Pernyataan Trump Hancurkan Suasana Natal di Bethlehem

0
750
Patriark Latin Yerusalem Pierbattista Pizzaballa tiba di Gereja Kelahiran Tuhan, yang dibangun di atas tempat yang dipercaya orang Kristen sebagai tempat Yesus dilahirkan pada malam Natal, di Tepi Barat Kota Bethlehem, Minggu, 24 Desember 2017.

Nusantara.news, Bethlehem – Ini adalah malam natal yang tertunda di kota bersejarah tempat Nabi Isa Almasih atau Yesus dilahirkan. Sepanjang hari Minggu aksi demonstrasi meletus di sejumlah wilayah sekitar Yerusalem, termasuk Bethlehem yang berada di Selatan Yerusalem.

Warga Palestina hampir setiap hari melibatkan diri dalam aksi unjuk rasa menentang keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bethlehem yang biasa ramai dikunjungi turis asing di setiap malam Natal kini beranjak sepi. Hanya terlihat rombongan kecil dari berbagai negara yang datang berkunjung untuk mengenang kelahiran Kristus.

Sebagian rombongan lainnya tertahan di sudut-sudut kota Yerusalem yang diwarnai bentrokan antara warga Pelestina dan polisi Israel. Meskipun tidak ada aksi kekerasan di hari Minggu, namun para pejabat Palestina enggan memeriahkan suasana Natal sebagai bentuk protes atas keputusan Trump. Mendung yang menggelayut dan ramalan datangnya hujan turut mengurangi keceriaan libur Natal.

Claire Dailout, turis asal Perancis, mengatakan dirinya menyesalkan pernyataan Presiden Donald Trump yang memicu kemarahan warga Palestina dan memicu penentangan dunia Internasional, sehingga suasana Natal di Tanah Suci Bethlehem tidak berjalan sebagaimana yang dia harapkan.

“Keputusan seseorang (Trump) tidak boleh mempengaruhi semua (yang terjadi di) Tanah Suci,” kutuk Claire. :Yerusalem adalah milik semua orang. Anda tahu, dan akan selalu seperti itu, apa pun yang dikatakan Trump.”

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada 6 Desember lalu Trump mengumumkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibukota Israel. Bahkan akan memindahkan kantor Duta Besar AS di Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan Trump itu memicu kemarahan warga Palestina yang banyak di antaranya bermukim di Yerusalem dan sekitarnya.

Bahkan dalam keputusannya, Trump secara jumawa menyebutkan Yerusalem sebagai satu kesatuan ibu kota Israel tidak dapat dinegosiasikan. Persoalannya, keputusan Trump itu bertentangan dengan klaim Palestina atas Yerusalem Timur sebagai ibu kota negaranya.

Umumnya orang Palestina, baik yang muslim maupun Nasrani, menyebut keputusan Trump jelas memihak Israel dan tidak adil kepada bangsa Palestina. Tercatat pula 128 di antara 193 anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak keputusan Trump dalam resolusi yang digelar Majelis Umum PBB.

Keputusan Trump itu memicu kegaduhan politik (political unrest) di wilayah Israel-Palestina yang saling berhimpitan. Bentrokan pecah di sejumlah wilayah. Termasuk bentrok sepanjang hari di dekat Bethlehem tempat kelahiran Yesus dirayakan di setiap liburan natal.

Menjelang dini hari, ratusan orang berkumpul di Manger Square di dekat pusat perayaan Natal di kota itu. Tampak Marching Band anak-anak muda Palestina dan anak-anak muda lainnya yang berseragam Pramuka. Di sela-sela atribut Natal yang bertebaran terselip spanduk yang memprotes Deklarasi Yerusalem oleh Trump.

Walikota Bethlehem Anton Salman mengatakan bahwa perayaan Natal sengaja tidak dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya sebagai bentuk protes atas keputusan Trump. “Kami memutuskan untuk membatasi perayaan Natal ke ritual keagamaan sebagai ungkapan penolakan dan kemarahan serta rasa simpati yang mendalam atas jatuhnya korban dalam demonstrasi baru-baru ini,” jelas Anton Salman.

Di seberang alun-alun terlihat poster besar bertuliskan “Manga Square Appeal” dan tulisan bertagar #handsoffjerusalem.

“Kami ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa kita adalah orang-orang yang layak mendapatkan kehidupan, layak mendapatkan kebebasan kita, layak mendapatkan kemerdekaan kita, layak Yerusalem sebagai ibu kota kita,” ucap seseorang yang ada di sana.

Pendeta Mgr. Pierbattista Pizzaballa, administrator apostolic Yerusalem, ulama Katholik terkemuka di Tanah Suci, tampak melewati sebuah pos penjagaan militer Israel untuk memasuki Bethlehem dari Yerusalem. Limosin hitamnya tampak dikawal oleh sekelompok pria bersepeda motor gede, beberapa di antaranya mengenakan topi Santa Claus warna merah.

Pizzabala yang sebelumnya dikenal keras menolak keputusan Trump tampak enggan berbicara tentang politik. Dia hanya melambaikan tangan kepada banyak orang, berjabat tangan dan memeluk para simpatisan saat dia berjalan ke Gereja tempat kelahiran Yesus, tempat dia akan memimpin misa tengah malam.

“Saya sudah sampaikan pesannya. Sekarang saatnya untuk menikmati,” ujar Pizzaballa. “Kami sebagai orang Kristen akan nikmati, terlepas dari semua kesulitan yang kami miliki. Selamat Natal.”

James Thorburn, pemeluk Kristen taat asal London mengaku sengaja datang, selain menikmati liburan juga ingin menunjukkan solidaritas dengan penduduk Bethlehem. “Saya tahu banyak orang yang membatalkan datang ke sini. Tapi saya merasa harus datang sebagai bentuk dukungan saya kepada warga Palestina.”

Artinya, keputusan Trump bukan saja memicu kemarahan warga Palestina, merusak proses perundingan damai Israel-Palestina yang masih terus diupayakan,  tapi juga mengucilkan Amerika dari pergaulan dunia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here