Persaingan Tak Sehat yang Menjerat Basuki Berurusan dengan KPK

0
1299
Peternakan rakyat sapi India yang tidak hyginis

Nusantara.news, Jakarta – Karena memiliki kesamaan kepentingan, Basuki Hariman (BH) yang bisnis impor sapinya terganggu, akhirnya ikut menyukseskan gugatan uji materi UU No.41 Tahun 2014 ke MK yang  diajukan oleh  Dewan Peternakan Nasional.

Menyukseskan? Itu istilah yang biasa digunakani kalangan pengusaha. Artinya ikut membiayai misi penting agar bisnisnya lancar. Gugatan uji materi yang diajukan Dewan Peternakan Nasional (DPN) adalah misi penting bagi kelancaran bisnis Basuki Hariman. Maklum, di tangannya ada 20 perusahaan importir yang hidup matinya sangat bergantung  2 pasal UU No.41 Tahun 2014 yang digugat DPN

Selama ini Basuki Hariman memang hidup dari mengimpor sapi Australia. Seiring berlakunya asal sapi impor yang tidak lagi berbasis negara bebas penyakit mulut dan kuku (PMK), bisnis impor sapi Basuki menjadi tersendat.  Karena sapi India yang lebih murah cepat membanjiri pasar. Peternak lokal pun menjerit karena kalah bersaing soal harga. (Baca : Patgulipat Mafia Impor Sapi yang Menjerat Patrialis Akbar)

Persaingan Dagang Daging

Sejauh ini, India dan Australia ditambah satu lagi Brasil, memang  senantiasa bersaing dalam memenuhi kebutuhan daging sapi dunia. Terakhir India tampil sebagai juara, diikuti Brasil sebagai runner-up dan Australia juara tiga. Dari ketiga negara ini mereka menggelontorkan 3 juta ton daging sapi ke pasar dunia.

Berdasarkan catatan impor 2013, India memasok 1,56 juta ton, diikuti Brasil 1,18 juta ton dan Australia 1,07 juta ton ke pasar dunia.  Harga sapi ketiga negara ini lebih murah dari sapi Indonesia karena jutaan sapi mereka tidak dikandangkan, melainkan dibiarkan merumput liar, sehingga mengurangi biaya pencarian pakan ternak dan biaya perawatan kandang.

Adu soal harga, India tetap pemenangnya. Karena harga ekspornya hanya USD 2,88 per Kg atau setara Rp36.884 per Kg. Harga sapi Brasil harganya jauh lebih mahal, mencapai USD4,52 atau Rp57.856 per Kg, dan harga sapi Australia paling mahal, dengan harga USD4,73 per Kg atau Rp60.544 per Kg.

Murahnya harga daging sapi India ini rupanya yang dikawatirkan Basuki Hariman selaku penyuplai sapi asal Australia dan para peternak lokal yang harga sapi per kilogramnya jauh lebih mahal dari harga sapi India dan Australia. Sebab harga daging sapi lokal mencapai Rp95.000 per Kg.

Oleh karenanya, dalam pengakuannya sebagaimana dirilis sejumlah media, Basuki Hariman mengakui bahwa bisnisnya sangat bergantung kepada putusan uji materi Undang-Undang No 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Maka, apabila uji materi dikabulkan, satu kompetitornya India yang secara negara belum bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) dapat disingkirkan, dan tentu saja, bisnisnya tidak tersendat.

“Peternak lokal ini pada collapse karena masuknya daging India terlalu banyak, termasuk saya juga. Saya impor daging dari Australia yang jauh lebih mahal. Ini mengganggu bisnis saya,” beber Basuki menjelang diperksa KPK, Jumat (27/1) lalu.

Karena adanya kesamaan kepentingan itu, Basuki Hariman ikut menyukseskan gugatan uji materi yang diajukan oleh Dewan Peternakan Nasional. Basuki juga mengakui sudah beberapa kali bicara ke hakim MK Patrialis Akbar untuk memberi penjelasan mengenai uji materi ini. “Memang ada maksudnya kan, biar daging India tidak masuk lagi. Supaya kan saya bisa jualan lagi,” ucapnya.

