Krisis lira Turki (1)

Perlawanan Unik Erdogan Berhasil Tekan Balik Trump

1
308
Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan melawan keras tekanan Presiden AS Donald Trump sehingga mata uang lira mulai menguat kembali setelah mengalami tekanan serius.

Nusantara.news, Jakarta – Turki sedang dilanda krisis moneter, mata uang lira jatuh dari posisi semula 3,78 lira sempat tertekan di posisi terendah 7,24 lira per dolar AS. Namun kepemimpinan Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan yang tegas mampu mengatasi tekanan mata uangnya.

Sebelumnya Presiden Turki sempat menghadapi beberapa uji coba kudeta, namun Erdogan memiliki daya tahan yang luar biasa. Belakangan Erdogan dihantam sentimen Amerika sehingga mata uang lira terdepresiasi hingga 91% sejak Januari 2018, ternyata daya tahan Turki bisa membalikkan keadaan.

Apa yang menyebabkan mata uang turki terpuruk sehingga menimbulkan krisis ekonomi dan bagaimana Erdogan mampu membalikkan keadaan sehingga lira menguat kembali?

Mungkin kalau para sutradara di Hollywood mencermati kisah Erdogan akan digarap dengan serius menjadi sebuah film kepemimpinan yang tegas dan daya juang yang keras dari sosok Erdogan.

Jika dirununt ke belakang, penyebab awal mula terjadinya krisis ekonomi yang menerjang Turki karena ekonomi yang sangat memiliki ketergantungan tinggi pada investor asing. Berawal pada 2011, bank-bank sentral di seluruh dunia ramai-ramai memulihkan negara-negara masing-masing dari krisis keuangan. Tiga tahun sebelumnya, pada 2008, krisis Subprime Mortgage di Amerika mulai menular ke beberapa negara.

Banyak bank di Turki yang kemudian meminjam uang dalam bentuk dolar dari luar negeri untuk dipinjamkan ke perusahaan lokal. Tujuannya membuat perusahaan-perusahaan itu bisa tumbuh cepat setelah krisis tersebut. Sejak itu ekonomi Turki makin bergantung pada pembiayaan dari luar.

Saat ini, nilai mata uang lira Turki terus mengalami pelemahan. Nilai mata uang lira bertengger di angka 6,01 lira per dolar Amerika Serikat atau turun 20% dari hari sebelumnya. Kendati sempat terkoreksi hingga 91%, perlahan namun pasti lira terus menguat setelah sejumlah langkah pemulihan ditempuh.

Lira sempat terpukul lantaran eksposur utang perusahaan turki dalam mata uang dolar AS telah mencapai US$217 miliar. Kalau boleh dibilang, ketergantungan Turki pada mata uang asing lebih parah dari negara-negara emerging market lainnya.

Akibat jatuhnya lira, membuat perusahaan-perusahaan di Turki harus membayar lebih mahal utang-utang mereka. Apalagi sebagian besar utang valas perusahaan tersebut tidak di-hedging.

Situasi ini diperburuk oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang melakukan perang dagang terhadap Turki. Sejumlah produk ekspor Turki dinaikkan bea masuknya dua kali lipat, sehingga sampai di Amerika lebih mahal dari biasanya. Itu sebabnya Erdogan marah besar kepada Trump, dia mengistilahkan,”Trump telah menusuk saya dari belakang.”

Maksud Erdogan, di tengah tekanan fiskal dan moneter, tidak selaiknya Trump malah menabuh gendera perang dagang. Tentu saja proses kejatuhan lira berlangsung semakin cepat.

Langkah Erdogan

Sejak kejatuhan lira, Erdogan langsung memberi reaksi keras terhadap tekanan Amerika Serikat yang dinilai melemahkan mata uangnya. Ia mengumumkan akan memboikot sejumlah produk elektronik Amerika masuk Turki.

Di antaranya, adalah iPhone keluaran perusahaan yang berbasis di California, Apple. Termasuk Coca Cola, Fanta, dan produk AS lainnya.

“Ada serangan ekonomi ke Turki. Awalnya mereka melakukan diam-diam, kini mereka blak-blakan. Kami bisa melakukan dua kebijakan : ekonomi, maupun politik,” ujar tegas Erdogan.

