Perlindungan TKI Sangat Lemah

0
149

ADELINA Lisao, tenaga kerja Indonesia asal NTT, menemui ajalnya di Malaysia dengan cara sangat biadab. Majikannya menyiksa Adelina dengan memaksanya tidur di teras rumah bersama anjing jenis Rottweiler.  Dia meregang nyawa karena diterlantarkan majikannya. Hasil post-mortem menyatakan ada bekas luka gigitan binatang yang tidak diobati sehingga menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh. Juga karena anemia, kekurangan hemoglobin, dan malnutrisi akibat penelantaran sekian lama.

Adelina, buruh kita di Malaysia, nasibnya tak seindah namanya. Deritanya ikut menyeret kita pada kepedihan. Kepedihan, betapa mengubah nasib sungguh tidak mudah.

Derita Adelina, derita kita juga. Bangsa ini, kalau masih punya rasa, mestinya ikut tersiksa dengan siksaan yang dialami Adelina. Karena, dia bangsa kita. Karena keteledoran kita tak mampu memberi pekerjaan yang layak baginya di sini, sehingga dia harus menyeberangi samudera untuk merajut masa depan yang ternyata malah lebih buruk.

Derita Adelina, itu baru satu dari sejuta. Negeri ini mempunyai jutaan Adelina lain. Bagi negeri ini, soal Tenaga Kerja Wanita (TKW) seperti benang kusut. Cerita penyiksaan, pemerkosaan, penindasan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, terutama TKW, bagai kisah klasik.

Banyak yang mendesak pengiriman TKW ke luar negeri dihentikan.Tapi, persoalannya tidak sesederhana itu. Kemiskinan dan harapan untuk mengubah nasib membuat siapa pun berani menerjang risiko.

Seandainya mereka terserap oleh lapangan kerja di dalam negeri dengan penghasilan yang layak, dengan sendirinya arus TKI ke luar negeri itu akan terhenti. Seandainya industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi terjadi merata, arus itu juga akan melambat. Seandainya pertanian dikembangkan konsepsional, arus itu pun sedikit terhambat.

Namun, pertumbuhan lapangan kerja di negara berkembang tidak pernah berbanding lurus dengan pertumbuhan angkatan kerja. Lapangan kerja adalah kesempatan langka, bahkan di negara dengan pertumbuhan ekonomi yang normal sekalipun. Apalagi bagi Indonesia yang krisis ekonominya tak kunjung sembuh.

Karena itu TKI yang hendak dikirim harus mempunyai kemampuan dan ketrampilan kerja yang memadai. Soal ketrampilan dan kemampuan, artinya kita bicara mutu SDM. Dan inilah persoalan terbesar yang kita hadapi.

Persoalan TKI ini selalu hanya kita lihat pada hilirnya saja. Kita hanya melihat bahwa ada TKI teraniaya, lalu solusinya: Hentikan pengiriman TKI. Sesederhana itulah cara berpikir kita melihat TKI.

Kita tak pernah memandang persoalan TKI dari hulunya. Setiap warga negara berhak atas pekerjaan apa pun yang layak dengan kemanusiaan. Bekerja ke luar negeri juga layak dengan kemanusiaan. Karena itu pekerjaan legal. Tugas pemerintahlah untuk membuat semua bidang pekerjaan itu menjadi layak.

Masalah yang dihadapi TKI kita adalah rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan kerja, sehingga mereka tidak terserap di sektor formal. Sebagian besar TKI, khususnya TKW, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sementara para pekerja dari Filipina dan Korea mampu menerima pekerjaan sebagai tenaga profesional.

Inilah yang tidak pernah serius ditangani pemerintah sejak dulu. Pendidikan secara umum makin hari makin terpinggirkan. Pendidikan ketrampilan bagi calon tenaga kerja tidak pernah ditangani dengan profesional. Kalau pun ada, jumlah lulusannya tidak seberapa dibandingkan jumlah TKI setiap tahun.

Pendidikan inilah yang mesti dibenahi. Setelah itu, strategi penempatan TKI pun harus tepat. Jangan melulu mengandalkan strategi dagang para perusahaan pengerah TKI (PJTKI), karena pemerintah harus melihat lebih banyak aspek. PJTKI hanya melihat aspek keuntungan bisnisnya, aspek keamanan TKI dan lain-lain kurang jadi kepedulian mereka.

Setelah itu, pemerintah pun harus mengevaluasi sistem perlindungan TKI selama ini.  Sebab, berbagai kasus yang terjadi menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem perlindungan itu.

Masalah TKI ini adalah masalah yang sangat kompleks. Diperlukan konsep yang sangat matang sehingga martabat manusia yang bekerja di situ benar-benar terjaga. Jika tidak, episode lain dari kisah Adelina ini akan terus terulang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here