Pernyataan G7 tentang Laut Cina Selatan dan Timur Menyinggung China

0
44

Nusantara.news, Beijing Isu geopolitik dan geostrategis kawasan Laut China Selatan dan Timur yang diangkat dalam pertemuan negara-negara G7 di Sisilia, Sabtu (27/5) lalu, membuat China sangat tersinggung. China menyatakan sangat tidak puas dengan KTT G7 yang menyebut-nyebut isu Laut China Selatan dan Timur dalam pernyataannya.

Juru bicara kementerian luar negeri China, Lu Kang, menyerukan agar Kelompok Tujuh (G7) dan sekutunya berhenti membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab terkait Laut China Selatan dan Timur. G7 terdiri dari Amerika Serikat, Perancis, Kanada, Jerman, Inggris, Italia dan Jepang.

“China telah berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan dengan semua negara yang terlibat melalui negosiasi, sambil menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan dan Timur,” kata Lu Kang dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (28/5) sebagaimana dilansir Reuters.

China berharap G7 dan negara-negara lain menahan diri, tidak mengambil posisi yang menyudutkan China soal Laut China Selatan dan Timur, dan agar menghormati sepenuhnya upaya negara-negara di kawasan dalam menangani perselisihan. “Berhenti membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab,” kata Lu Kang.

Dalam komunike mereka pada hari Sabtu, para pemimpin G7 mengatakan bahwa mereka prihatin dengan situasi di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur. Mereka juga menyerukan demiliterisasi bagi  wilayah-wilayah yang disengketakan.

China selama ini berselisih dengan Jepang mengenai sekelompok pulau yang tak berpenghuni di Laut China Timur. Sementara klaim Beijing atas sejumlah pulau di Laut Cina Selatan juga ditentang oleh Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam, serta Taiwan.

Amerika Serikat telah mengkritik pembangunan pulau-pulau oleh China dan pembangunan fasilitas militer di Laut Cina Selatan. AS khawatir mereka dapat menggunakannya untuk membatasi jalur bebas  dan memperluas jangkauan strategis pihak Beijing.

Awal pekan ini, sebuah kapal perang angkatan laut AS melakukan latihan navigasi di dekat Mischief Reef di Kepulauan Spratly yang saat ini tengah disengketakan.

Pada Rabu (24/5) lalu, kementerian pertahanan (AS) atau Pentagon memberikan pernyataan bahwa dua jet tempur China telah mencegat pesawat pengintai milik Angkatan Laut AS di atas Laut China Selatan.

Menurut Pentagon apa yang dilakukan jet tempur China merupakan tindakan berbahaya dan tidak profesional. Pentagon mengaku sudah menyampaikan keprihatinan mereka kepada pihak China.

“Kami terus meninjau fakta-fakta kejadian ini dan akan menyampaikan keprihatinan kami melalui saluran yang sesuai dengan pemerintah China,” kata juru bicara Angkatan Laut Pentagon, Gary Ross, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (28/5).

Kementerian Pertahanan China mengatakan, klaim adanya jet tempur China yang mencegat pesawat AS sangat tidak akurat. “Pilot kami mengoperasikan jet tempur dengan cara yang aman dan profesional.”

Kementerian itu menambahkan, militer AS harus mengambil langkah-langkah untuk menghindari kegiatan berisiko dan militer China telah diperintahkan untuk melindungi kedaulatan dan keamanan wilayah China.

Kawasan Laut China Selatan dalam beberapa tahun ini kerap menimbulkan benturan di lapangan, baik antara militer China dan Amerika, maupun antara China dan Jepang. Kawasan perairan ini memang layak diperebutkan oleh negara-negara dengan kepentingan dan kekuatan ekonomi besar di dunia, yaitu AS dan China, sebab kawasan ini merupakan jalur perdagangan internasional dengan nilai ekonomi sekitar USD 5 triliun per tahun.

China merasa perlu menguasai Laut China Selatan dan Timur untuk menguatkan eksistensinya sebagai negara dengan ekonomi paling kuat di kawasan Asia Pasifik. Amerika juga tak mau kalah dengan China karena merasa jalur tersebut merupakan jalur internasional dan banyak kepentingan, baik ekonomi maupun politik, AS di kawasan tersebut. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here