“Kementerian Turki bekerja siang dan malam, kami akan memboikot barang elektronik dari Amerika. Mereka punya iPhone, tapi kami bisa pakai Samsung. Kami juga punya merk lokal, Venus Vestel, kami akan memakainya,” katanya lagi.

Erdogan juga menjanjikan, bahwa gertakan Amerika melemahkan ekonomi Turki tak akan membuatnya gentar. “Apa yang kau lakukan (Amerika)? Apakah tujuan anda melakukan ini? Kamu harus tahu bahwa karakter bangsa kami bukanlah bangsa yang mudah bimbang,” gertak Erdogan merujuk Amerika.

Ancaman boikot Erdogan ini langsung membuat nilai saham Vestel melejit. Vestel, adalah perusahaan elektronik asal Turki yang berdiri sejak 1984. Terkenal sebagai salah satu produsen televisi terbesar di Eropa, perusahaan ini akhirnya juga masuk ke segmen smartphone, dengan mengeluarkan merk Venus.

Serangan ekonomi dari Amerika ke Turki menjadi puncak ketegangan kedua negara ini beberapa tahun terakhir.

Selain melakukan aksi melawan, Erdogan juga telah menyiapkan sejumlah langkah corrective action guna melawan Amerika. Pemerintah Turki menyebutkan telah menyusun rencana langkah ekonomi demi meredakan kekhawatiran investor sehubungan dengan jebloknya nilai tukar mata uangnya, Lira. Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak menyatakan bahwa pelemahan Lira adalah sebuah bentuk serangan.

Oleh karena itu, pemerintah telah mempersiapkan rencana langkah yang mulai diterapkan pada Senin pagi ini. “Mulai Senin pagi dan seterusnya, institusi-institusi kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan akan mengumumkannya kepada pasar,” kata Albayrak Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar online Hurriyet belum lama ini.

Namun Albayrak tak menjelaskan lebih lanjut terkait langkah-langkah yang dimaksud. Yang pasti pemerintah telah mempersiapkan rencana untuk bank dan sektor ekonomi riil, termasuk usaha kecil hingga menengah yang paling terdampak oleh fluktuasi valuta asing.

“Kami akan mengambil langkah yang diperlukan dengan bank-bank dan otoritas perbankan kami dengan cara yang cepat,” kata Albayrak seperti dikutip oleh Reuters. Dia menepis anggapan bahwa pemerintah Turki kemungkinan melakukan intervensi dalam rekening-rekening bank berdenominasi Dolar maupun melakukan konversi terhadap deposito-deposito menjadi Lira.

Pada kesempatan yang sama, Albayrak mengatakan pentingnya kebijakan anggaran untuk mendukung dan memperkuat kebijakan moneter bank sentral. “Kami akan memasuki periode yang kuat dalam hal kebijakan fiskal,” katanya.

Dalam sebuah pernyataan, otoritas perbankan Turki, Banking Regulation and Supervision Agency (BBDK), menyatakan bahwa pihaknya membatasi transaksi pertukaran (swap) valuta asing bank.

Sementara itu, pertikaian diplomatik Turki dengan Amerika Serikat semakin membebani nilai tukar lira terhadap dolar AS. Dua sekutu NATO ini telah berselisih mengenai berbagai masalah, mulai dari isu kepentingan di Suriah, ambisi Ankara untuk membeli sistem pertahanan Rusia, dan baru-baru ini kasus Andrew Brunson, seorang pendeta evangelis yang ditahan di Turki karena dugaan keterlibatan dalam upaya kudeta dua tahun lalu.[]

1 KOMENTAR

  1. […] Sementara itu, pertikaian diplomatik Turki dengan Amerika Serikat semakin membebani nilai tukar lira terhadap dolar AS. Dua sekutu NATO ini telah berselisih mengenai berbagai masalah, mulai dari isu kepentingan di Suriah, ambisi Ankara untuk membeli sistem pertahanan Rusia, dan baru-baru ini kasus Andrew Brunson, seorang pendeta evangelis yang ditahan di Turki karena dugaan keterlibatan dalam upaya kudeta dua tahun lalu.[nn] […]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here