Perhelatan Akbar Annual Meeting IMF-WB Dikepung Bencana

0
159
Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan Managing Director IMF Christine Madeleine Odette Lagarde sedang bercengkrama dalam satu kesempatan.

Nusantara.news, Jakarta – Pesta 189 pemimpin global dalam perhelatan Annual Meeting IMF-World Bank di Bali 12-14 seolah-olah pesat yang penuh harap-harap cemas. Betapa tidak, perhelatan pemimpin keuangan global itu seperti dikepung bencana yang sahut menyahut.

Mungkin tak ada yang menginginkan bencana terjadi, tapi bencana itu datang seperti tak bisa ditolak. Seperti ledakan Gunung Galunggung (Bali) dimana perhelatan itu berlangsung, pada 3 Oktober 2017 dan 2 Juli 2018.

Tak berapa lama kemudian, pada 29 Juli 2018 terjadi gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 6,4 skala Richter. Lalu dilanjutkan gempat Lombok kedua pada 5 dan 19 Agustus 2018 dengan masing-masing berkekuatan 6,5 dan 7 skala Richter.

Gempa bumi Lombok berpusat di darat di dekat gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur. Dengan memperhatikan lokasinya dan kedalaman hiposenter, maka gempa bumi ini merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) menyebutkan 20 orang meninggal dunia, salah satunya warga negara Malaysia serta 401 orang lainnya mengalami luka-luka. Sedikitnya 10.062 rumah ikut rusak terdampak gempa ini. Terdapat 333 pendaki masih terjebak di kaldera Gunung Rinjani. Sebagian pendaki yang terjebak itu adalah pendaki dari luar negeri serupa dari Thailand, Belanda, Prancis dan Malaysia.

Yang terkini adalah gempa yang diikuti tsunami di Palu dan Donggala pada Jumat (28/9) berkekuatan 7,7 skala Richter. Dampak gempa dan tsunami ini membuat 1.203 jiwa korban meninggal. Sementara diperkirakan sebanyak 16.732 jiwa yang tersebar di 123 titik pengungsian dengan wilayah terdampak Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.

Ribuan rumah, gedung, kantor, ruko dan hunian yang hancur, jalan-jalan rusak terbelah, ratusan masjid dan gereja roboh, listrik padam, air bersih terhenti, sehingga infrastruktur Palu dan Donggala benar-benar lumpuh.

Tetap berlangsung

Di tengah aneka bencana yang mengitari wilayah Bali, Lombok, Palu, Donggala, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan pelaksanaan pertemuan tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-WB) tetap berlangsung meskipun Indonesia tengah menghadapi aneka bencana.

Luhut mengaku telah mendapatkan tanggapan langsung dari pihak IMF-WB selaku penyelenggara bahwa mereka masih mempercayai kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah.

“Kami juga sudah berhubungan dengan Washington dan mereka tanya kesiapan kita, dan kita bilang kita selalu siap. Kita sekaligus tunjukkan bahwa Indonesia mampu menangani keadaan paling sulit sekalipun, jadi kita tunjukkan bahwa Lombok kita tangani, Palu kita tangani dan IMF-WB juga mampu kita manage dengan baik,” tuturnya dalam keterangan tertulis hari ini.

Luhut menambahkan, pemerintah juga telah memberikan arahan kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperbaharui peralatan seperti radar cuaca, system peringatan dini (early warning system), dan peralatan pendukung lain demi kelancaran pelaksanaan pertemuan IMF-WB di Bali nanti.

“Kita juga harus mengingatkan masyarakat agar jangan buoy-buoy (pelampung) sebagai early warning system itu jangan dicuri seperti yang terjadi di Aceh dan wilayah lain. Karena akan fatal akibatnya dan dapat menimbulkan banyak korban jiwa. Saya kira masyarakat harus mengetahui itu,” demikian Luhut.

Luhut meyakini, pemerintah dan pihak terkait lainnya sudah bergerak sangat cepat dan terpadu dalam melakukan penanganan bencana alam.

Langkah Presiden untuk melihat langsung juga sangat bagus sekali, menurut Luhut. Basarnas dan Satgas BNPB sinerginya sudah bagus, alat berat sudah datang, listrik, dan air bersih sudah ada, makanan dan logistik lain sangat bagus penanganannya. Serta RS AL KRI Soedharsono dan Hercules dari TNI AU juga sudah standby di sana. Overall penanganan kita sangat cepat dan terpadu, Presiden pun telah mengatakan bahwa secara terpilih kita akan menerima bantuan dari internasional.

Luhut dalam kesempatan ini juga menyampaikan belasungkawa terhadap masyarakat yang tertimpa bencana. Namun menurutnya tak perlu juga berlarut dalam kesedihan. Menurutnya kejadian ini juga tidak perlu ditetapkan sebagai bencana nasional

“Kita bergerak terus dan hal berikutnya adalah pemulihan dan pembangunan infrastruktur. Saya kira tidak perlu (penetapan bencana nasional), karena penanganan yang kita lakukan sekarang sudah lebih dari penetapan bencana nasional,” tutupnya.

Tentu saja sikap percaya diri Luhut patut diacungkan jempol, mengingat di tengah kepungan bencana Bali, NTB, Palu, Donggala, pemerintah terus menggelar hajatan raksasa yang akan dihadiri oleh 19.000 utusan dari 189 negara dunia. Jika perhelatan itu lancar dan baik-baik saja, dalam arti tidak ada bencana susulan, maka Indonesia akan menjadi tuan rumah yang baik.

Setelah berhasil menggelar Asian Games 2018 dengan mulus, lalu dilanjutkan Asian Para Games 2018, mestinya Indonesia sanggup menjadi tuan rumah yang baik bagi Annual Meeting IMF-WB.

Persoalannya jika–amit-amit semoga tidak terjadi—di tengah perhelatan akbar pada 12-14 O ktober itu ada bencana susulan, atau Gunung Agung bergolak dan meledak kembali, maka bencana itu akan menjadi bencana global. Karena bayangkan, ada ratusan kepala negara, tentu saja diikuti para menteri ekonomi dan gubernur bank sentral di dunia, akan sangat kacau.

Teringat akan fil Dante’s Peak, dimana sebuah kota dihantam letusan gunung Dante yang memporak pordakan isi kota, tampak sekali kekacauan dan banyak sekali korban. Kita berharap perhelatan akbar ini mulus-mulus saja. Tentu kita percaya pemerintah telah menyiapkan Plan A, Plan B, bahkan mungkin Plan C, kalau-kalau pada pertemuan itu terjadi sesuatu.

Tentu saja pemerintah akan menjaga sebaik dan seaman mungkin Managing Director IMF Christine Madeleine Odette Lagarde, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan tentu saja para pemimpin negara, pemimpin bank sentral 189 negara di dunia.

Selamat datang IMF, selamat datang Bank Dunia, semoga semua berjalan lancar. Tapi kami juga tidak berharap kehadiran kalian justru menciptakan ‘gempa ekonomi’ baru bagi Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here