Perjanjian Perdagangan AS-China: Trump Melunak

0
99

Nusantara.news – Setelah pertemuan bulan lalu antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, kedua negara akhirnya mencapai solusi ‘win-win’ dalam perdagangan. AS dan China pada Jumat (12/5) menandatangani sekitar 10 poin kesepakatan perdagangan yang membuka pasar China ke lembaga pemeringkat kredit dan perusahaan kartu kredit AS.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, China juga bakal mencabut larangan impor daging sapi AS dan menerima pengiriman gas alam cair dari AS.

Sebagai gantinya, ayam masak dari China akan diizinkan masuk ke pasar AS dan bank-bank China dapat memasuki pasar AS.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan, kesepakatan tersebut harus mengurangi surplus perdagangan China dengan AS yang selama ini terjadi pada akhir 2017.

Ross mengatakan kepada CNBC (12/5) bahwa AS telah sepakat untuk memperlakukan institusi keuangan China dengan cara yang sama seperti bank Asing lainnya yang ingin membuka kegiatan di AS.

“China, yang bank-bank-nya termasuk yang terbesar di seluruh dunia, jelas menginginkan akses ke pasar perbankan AS,” katanya.

“Selama mereka bisa mematuhi peraturan normal, mereka akan mendapatkan akses itu,” katanya lagi.

Kesepakatan antara kedua negara ekonomi terbesar dunia ini menandai hasil nyata pertama dari perundingan perdagangan yang dimulai bulan lalu, tepatnya dimulai saat pertemuan kedua pemimpin negara tersebut.

Kesepakatan ini dilihat sebagai indikasi bahwa Presiden AS Donald Trump mengadopsi pendekatan yang lebih lembut, tidak lagi konfrontatif dengan Beijing. Berbeda dengan yang dikoarkannya pada saat kampanye Pilpres AS 2016 dan masa awal dia menjabat sebagai presiden AS, dimana Trump telah mengancam untuk memberi label China sebagai “manipulator mata uang” dan memberlakukan tarif perdagangan atas barangnya, namun Trump kemudian melunakkan sikapnya terhadap Cina.

Konon, ini salah satunya berkat pengaruh sang menantu Jared Kushner yang terkenal dekat dengan para diplomat China, selain Kushner juga punya kepentingan bisnis dengan China. Oleh karena itu, Kushner sangat berperan pada pertemuan antara kedua negara tersebut pada bulan lalu yang berlangsung di resor pribadi Trump Mar-A-Lago, Florida.

Trump sebelumnya pernah berusaha menghubungkan pembicaraan tentang perdagangan AS-China dengan kekhawatiran soal ambisi nuklir Korea Utara, dengan mendesak Beijing untuk memberikan tekanan lebih besar terhadap Pyongyang.

Namun, setelah kesepakatan perdagangan tersebut, wakil menteri keuangan China, Zhu Guangyao, mengatakan bahwa masalah ekonomi seharusnya tidak dipolitisasi.

Dalam kampanye sebagai calon presiden AS, Trump terus mengkritik China sebagai pihak yang tidak memberi keuntungan lebih banyak daripada mitra bisnis asing. Trump berjanji untuk membuat China bermain sesuai peraturan (AS).

Kesepakatan perdagangan tersebut sepertinya mengesankan bahwa Trump melakukan janjinya itu. Yaitu karena perjanjian tersebut seperti menguntungkan AS, dengan memberi akses lebih banyak terhadap bisnis keuangan Amerika dan eksportir daging sapi Amerika mengakses kelas menengah China yang sedang tumbuh.

Tapi bukankah China tidak akan memberikan sesuatu secara gratis? Sebagai gantinya, Beijing (dalam perjanjian dagang tersebut) mendapat citra penting dari para mitra globalnya di AS.

Tidak ada lagi kata-kata “manipulator mata uang” atau “mitra dagang tidak adil” dari bibir Trump. Sebaliknya, AS dalam sebuah pernyataan mengakui pentingnya inisiatif One Belt and One Road OBOR) di China, dan bahkan Trump mengatakan akan mengirim perwakilan untuk menghadiri KTT OBOR tersebut, sesuatu yang sebelumnya dihindari pemerintah AS. China juga, dengan perjanjian perdagangan tersebut berhasil menjual produk unggas masak ke AS, sebuah pasar yang juga diinginkan China. [] BBC

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here