Peringatan Bank Dunia, Indonesia Masuk Radar Risiko Nilai Tukar

0
262
Peringatan dini Bank Dunia soal mata uang Asia Tenggara, termasuk rupiah, masuk dalam radar risiko nilai tukar

Nusantara.news, Jakarta – Bank Dunia mewanti-wanti negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan tanpa kecuali Indonesia, diprediksi akan menghadapi risiko nilai tukar yang lebih besar dibandingkan negara berkembang lain di Asia Timur dan Asia Pasifik.

Peringatan Bank Dunia ini disampaikan seiring dengan semakin ketatnya kondisi keuangan global.

Dalam laporan Bank Dunia yang dipancarluaskan oleh Bloomberg itu disebutkan risiko mata uang itu ditandai dengan tingginya utang luar negeri yang cukup besar, walaupun digembar-gemborkan cadangan devisa yang dimiliki cukup memadai.

Situasi ini mirip-mirip dengan kondisi krisis 1998, dimana utang luar negeri pemerintah dan swasta yang kurang tertata dengan baik pada gilirannya menjadi sasaran tembak spekulan Goerge Soros dan kawan-kawan untuk bermain di air keruh. Sehingga kita dapati mata uang regional saat itu, termasuk rupiah, terkena gempuran permainan valuta asing.

Apalagi magnitude utang Indonesia hari ini, baik swasta maupun pemerintah, jauh lebih besar dengan beban pembayaran utang pokok dan bunga yang juga jauh lebih besar. Sehingga pada suatu titik bisa saja dihadapkan pada kebutuhan mencari dolar AS guna memenuhi utang yang jatuh tempo.

Karena itu, Bank Dunia memberikan rekomendasi, agar otoritas moneter perlu mengambil sikap dengan memperketat kebijakan bila terjadi arus modal keluar (capital flight) yang mempercepat pelemahan mata uang di masing-masing negara.

Bank Dunia juga merekomendasikan jika terjadi depresiasi menekan mata uang yuan (China), pihak otoritas harus mengantisipasinya dengan intervensi pasar, mengingat ke depan kebijakan keuangan akan semakin ketat.

Di sisi lain, Bank Dunia malah mengapresiasi China, Malaysia dan Thailand pada 2017 dengan memberikan kredit khusus untuk tahun 2017 dan 2018. Bank Dunia menyebutkan bahwa estimasi pertumbuhan ekonomi di tiga negara tersebut naik, dibanding estimasi semula di April.

Bloomberg memprediksi pertumbuhan ekonomi China akan naik 6,7% tahun ini dan 6,4% tahun depan. Dari data yang dikeluarkan Bloomberg hingga 3 Oktober 2017, secara keseluruhan pertumbuhan mata uang di Asia masih tergolong baik.

Beberapa mata uang di Asia pun melonjak terhadap dollar AS pada tahun ini, seiring menguatnya prospek pertumbuhan.

Misalnya mata uang Thailand yang naik sebesar 6,94%, mata uang Taiwan naik 5,87%, mata uang Malaysia naik 5,79%, mata uang Korea Selatan naik 5,45%, mata uang China naik 4,39%, dan mata uang India naik sebesar 3,62%.

Namun mata uang Indonesia dan Filipina sama-sama turun terhadap dollar AS, yakni turun masing-masing 0,75% dan 2,86%.

Menurut Bank Dunia, pertumbuhan mata uang di Asia Tenggara, Asia Timur dan Asia Pasifik tersebut akan terus mendapat keuntungan dari membaiknya lingkungan global dan permintaan domestik yang kuat.

Meski begitu, Bank Dunia masih tetap menyorot risiko pertumbuhan yang mencakup defisit anggaran yang diperkirakan tetap tinggi atau akan meningkat di sebagian besar negara.

Risiko lain yang patut diperhatikan hingga 2019, yakni ketidakpastian kebijakan ekonomi di beberapa negara maju, dan meningkatnya jumlah konflik geopolitik.

Menyikapi peringatan

Lantas bagaimana kita menyikapi peringatan Bank Dunia tersebut? Adakah yang perlu diperhatikan dan diantisipasi Indonesia?

Secara umum peringatan Bank Dunia ada benarnya, bahwa risiko mata uang kembali mengancam Asia Tenggara, tanpa kecuali Indonesia. Dalam kasus Indonesia suasana yang mirip dengan krisis 1998 sudah mulai nampak walaupun dengan gradasi yang lebih besar.

Sebagai contoh, profil utang pemerintah per Agustus 2017 mencapai Rp3.825 triliun merupakan sasaran empuk bagi para spekulan untuk memainkan spekulasinya di Indonesia. Apalagi dari jumlah utang tersebut diketahui posisi APBNP 2017 mengalami defisit keseibangan primer sebesar Rp147 triliun, artinya utang yang dibuat hari ini, sebesar Rp147 triliun diantaranya digunakan untuk membayar pokok dan bunga utang dimasa lalu.

Defisit keseimbangan primer ini sebuah titik lemah yang harus diantisipasi agar tidak berdampak pada nilai tukar rupiah. Belum lagi jika kita bicara dalam konteks utang luar negeri.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan II 2017 tercatat US$335,3 miliar (ekuivalen dengan Rp4.510,98 triliun dengan kurs Rp13.453 per dolar AS) atau tumbuh sebesar 2,9% (yoy).

Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan ULN tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik yang melambat dan berlanjutnya kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta.

Pada akhir triwulan II 2017, ULN sektor publik tercatat sebesar US$170,3 miliar (ekuivalen dengan Rp2.291,05 triliun) atau 50,8% dari total ULN atau tumbuh 7,3% (yoy), ‎melambat dari 10% pada triwulan sebelumnya.

Sementara itu, ULN sektor swasta tercatat sebesar US$165,0 miliar (ekuivalen dengan Rp2.219,75 triliun) atau 49,2% dari total ULN, atau turun 1,4% (yoy).

Berdasarkan jangka waktu, posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2017 tetap didominasi oleh ULN jangka panjang. Posisi ULN jangka panjang pada akhir triwulan II 2017 tercatat sebesar US$290,0 miliar (ekuivalen dengan Rp3.901,37 triliun), sedangkan posisi ULN jangka pendek tercatat US$45,3 miliar (ekuivalen dengan Rp609,42 triliun).

Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir triwulan II 2017 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih (LGA).

Pertumbuhan ULN tersebut lebih lambat bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016 yang sebesar 6,8 persen (yoy).

Walaupun Bank Indonesia masih menganggap portfolio utang itu masih relatif aman, namun benih-benih persoalan itu memang ada. Itu sebabnya Bank Dunia mengingatkan agar risiko nilai tukar itu bisa segera diantisipasi. Belakangan nilai tukar rupiah sudah mulai terdepresiasi sebesar 2,86%, dari rerata Rp13.300 melemah mendekati level Rp13.600.

Sedia payung sebelum hujan, peringatan dini Bank Dunia ini diperlukan untuk menjadi catatan penting otoritas moneter. Walapun ada terselip misi dari peringatan Bank Dunia, bahwa Indoensia siap-siap untuk mendapatkan payung utang dari lembaga keuangan internasional itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here