Mencermati Tekanan Terhadap Rupiah (1)

Perekonomian Indonesia di Ambang Krisis

1
97
Rizal Ramli pada 1998 menerikkan akan datangnya krisis, dan terbukti. Kini di 2018 ia kembali mengingatkan akan datangnya krisis akibat ketidakmampuan Tim Ekonomi Jokowi dalam menata perekonomian.

Nusantara.news, Jakarta – Tata kelola ekonomi Indonesia belakangan ini terlihat morat-marit, sehingga ekonom senior Rizal Ramli berpendapat ekonomi Indonesia sudah berada diujung jurang kehancuran. Semua bermula dari kegagalam Tim Ekonomi Jokowi dalam mengelola perekonomian di tanah air.

“Melalui forum ini saya menyerukan perlunya Gerakan Nasional Penyelamat Indonesia,” demikian usul Rizal Ramli kemarin.

Karena kondisi bangsa ini sudah berada di kondisi kritis. Rizal menyampaikan seperti tahun 1998, gerakan sosial untuk menyelamatkan Indonesia perlu dibangun yang diikuti oleh seluruh kalangan. Program revolusioner itu dinilai sebagai solusi dalam menyelamatkan bangsa dan negara.

Mantan Menko Kemaritiman itu saat menjenguk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di RS Gatot Subroto juga berpendapat ekonomi Indonesia sudah setengah lampu merah.

“Pak SBY minta, Pak Rizal tolong jelaskan soal ekonomi. Ini nih biangnya nih, iya kan?’ Terpaksa kami jelaskan hampir 40 menit. Kami jelaskan kondisi ekonomi kita bagaimana. Masalahnya apa,” demikian papar Rizal.

Rizal mempersoalkan kondisi ekonomi yang sudah setengah lampu merah tersebut dengan calon pemimpin nasional. Kalau oposisi tidak siap mengunggulkan calon yang tepat, bisa saja Presiden Jokowi menang lagi. Sementara kemampuan Tim Ekonomi Jokowi untuk menyelesaikan masalah ekonomi yang dibuatnya sangat terbatas.

Indikasi ekonomi kita bermasalah, paling tidak dapat ditengok dari neraca perdagangan Indonesia saat ini juga harus diwaspadai. Termasuk neraca pembayaran, neraca migas, neraca barang, hampir semua memprihatinkan. Sebab beberapa kali mengalami defisit alias tekor.

Yang sangat memprihatinkan, menurut Rizal, neraca pembayaran yang sudah negatif, ditambah keseimbangan primer (primary balance) yang sempat positif sebentar pada 2019 akan negatif lagi. Kenapa sempat positif? Karena banyak bunga dibesarin dan pengeluaran dikurangi, sehingga akrobat accounting ini membuat seolah-olah neraca keseimbangan primer positif.

“Beberapa waktu lalu primary balance negatif, positif sebentar, nanti akan defisit lagi. Artinya apa, artinya kita menggali utang hanya untuk membayar bunga utang. Saya istilahkan gali lobang turup jurang,” kata Rizal.

Pada kuartal I 2018, defisit transaksi perdagangan negatif US$5,5 miliar. Bahkan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berani berkata dengan jujur bahwa tekornya besar banget. Karena itu dia memprediksi defisit transaksi perdagangan bisa menembus level US$25 miliar.

“Kalau gini apa rupiah nggak anjlok?” demikian kekhawatiran Rizal Ramli.

Semua ini terjadi mengingat Pemerintah Jokowi terlalu jor-joran melakukan impor bahan pangan dan bahan baku serta mesin-mesin penunjang infrastruktur. Tetapi pemerintah lupa dalam menggenjot ekspor, sehingga terjadi selisih yang sangat jomplang.

Itu sebabnya nilai tukar rupiah terus tertekan akibat kebijakan yang tidak harmonis antara keinginan membangun infrastruktur, keterbatasan dana, dan impor yang besar-besaran. Ini yang menyebabkan rupiah tertekan terus menerus hingga mendekati level Rp15.000.

Perbandingan Indikator Ekonomi Makro Pada Krisis 1998, 2008, 2015 dan 2018.

Padahal itu sudah dibantu oleh Bank Indonesia dengan melakukan intervensi sehingga cadangan devisanya anjlog dari US$131,98 miliar pada Januari 2018, belakangan tersisa hanya US$191,80 miliar. Dengan kata lain cadangan devisa BI telah terkuras sekitar US$12,18 miliar atau bila dirupiahkan dengan kurs Rp14.500, cadangan devisa BI sudah terkuras sebesar Rp176,61 triliun.

Selain itu, BI juga sudah membantu menjaga pelemahan rupiah lebih lanjut dengan menurunkan bunga 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak tiga kali, sehingga posisi bunga acuan itu hari ini sudah di level 5,25%.

Rizal Ramli berkali-kali mengatakan dalam bahasa sederhana badan ekonomi Indonesia sedang sakit. Antibody kita lemah. Karena itu antibodi ekonomi Indonesia harus dikuatkan lagi. Kalau mengandalkan Tim Ekonomi Jokowi yang ada, nampaknya tidak akan ada jalan keluar,  yang ada hanya solusi menambah utang.

“Tim Ekonomi Jokowi tidak kreatif, ujung-ujungnya pasti utang. Entah ke Bank Dunia, dan tidak menutup kemungkinan ke IMF (International Monetery Fund). Padahal kita sudah pernah dikadalin IMF, bukannya ekonomi membaik, tapi makin parah,” ketus Rizal.

Rizal adalah salah satu ekonom yang pada 1998 juga sudah berteriak mengingatkan Presiden Soeharto perihal ancaman krisis. Di berbagai forum diskusi, seminar, bedah buku, dan focus group of discussion (FGD), Rizal selalu mengingatkan bahaya pelemahan nilai tukar rupiah dan pengelolaan utang yang ugal-ugalan.

Hari ini Rizal kembali berteriak setelah menyaksikan aneka inidikator ekonomi bangsa yang terus terpuruk. Mulai dari merosotnya rupiah, IHSG, melonjaknya utang, melebarnya deifisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan, pelemahan BUMN yang berbarengan dengan peningkatan utang BUMN yang sangat besar.

Kegelisahan Rizam Ramli patut dicamkan dan diperhatikan. Kegelisahannya adalah cerminan dari kondisi ekonomi Indonesia yang sakit, namun coba ditutup-tutupi oleh Tim Eknomi Jokowi.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here