Perang Kedua Semen Padang Versus Semen Indonesia

0
294
Ikatan Keluarga Minang memprotes rencana likuidasi Direktorat Komersial dan pemangkasan CSR PT Semen Padang oleh PT Semen Indonesia untuk 2018, diperkirakan akan memanas sepanjang 2018.

Nusantara.news, Jakarta – Masih ingat kisah perang PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa dengan PT Semen Gresik Tbk pada 2001-2003? Ya, ketika dibuat konsep holding BUMN semen, Semen Gresik dijadikan induk dan sekarang berubah menjadi PT Semen indonesia Tbk.

Perang pada waktu itu yang menonjol adalah soal rencana rencana merger Semen Padang, Semen Tonasa dan Semen Indarung ke dalam Semen Gresik. Semen Gresik kemudian dijadikan holding company dari BUMN semen tersebut.

Perang memanas ketika ada rencan apenjualan Semen Gresik kepada Cemex SA de CV, raksasa semen asal Meksiko. Modus penjualannya seolah-olah dengan membeli Semen Gresik, maka mendapat bonus Semen Padang dan Semen Tonasa.

Persoalan utama muncul pada Semen Padang, karena lahan Semen Padang adalah tanah ulayat, dimana BUMN itu memperoleh lahan untuk bisnis diberi gratis oleh rakyat Padang. Sehingga ketika tanah ulayat itu harus diserahkan kepada asing, disitulah terjadi pergolakan.

Kita tahu akhirnya Cemex berhasil menguasai holding yakni Semen Gresik, namun dalam perjalanan Cemex tidak kuat juga menghadapi perlawanan keras Semen Padang yang dibantu Semen Tonasa. Akhirnya Cemex pun melego sahamnya karena posisinya juga tidak mayoritas.

Perang baru

Perang baru yang melanda Semen Padang dengan Semen Indonesia adalah, perihal rencana likuidasi Direktorat Komersial dari operating company (opco) ke holding company (holdco). Hal ini dianggap bertentangan dengan bule print PT Semen Indonesia sebagai holding company yang telah ditetapkan sejak 2012 lalu.

Langkah likudasi tersebut diikuti oleh pemangkasan anggaran tanggung jawab sosial korporat (corporate service responsibility–CSR) Semen Padang untuk 2018. Pemangkasan itu sangat jauh dibandingkan CSR tahun 2017, tentu saja hal ini akan berdampak pada masyarakat sekitar.

Perlu diketahui bahwa bagi masyarakat Sumatera Barat dan Lubuk Kilangan, Semen Padang adalah satu-satunya industri besar. Kebanggaan masyarakat yang lahir dan tumbuh atas peran masyarakat dan ninik mamak, melalui penyerahan tanah ulayat untuk dimanfaatkan oleh perusahaan. Tidak ada transaksi jual beli terhadap pemanfaatan tanah ulayat ini, sebagaimana Semen Gresik di Gresik maupun di Tuban.

Adalah Andre Rosiade, Ketua Harian DPP Ikatan Keluarga Minang, yang mengirim surat resmi kepada Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo akhir Desember 2017 lalu.

Menurut Andre jika manfaat sudah selesai, tanah kembali lagi ke masyarakat. Saat ini masyarakat Lubuk Kilangan resah oleh kebijakan Direksi PT Semen Indonesia di bawah pimpinan Hendi Priyo Santoso. Ninik mamak dan masyarakat telah membahas kebijakan-kebijakan yang mengabaikan kesejahteraan masyarakat lingkungan. Adalah wajar bagi Semen Padang memberikan anggaran CSR yang cukup untuk kesejahteraan masyarakat di Nagari, karena tanah diambil secara cuma-cuma, tidak dibeli diserahkan begitu saja. Pemotongan anggaran CSR ini telah melukai hati masyarakat Lubuk Kilangan. Tanah ulayat nagari Lubuk Kilangan diserahkan ke Semen Padang, bukan ke Semen Indonesia.

Dirut dan jajaran Direksi Semen Indonesia, menurutnya, harus tahu hal ini sebelum membuat kebijakan-kebijakan. Untuk itu dia meminta kepada Menteri  BUMN agar memerintahkan Dirut Semen Indonesia meninjau ulang kembali kebijakan ini sebelum ninik mamak dan masyarakat menarik kembali penyerahan penggunaan ulayat mereka ini.

