke negara lain.

Diantara pasar ASEAN, Indonesia adalah pasar yang empuk dan juga terbesar. Itu sebabnya Indonesia bisa mendapat peluang yang besar dari peralihan pasar ini.

Pengalihan itu disebut dapat menguntungkan pelaku industri dalam negeri, khususnya dengan kehadiran produk aluminium dan baja. Pelaku industri yang diuntungkan adalah industri yang menggunakan aluminium dan baja sebagai barang input dalam proses produksi.

Kehadiran aluminium dan baja dari China akan membuat harga di pasar menjadi lebih kompetitif. Kemungkinan akan menurunkan ongkos produksinya.

Namun, di sisi lain kehadiran produk China nantinya akan mempengaruhi performa industri aluminium dan baja dalam negeri. Untuk itu, perlu penguatan industri khususnya sektor manufaktur. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus meningkatkan level kompetisi produk nasional.

Jika produk kita sudah sangat kompetitif, meskipun dikenakan tarif yang tinggi, maka produk kita akan mudah melenggang ke negara manapun, tanpa kecuali ke Amerika. Seperti produk tekstil yang sudah melanglang buana ke manca negara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here