Perseteruan Walikota Malang dan Wakilnya Tak Boleh Dibiarkan Berlarut-larut

0
170

Nusantara.news, Kota Malang – Perseteruan Walikota dan Wakil Walikota kalau dibiarkan akan menjadi penyakit kronis yang memecah soliditas birokrasi dan menghambat pembangunan.

Perseteruan itu, ungkap pakar politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) DR Drs Wahyudi Winarjo M.Si sudah dirasakannya sejak lama

”Bukan hanya masyarakat Kota Malang yang tahu, warga Malang Raya (Kabupaten Malang dan Kota Batu) juga sudah tahu konflik yang terjadi di antara mereka. Dan ironisnya, mereka tidak bisa segera menyelesaikan persoalan tersebut,” sambung Wahyudi.

Akibat konflik yang berkepanjangan ini, lanjut Wahyudi, pembangunan Pemkot Malang tidak mempunyai arah.

”Sekarang arahnya ke taman-taman. Tidak mempunyai visi dan misi yang jelas mau dibawa kemana Kota Malang ini, pembangunan yang berkepanjangan dan serius pun masih minim” jelas Wahyudi.

Beberapa ketua partai yang ada di Kota Malang menganggap peroalan ini sebagai tolok ukur bahwa Walikota tak mampu memberikan contoh kepada masyarakat.

Akibatnya banyak program yang melibatkan masyarakat gagal terealisasi. Contohnya adalah persoalan Pasar Dinoyo, Pasar Blimbing, Pasar Merjosari, Pasar Gadang yang gagal diselesaikan.

Ketua DPC PDIP Kota Malang Arief Wicaksono juga menerangkan, ada dampak yang sangat serius bila kepala daerah dan wakilnya tidak sejalan. Yakni dampaknya kepada masyarakat.

”Lihat saja, Pasar Besar tidak selesai. Pasar Dinoyo dan Blimbing juga tidak selesai. Program mengurai kemacetan juga tidak ada hasilnya,” terang Arif.

Sementara itu, Benny Tri Cahya, pengamat pemerintahan yang juga mahasiswa administrasi pemerintahan Universitas Brawijaya mengungkapkan konflik yang terjadi di dalam birokrasi pemerintahan ini tidak baik, dan dampaknya nantinya adalah pada performa kinerja pemerintahan.

“Permasalahan ini apabila dibiarkan terus, akan menjadi penyakit dalam birokrasi (bureaucracy patology) yang kemudian akan mempengaruhi performa kinerja pemerintahan baik dalam pembangunan maupun kerja-kerja yang lainnya,” ungkap Benny kepada Nusantara.news, Jum’at (3/3/2017)

Oleh karena itu, dia berharap pada Pilwali mendatang, masyarakat Kota Malang yang banyak dihuni orang cerdas dan pintar ini, harus memilih wali kota dan wakilnya yang cerdas, memiliki sopan santun dan etika dalam berpolitik dan juga memiliki visi yang jelas, jangan hanya sekadar wacana dan pencitraan saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here