Perdagangan Ilegal Memicu Punahnya Kura-Kura Moncong Babi di Papua

0
180
Satu diantara 18.000 ekor kura-kura moncong babi yang gagal diselundupkan /Foto WWF Indonesia

Nusantara.news, Timika – Populasi Kura-kura moncong babi (carettochelys insculpta/KMB) semakin tergerus seiring maraknya perburuan liar. Terlebih, ungkap Gatot Nugroho selaku peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LH) Manokwari, kura-kura hingga telur-telurnya terus diburu.

“Bahkan tidak ada telur ditinggalkan dalam sarang untuk menetas. Kura-kura moncong babi dewasa diburu untuk dikonsumsi ataupun dijual. Itu dikhawatirkan akan mengancam kelestarian KMB beberapa tahun ke depan,” beber Gatot di Timika, Selasa (4/4).

Kini Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dan BP2LH Manokwari dengan didukung lembaga donor Usaid Lestari meneliti jumlah populasi dan ancaman kelestarian KMB yang hanya ditemukan di sejumlah titik di wilayah pantai selatan Papua.

Penelitian dilakukan di tiga lokasi, masing-masing di Sungai Mamats, Sungai Caletina dan Sungai Elanden yang ketiganya masuk wilayah Kabupaten Asmat, dan satu lagi di kawasan Taman Nasional Lorentz.

Nama kura-kura moncong babi mengacu pada bentuk fisiknya yang menyerupai hidung babi. Meskipun bertempurung tebal, namun KMB bertempurung lunak (soft shell) seperti labi-labi. Kakinya lebih mirip sirip ikan. Kalau dibiarkan tumbuh di habitatnya, KMB bisa mencapai bobot 23 Kg dan panjang 56 Cm. Tapi kalau diternakkan sulit tumbuh sebesar itu.

Gatot mengakui, meskipun pemerintah gencar melakukan sosialisasi untuk menghentikan perburuan liar tetap saja perburuan liar terus marak. Padahal masyarakat lokal tetap dibolehkan berburu dalam jumlah terbatas untuk tetap menjaga kelestariannya.

“Kalau kita bisa manfaatkan sekaligus membantu perkembangan populasinya di alam dengan campur tangan manusia. Mungkin itu salah satu solusi. Kita bisa diberikan kuota, berapa yang bisa diambil dari alam, misalnya telur, kemudian anakan (tukik),” jelas Gatot.

Rupanya, tingginya harga KMB di pasar gelap negara-negara Asia Timur, seperti China, Hongkong dan Taiwan membuat pemerintah kewalahan menangkal perburuan liar. Terbatasnya jumlah personil acap kali memudahkan pelaku perburuan liar main kucing-kucingan dengan petugas.

Bayangkan saja, harga kura-kura dewasa dengan panjang 35 Cm bisa mencapai Rp5 juta per ekor. Harga tukiknya saja mencapai Rp150 ribu per ekor. Meskipun dunia Internasional sudah memasukkan KMB menjadi binatang dengan status dilindungi dan dilarang keras diperdagangkan, namun faktanya perdagangan hewan ini terus saja terjadi.

Di Asia Timur, daging KMB dewasa selain dikonsumsi di restoran-restoran super mahal, juga dimanfaatkan untuk ramuan obat-obatan dan ritual adat. Kenyatan itu yang dikhawatirkan akan menggerus populasi KMB yang banyak ditemukan di Kabupaten Asmat, Papua.

Maka cerita penyelundupan KMB pun menjadi sajian yang nyaris rutin menghias media massa. Sebut saja misal kasus penyelundupan tukik kura-kura moncong babi yang terungkap di Bandara Mozes Kilangin Timika, bahkan di Bandara Ngurah Rai Denpasar dan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jakarta.

Sulitnya menangkal perburuan liar yang antara lain karena keterbatasan jumlah personil, membuat Kepala Bidang Teknis Konservasi BBKSDA Papua Ahmad Yani sibuk mencari cara yang jitu mengurangi perburuan liar. Antara lain dengan membentuk kelompok masyarakat mitra polisi kehutanan (MMP).

“Kami sukses menjaga Satwa di Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kabupaten Jayapura seluas 30 ribu hektar dengan melibatkan MMP. Ada sekitar 3 hingga 5 kelompok MMP yang masing-masing beranggotakan 15 orang. Mereka inilah yang menjaga berbagai ancaman terhadap satwa di kawasan itu,” jelas Yani.

Pola di atas, lanjut Yani, akan ditularkan ke Kabupaten Asmat agar masyarakat turut melibatkan diri secara langsung dalam pelestarian KMB. “Mereka akan dilibatkan mengumpul telur dan menangkarkannya,” pungkas Yani.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here