Perputaran Uang Lebaran 2017 Rp167 Triliun, Naik Rp19 Triliun dari Lebaran 2016

0
387
Pada saat mudik lebaran, semua pihak mengumpulkan uang tunai untuk dibawa ke kampung halaman, berbagi dengan bapak, ibu, ponakan, paman, bibi, teman, nenek, kakek, dan tentu saja berbelanja panganan dan pakaian di desa masing-masing. Semua itu menciptakan pergeseran ekonomi dari kota ke desa, sebuah tradisi pemerataan ekonomi yang cerdas

Nusantara.news, Jakarta – Perputaran uang pada Lebaran 2017 atau Idul Fitri 1438 Hijriyah mencapai sebesar Rp167 triliun, naik Rp19 trilun dibanding Lebaran 2016 yang mencapai sebesar Rp146 triliun.

Angka ini diperoleh dari penyediaan uang oleh Bank Indonesia (BI) untuk mendukung perekonomian selama bulan puasa hingga lebaran 2017 ini.

Direktur Departemen Pengelolaan BI Decymus mengungkapkan biasanya peningkatan peredaran uang terjadi sejak awal Ramadan. “Proyeksi kami Rp 167 triliun, satu bulan polanya memang teratur,” kata Decymus di Gedung BI, beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, untuk peredaran uang memiliki pola yang unik setiap bulan, minggu hingga harian. “Biasanya kasir kami sudah hafal per tanggal, akhir bulan atau awal bulan uang kartalnya tinggi, karena baru gajian lalu masuk ke minggu kedua dan ketiga mulai turun,” imbuh dia.

Dia mengatakan, untuk lebaran biasanya peredaran bisa lebih lama. Apalagi, kali ini libur mencapai 9 hari. Kemudian masyarakat juga mulai mengumpulkan pecahan kecil untuk amplop lebaran, ini juga akan mempengaruhi.

Selama 10 tahun terakhir selalu terjadi peningkatan pada peredaran uang. Tahun ini uang yang diedarkan BI puncak tertinggi akan mencapai Rp691 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi‎ mengatakan, naiknya kebutuhan uang di masyarakat (outlow) disebabkan oleh 4 faktor. Pertama, adanya pembayaran gaji ke-13 dan gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR).

Kedua, lanjut dia, karena banyaknya jumlah hari libur di mana masyarakat akan membelanjakan uang mereka. Ketiga, karena bertepatan pula dengan liburan sekolah. Dia mengatakan, liburan sekolah membuat kebutuhan akan uang semakin tinggi.

Keempat, karena adanya titik-titik penukaran uang yang disediakan oleh BI dan perbankan lain. Banyaknya titik-titik penukaran mempercepat masyarakat dalam mendapat uang.

“Dengan memperhitungkan 4 faktor dan selain meningkatnya transaksi ekonomi, diperkirakan penarikan perbankan, dari seluruh kantor BI mencapai Rp167 t‎riliun,” imbuh dia.

Dominasi mudik

Tak bisa dipungkiri, fenomena mudik lebaran adalah bagian sejarah bangsa Indonesia yang terus berulang sepanjang tahun. Ritual tahunan ini menjadi momen bagi banyak pihak untuk bertemu dan melakukan banyak hal. Banyak pihak yang terlibat dalam proses ini, mulai dari perbankan, pemerintah, swasta, BUMN dan lain-lain.

Perbankan dengan penyediaan uang tunai, pemerintah dalam hal perbaikan infrastruktur terutama jalan dan jembatan yang menjadi penghubung ke tujuan mudik, swasta dengan penyediaan aneka kebutuhan lebaran, dan lain-lain. Begitu banyak pihak yang terlibat dalam mudik ini menjadikannya sebagai proyek nasional yang rutin setiap tahun.

Tentu saja kalau kita bedah lebih jauh, mereka yang terlibat pada ritual tahunan ini adalah para supir angkutan, sopir bus antar kota, para awak pesawat dan para awak kapal laut.

