Tantangan dan Ancaman Briket Arang Batok Kelapa (2)

Perlu Dukungan Regulasi Untuk Mendatangkan Devisa Lebih

0
141
Yogi Abimanyu saat terpilih sebagai Ketua Perpaki, menggantikan pendahulunya Daniel Pesik. Perpaki tengah berjuang agar bisnis briket arang batok kelapa menjadi bisnis primadona UMKM berbasis ekspor lewat bantuan regulasi pemerintah.

Nusantara.news, Jakarta – Bisnis briket arang batok kelapa 100% menghasilkan devisa, karena seluruh produk briket arang itu diekspor ke manca negara. Ratusan juta dolar AS, atau triliunan rupiah bisa terserap, bagi mereka yang menekuhi bisnis ini. Tapi apa saja peluang dan tantangannya?

Selama ini kita memperlakukan buah kelapa hanya untuk diambil airnya yang segar, dagingnya untuk aneka bumbu masak. Kita melihat buah kelapa hanya untuk kebutuhan lokal, sisanya dibuang. Padahal banyak sekali peluang bisnis yang bisa mendatangkan dolar AS jika sedikit jeli menangkap pesan hikmah dari buah kelapa.

Briket arang batok kelapa kini sudah menjadi konsumsi masyarakat global, terutama para pengguna di Jazirah Arabia, China, Eropa, Amerika dan Benua Australia. Apalagi kualitas briket arang batok kelapa Indonesia merupakan yang terbaik di dunia, kemungkinan karena pengaruh tanah di Indonesia yang subur karena berada dalam ring of fire gunung berapi. Sehingga Indonesia kaya akan produk buah kelapa.

Buah kelapa dikenal sebagai buah ajaib, mulai dari batang, akar, daun, lidi, buah, bungkil, batok, hingga sabutnya berguna bagi manusia. Briket arang hanya mengandalkan batok kelapa yang seringkali dibuang oleh para penjual es kelapa, padahal di balik batok kelapa itu ada bisnis yang bisa menghasilkan dolar AS.

Briket arang batok kelapa kini banyak dipakai untuk bahan bakar ramah lingkungan dan sangat berkualitas, arang batok kelapa Indonesia masuk grade 1 di dunia. Briket arang batok kelapa sering digunakan untuk pembakaran barbekyu dan shisha. Sementara arang batok kelapa bisa juga digunakan sebagai carbon active yang dapat digunakan untuk pengolahan air (water treatment), penjernih udara (air purification) dan penyulingan emas (gold recovery).

Karena itu proses produksi briket arang batok kelapa dari waktu ke waktu juga mengalami modernisasi dan bahkan sudah mengarah ke industri 4.0. Yakni digitalisasi produksi.

Tantangan besar

Beberapa masalah yang dihadapi pengusaha briket arang batok kelapa.

Meskipun demikian, lanjut Abimanyu, ada sejumlah kendala yang tidak ringan yang itu menjadi tantangan besar ke depan.

Pertama, sedikitnya masih ada defisit suplai sebanyak 209.200 ton raw arang asalan di tanah air. Defisit itu seharusnya bisa menambah pendapatan devisa senilai Rp2.21 triliun dan berpotensi melibatkan 251.039 tenaga kerja. Siapa yang bisa mengisi defisit tersebut, maka dolar akan mengalir ke kantongnya.

Kedua, Indonesia masih terperangkap ekspor raw arang asalan yang nilai devisanya rendah karena masih berupa raw material. Total ekspor raw arang asalan mencapai 273.111 ton, sementara ekspor high value produk arang hanya 22.634 ton saja.

Ketiga, oleh karena mereka yang mengekspor raw arang asalan berebut dengan mereka yang mengubahnya menjadi karbon aktif dan briket arang batok kelapa, sehingga harga raw arang asalan menjadi naik. Hal ini membuat harga ekspor kita tidak kompetitif akibat sudah mahal beli diawal.