Apalagi, lanjut Andre, setelah membaca laporan kinerja Semen Indonesia pada 2017, yang anjlok tidak sampai Rp2 triliun, dibandingkan pada 2016 turun sekitar Rp6 triliun dan penurunan EBITDA menjadi 19% dibandingkan 40% pada 2012 adalah sangat memprihatinkan. Kondisi pasar yang over supply dijadikan salah satu penyebab penurunan kinerja ini. Program-program efisiensi operasional perusahaan telah berhasil dijalankan dengan baik oleh Dirut Semen Indonesia sebelumnya, Rizkan Chandra (alm).

Sampai saat ini Semen Indonesia masih menguasai market share 40%, turun dibandingkan pada lima tahun lalu. Dalam kondisi pasar yang over supply 30% dari demand dan banyaknya pesaing baru adalah sebuah prestasi yang cukup perlu diapresiasi. Semua ini diperoleh berkat kerja seluruh opco di bawah koordinasi Semen Indonesia selaku holdco selama ini.

Kebijakan Hendi Priyo dan jajaran direksi lainnya, menurutnya, dengan melikuidasi Direktorat Komersial ke Semen Indonesia, sebuah kebijakan yang dilakukan tanpa melalui sebuah kajian yang matang, dikhawatirkan akan mengakibatkan penurunan kinerja Semen Indonesia secara keseluruhan di masa yang akan datang.

Standar ganda

Ikatan Keluarga Minang juga menilai kebijakan tersebut tidak sejalan dengan semangat sinergi yang menjadi kekuatan Semen Indonesia selama ini. Jajaran Direksi Semen Indonesia dalam membuat kebijakan berstandar ganda. Sebagai pimpinan seharusnya memberikan contoh kepada seluruh karyawan di Semen Indonesia.

Kepada karyawan diterapkan pemotongan upah lembur dan pengurangan pengawai kontrak, biaya perjalanan dinas, biaya kesehatan, dan lain-lain. Tetapi di sisi lain, patut di duga Direksi Semen Indonesia menghambur-hamburkan uang melalui pembelian gedung untuk kantor pusat di Jakarta sebesar Rp375 miliar.

Bahkan info dari karyawan ada rencana pembelian mobil mewah untuk kendaraan Dinas Dirut, jauh di atas Kijang Innova yang biasa Menteri BUMN gunakan dalam kegiatan operasional kementrian, bahkan di atas mobil Presiden Jokowi sekali pun.

Pemindahan kantor pusat ke Jakarta, menurut Andre, sangat berlawanan dengan semangat efisiensi yang harus dibangun. Berapa banyak karyawan yang harus pindah ke Jakarta, baik yang dari Padang, Gresik, Makasar? Sejauh mana manfaatnya utk perbaikan kinerja perusahaan? Suatu cost yang sangat besar yang harus dikeluarkan.

Proses pembelian gedung yang sangat cepat ini perlu dicek proses pengadaan termasuk appraisalnya. Dirut juga telah mengecilkan keberadaan karyawan-karyawan di PT SI, di mana sehari-hari Dirut merekrut ajudan, sekretaris, sopir dari eksternal. Apakah tidak ada karyawan SI yang mampu untuk tugas-tugas tersebut? Sebuah pemborosan yang tidak perlu.

Didapat kabar juga bahwa untuk karyawan setingkat GM, Direksi Semen Indonesia akan mengrekrut profesional dari luar, di sisi lain banyak karyawan-karyasan senior yang tidak mendapat job karena perampingan organisasi yang dilakukannya. Seharusnya dengan kondisi persaingan pasar yang sangat ketat pada saat ini, direksi Semen Indonesia menjalankan program-program efisiensi dengan memberikan contoh ke seluruh karyawan, menghilangkan praktek-praktek kolusi dalam pengadaan batubara.

Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari Direksi Semen Indonesia. Biasanya jajaran direksi menghimpun dulu masukan dari para pihak yang keberatan dan melakukan rapat direksi untuk merumuskan jawaban atas keluhan itu semua.

Memang penurunan kinerja Semen Indonesia sebagai holdco telah menyebabkan efisiensi yang cukup signifikan di level opco, termasuk di Semen Padang.

Akan kah persoalan ini akan meledak menjadi perang jilid dua Semen Padang dengan Semen Indonesia? Kita ikuti saja lelakon episode berikutnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here