Meskipun mengaku berkomunikasi dengan Patrialis, namun Basuki membantah memberi uang kepada Patrialis. Basuki mengaku hanya memberikan uang kepada Kamaludin yang mengenalkannya dengan Patrialis. Dalam hal ini, pengusaha yang juga sering khotbah di gereja-gereja ini mengaku sudah dua kali memberikan uang kepada Kamal, saming-masing sebesar USD 10 ribu dan 20 ribu dolar Australia.

Sedianya, transaksi yang ketiga sedang dilakukan, yaitu sebesar 200 ribu dolar Australia, tapi Kamal keburu kegep oleh petugas KPK. Dalam pernyataannya Basuki mengakui, uang itu dalam pengakuan Kamal sedianya hendak diberikan kepada Hakim MK Patrialis Akbar. “Kalau menurut saya sih enggak dikasih sama dia,” terang Basuki.

Sedangkan Patrialis Akbar sendiridi sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber mengaku merasa didzolimi. Dia mengaku sesenpun tidak menerima uang dari Basuki Hariman. Hal itu ditegaskan Patrialis saat dicegat wartawan usai diperiksa KPK. Oleh karenanya Patrialis menghimbau sesama koleganya hakim konstitusi dan masyarakat, untuk memahami bahwa dirinya sedang mendapatkan perlakuan yang tidak adil.

Impor Daging akan Terus Membesar

Bila kondisi peternakan lokal tidak segera disikapi, sampai kapan pun peternak lokal akan kalah bersaing, terutama soal harga, dengan peternak-peternak sapi India, Brasil dan Australia. Padahal, persoalan lahan, setidaknya ada 7,2 juta hektar yang ditelantarkan. Alangkah bagusnya kalau sebagian lahan itu digunakan untuk lahan peternakan sapi.

Sebab kebutuhan akan daging sapi akan terus meningkat. Meskipun tingkat konsumsi rata-rata per orang Indonesia per tahun hanya 2,56 Kg, lebih rendah dengan tingkat konsumsi orang Malaysia, Thailand, Singapura dan Filipina, namun besarnya jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 260 juta tetap saja membutuhkan pasokan daging yang luar biasa besar.

Sekedar gambaran, untuk tahun 2015 saja, kebutuhan daging nasional dipasok oleh sapi-sapi lokal sebanyak 416,090 ton (64%) setara dengan sapi hidup 2.447.000 ekor, sedang untuk impor 237,890 ton (36%) setara dengan sapi hidup 1.400.000 ekor.

Dari sapi impor, Indonesia mendatangkan sapi bakalan 720 ribu ekor yang nantinya dibesarkan oleh peternak lokal, sedangkan impor dalam bentuk daging beku setara dengan jumlah sapi sebanyak 680 ribu ekor. Impor sapi bakalan digemukkan di feedlot untuk memasok kebutuhan di pasar-pasar tradisional Jabodetabek.

Konsumsi daging sapi untuk tahun 2016 diproyeksikan sebesar 2,85 kg pertahun perkapita penduduk, mengalami kenaikan 10% dari tahun sebelumnya. Berarti diperlukan pasokan daging 738,025 ton atau setara dengan 4.341.323 ekor sapi hidup. Pasokan sapi lokal diperkirakan hanya mampu memenuhi 62 persen dari kebutuhan, atau setara dengan 2,76 juta 268,790 ton yang setara dengan 1.581.117 ekor sapi. Selebihnya sudah pasti impor.

Data di atas cukup menjelaskan, tren kebutuhan daging nasional setiap tahunnya akan terus meningkat, sedangkan peningkatan produksi dalam negeri selalu tertinggal. Peluang itulah yang kini direbutkan antara Mafia Impor Sapi India (MISI) yang menawarkan harga lebuh murah, dan Mafia Impor Sapi Australia (MISA) yang menawarkan daging lebih sehat.

Dalam hal ini, pemerintah perlu lebih serius meningkatkan produktivitas dan efesiensi peternak sapi lokal untuk lebih meningkatkan daya saingnya sehingga minimal mampu meningkatkan porsi lokal lebih meningkat, dari 64 persen 2015 mestinya naik lagi 66 persen di tahun 2016.

Bukan justru sok bergaya mampu swasembada, namun faktanya porsi pasokan daging lokal justru menurun dari 64 persen tahun 2015 menjadi 62 persen tahun 2016. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here