Mulai dari ujung barat sampai ujung timur, bagi orang yang punya kampung halaman akan mempunyai keinginan untuk kerkumpul dengan keluarga di hari Idul Fitri. Fenomena yang hanya bisa dijumpai setahun sekali ini adalah peristiwa bersejarah. Karena ada yang memanfaatkan momen pulang kampung ini untuk sekalian menikah, sekalian pesta, sekalian menyunatkan anak dan sekalian-sekalian yang lain.

BI selalu mengumumkan perputaran uang ini begitu terasa sejak memasuki bulan puasa. Kita bisa menyaksikan sendiri, kalau pergi ke pasar mejelang puasa, selama puasa dan menjelang lebaran, jangankan untuk mencari harga termurah, untuk bisa lewat dari satu kios ke kios sebelahnya saja mengalami kemacetan yang luar biasa. Perlu waktu cukup lama, saking banyak nya orang yang berbelanja.

Inilah yang kemudian disebut sebagai fenomena luar biasa mudik lebaran. Dalam masa ini lah kemudian jumlah uang beredar dan inflasi–dua dari beberapa variabel penting makroekonomi–mengalami kenaikan. Dominasi uang beredar memang banyak tersedot pada periode ini.

Jumlah uang beredar selama ramadhan hingga lebaran 2017 tercatat sebesar Rp167 triliun. Inilah salah satu berkah mudik lebaran. Ada pergerakan uang dari kota ke desa. Dan ini merupakan faktor penggerak perekonomian yang menyebar ke seluruh wilayah. Sehingga terjadi redistribusi pendapatan dan ini akan menggenjot laju pertumbuhan ekonomi.

Sebagai konsekuensi tumpahnya uang dari pusat ke daerah-daerah dimana para pemudik singgah, maka menciptakan suplai dan demand atas barang yang dijajakan. Dengan kata lain terjadi kenaikan harga. Namun Menko Perekonomian Darmin Nasution memastikan bahwa Pemerintah terus menjaga agar inflasi tetap terkendali, sehingga realiasi inflasi selama Mei 2017 hanya 0,35% dan diperkirakan pada Juni 2017 sebesar 0,4%. Jadi masih dalam rentang kendali.

Inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan. Inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai Inflasi.

Dengan jumlah uang beredar yang sangat tinggi, maka secara teori hal ini akan memicu inflasi. Banyak pengamat memperkirakan puncak inflasi akan terjadi pada saat lebaran dan menjelang akhir tahun, sehingga pada momen itu masa-masa yang perlu diwaspadai. Peningkatan inflasi menjelang lebaran dan saat lebaran terjadi karena peningkatan permintaan kebutuhan pokok.

Menurut Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, inflasi sepanjang Mei-Juni didorong oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan dengan andil 0,38%. Lalu, makanan jadi, minuman, dan tembakau sebesar 0,16%, serta transportasi dan komunikasi 0,17%.

Demikian juga inflasi bisa makin meningkat seiring dengan ritual tertentu selama lebaran ini. Misalnya fenomena bagi-bagi amplop “angpao’ kepada saudara handai taulan, fenomena beli baju baru, fenomena membuat kue lebaran dan makanan lainnya, fenomena rumah baru, gadget baru, penampilan baru dan semuanya yang serba baru menyambut lebaran. Termasuk likuiditas yang terkuras semasa mudik lebaran.

Bukannya hak ini tidak boleh, akan tetapi jika dilakukan secara tidak wajar dan berlebihan hal itu yang mengundang inflasi meningkat, sehingga tak heran jika mulai harga gula dan sembako sampai bahan bangunan pun ikut-ikutan naik. Hanya orang-orang yang terkendali nafsunya yang tidak ikut menyumbang inflasi, yaitu orang-orang yang menghayati puasa bulan Ramadhan. []

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here