Keempat, jika pebisnis mau gampangan hanya mengekspor raw arang asalan, maka lama kelamaan memakan mereka yang mengolah raw arang asalan menjadi karbon aktif dan briket arang batok kelapa. Jika ini dibiarkan, tidak ada regulasi yang melindungi, maka pada 2032, seluruh industri arang dalam negeri akan terancam punah.

Jika tidak ada perlindungan regulasi, maka pada 2032 briket arang batok kelapa akan punah.

Hal itu dikarenakan diekspor gelondongan, sehingga ini menguntungkan buyer internasional yang mengolah di negeri asalnya. Mereka yang mendapat devisa dan menyerap tenaga kerja.

Karena itu dalam skenario yang diusulkan Perpaki kepada pemerintah, bagaimana ekspor raw arang asalan diturunkan secara perlahan namun pasti. Sehingga pada 2024 ekspor tersebut benar-benar nol persen.

Pada saat yang sama ekspor briket arang batok kelapa yang sudah mendapat sentuhan nilai tambah digenjot, hingga pada 2024 mencapai 300.000 ton dan menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi.

Skenario yang ditawarkan Perpaki agar briket arang batok kelapa tidak punah pada 2032.

Kelima, banyak bermunculan pabrik ilegal briket arang batok kelapa yang dikelola asing. Mereka pura-pura kawin dengan warga lokal lalu mendirikan pabrik, sehingga devisa dan tenaga kerja mereka yang menikmati

Keenam, seiring dengan berkembangnya bisnis briket batok kelapa maka muncullah aneka produk mesin dan teknologi penunjang buatan anak negeri. Kini mesin itupun sudah dibajak dan diperbanyak oleh pihak asing.

Ketujuh, adanya kekosongan regulasi yang melindungi bisnis briket arang batok kelapa yang menyebabkan defisit bahan baku, pabrik ilegal yang dikuasai asing, mesin dan teknologi yang dibajak asing, kebun kelapa rusak karena minimnya peremajaan.

Dari berbagai tantangan tersebut di atas, industri briket arang batok kelapa nyata-nyata membutuhkan perlindungan dari pemerintah. Perlindungan apakah yang diinginkan?

Pertama, dibutuhkan segera regulasi yang melindungi keberlanjutan (going concern) bisnis arang batok kelapa. Terutama perlindungan akan pasokan bahan baku agar tidak didominasi oleh ekspor raw material. Bila perlu ekspor raw material dihentikan agar memiliki nilai tambah, menghasilkan devisa lebih besar, dan menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Kedua, larang pabrik-pabrik ilegal asing yang bekerja menggunakan proxy anak bangsa. Pura-pura kawin dengan wanita Indonesia, tapi mereka bekerja untuk negara tujuannya.

Ketiga, gencarkan sidak penjiplakan mesin dan teknologi pembuatan briket arang batok kelapa karena telah merugikan bisnis ini.

Keempat, buat regulasi yang tegas bahwa bisnis briket arang batok kelapa dinisbahkan untuk UMKM, sebab kalau dibebaskan ujung-ujungnya dicaplok oleh konglomerat. Biarkan bisnis ini menjadi ciri khas UMKM unggul Indonesia.

Kelima, buat regulasi yang memastikan peremajaan produksi buah kelapa sebagai kepastian pasokan raw material di kemudian hari. Karena tidak ada peremajaan kita mengalami defisit ekspor sampai 209.200 ton raw arang asalan.

Dalam situasi rupiah yang terdepresiasi hingga 10% terhadap dolar AS, dan Bank Indonesia sudah kehilangan cadangan devisa sebesar US$14 miliar sejak Januari hingga Agustus 201, tampaknya bisnis briket arang batok kelapa bisa dijadikan salah satu solusi primadona.

Selain mendatangkan devisa, menyerap tenaga kerja hingga 1 juta orang, dan yang paling penting mengangkat harkat martabat nama bangsa. Dan yang lebih penting adalah mengangkat nama UMKM sebagai penyelamat ekonomi bangsa yang sedang dilanda krisis ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here