Pertaruhan IHSG di Tahun Politik

0
106
Presiden Jokowi bersama Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua OJK Wimboh Santoso, Gubernur BI Agus DW Martowardojo, Dirut PT BEI Ito Warsito saat penutupan pasar di Bursa Efek Jakarta.

Nusantara.news, Jakarta – Tahun 2018 disebut-sebut sebagai tahun politik, tahun 2018 juga disebut sebagai tahun kebangkitan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Logika yang sulit bisa diterima, kecuali keajaiban yang bisa merealisasikannya.

Tak bisa dipungkiri tahun 2017 yang juga merupakan tahun politik, karena ada 101 pemilihan kepala daerah (Pilkada) di seluruh Indonesia. Tahun 2017 bahkan ditandai proses Pilkada paling panas pada pemilihan Gubernur dan Wagub DKI Jakarta.

And toh, IHSG sepanjang 2017 mencetak rekor terbaru, dari posisi tahun sebelumnya di level 5290 melejit 20% menjadi 6355 pada penutupan perdagangan tahun 2017.

Jadi, kenaikan kinerja IHSG di pasar modal adalah wajar, bukan sesuatu yang spesial. Atas capaian 2017 tersebut, otoritas pasar modal pun menargetkan pada 2018 IHSG dapat menembus level 7000. Mungkin kah?

Jangan takut tahun politik

Tak bisa dipungkiri dua tahun dari sekarang, 2018 dan 2019, benar-benar tahun politik. Pada 2018 setidaknya ada 171 Pilkada di seluruh Indonesia, sementara 2019 akan ada Pemilu legislatif dan Pilpres.

Datangnya tahun politik kerap memunculkan anggapan akan adanya gejolak pada perekonomian suatu negara termasuk menggoncangkan pasar modal. Kondisi itu pun, tak ayal membuat investor wait and see atau memilih untuk menahan investasinya hingga membuat sepi geliat investasi dalam negeri.

Sejumlah spekulasi itu nampaknya mulai membuat gerah Presiden Jokowi, lantaran memberikan dampak psikologis yang buruk pada aktivitas investasi di tahun politik. Jokowi pun mencoba meyakinkan para pelaku ekonomi untuk tidak mengkhawatirkan panasnya tahun politik.

“Dulu tahun 2015 ngomongnya wait and see karena pilkada, 2016 ada pilkada wait and see lalu tahun 2017 ada pilkada wait and see. Lalu tahun 2018 ada pilkada wait and see juga, nanti 2019 ada pilpres wait and see. Politik biarlah politik mari kita garap bersama sama urusan ekonomi,” ujar Jokowi pada penutupan pasar akhir tahun lalu.

Jokowi menegaskan, dengan kondisi perekonomian yang relatif stabil hingga kondisi pasar modal yang mampu mencetak rekor di penghujung tahun hingga 6.355,65 seharusnya mampu menjadi keyakinan tersendiri bagi investor. Mengingat sejumlah tantangan global yang sempat diwanti-wanti oleh pemerintah dari mulai kenaikam suku bunga The Fed hingga sentimen proteksionisme dan perang dagang ditengah pemilu di negara-negara Eropa dilewati dengan baik oleh pemerintah.

“Arus modal ke Indonesia mencapai rekor, yang terpilih di Eropa pemimpin yang inkumben bahkan di Perancis yang terpilih yang reformis Macron. Ekspor di Asia melonjak, tahun 2017 itu laju perdagangan dunia di atas laju perekonomian dunia selama tujuh tahun,” jelas Jokowi.

Selain itu, kata dia, dengan ekspor Indonesia yang tahun ini naik doubel digit sekitar 15% hingga17% serta investasi internasional tahun ini juga doubel digit 13% hingga 14% menjadi sinyal positif atas situasi ekonomi dalam negeri. Ditambah dengan kenaikan rating Indonesia dikeluarkan Fitch dari BBB- ke BBB dapat menjadi optimisme tersendiri bagi investor.

“Saya kira hal optimis ini harus terus disampaikan agar ada keseimbangan yang kita inginkan, rasa optimisme sehingga menanamkan modal jadi semangat kita. Jangan takut, risiko selalu ada tapi itulah peluangnya,” jelasnya.

Seperti diketahui, di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat 570 saham emiten tercatat, sebanyak 292 saham mencatat kenaikan, sedangkan 233 saham justru melemah. Sementara 45 saham lainnya bergerak stagnan alias saham tidur.

Hal itu menandakan baru 51,22% saham yang menorehkan kinerja positif, diperdagangkan dan nilai sahamnya naik. Biasanya saham baru dan saham berkapitalisasi besar mengalami kenaikan dan penurunan paling tajam.

Paling tidak ada 5 saham yang mencatat kenaikan saham paling tinggi, yakni Saham PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU), PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS), PT Wicaksana Overseas International Tbk (WICO).

Sementara 5 saham dengan penurunan paling tajam sepanjang tahun 2017 adalah saham PT Polaris Investama Tbk (PLAS), PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI), PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA).

Bagaimana tahu 2018?

Pada 2018, diperkirakan IHSG bakal ngegas lagi ke posisi yang lebih tinggi. Lantas saham apa saja yang menarik untuk diakumulasi?

Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat mengatakan, kenaikan sektor industri dasar ini memperlihatkan bahwa saham-saham sektor industri dasar kini mulai dilirik oleh para pelaku pasar. Mereka mulai mengerti bahwa valuasi saham-saham di sektor industri dasar ternyata masih sangat murah sehingga para pencari cuan di pasar modal pun mulai memburu saham-saham ini, membuat sektor industri dasar bergerak naik melebihi pertumbuhan IHSG.

Namun, untuk tahun 2018, Teguh melihat para pelaku pasar sebaiknya melirik saham di sektor yang saat ini performanya masih di bawah IHSG. Diantaranya saham di sektor agrikultur dan properti.

Bangkitnya harga komoditas seperti batubara dan nikel diperkirakan juga akan merembet ke pergerakan harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) serta komoditas perkebunan lainnya. Hal ini bisa turut menopang kinerja saham-saham di sektor perkebunan yang juga bisa ikut membuat saham-saham di sektor ini ikut tumbuh.

Teguh juga menyarankan para pelaku pasar untuk melirik sektor properti. “Geliat di sektor properti sekarang sudah mulai terlihat. Adanya kelonggaran kebijakan moneter dari pemerintah dan pembangunan infrastruktur bisa mendorong emiten di sektor ini,” papar Teguh.

Senada, Analis First Asia Capital David Sutyanto pun melihat sektor agrikultur bisa tumbuh di tahun depan. Ia juga melihat masih adanya potensi pertumbuhan di sektor tambang sehingga menyarankan para pelaku pasar untuk memperhatikan saham-saham di sektor ini untuk tahun 2018 nanti.

Meski begitu, sektor properti dipandang tak akan mampu tumbuh secepat kedua sektor tersebut.

Sementara manajemen BEI memproyeksikan kondisi pasar modal pada 2018 tidak akan terpengaruh situasi perpolitikan tahun depan, yang mulai diramaikan oleh pesta demokrasi. Meski begitu, pergerakan di pasar saham diperkirakan tidak akan terpengaruh secara signifikan.

“Kalau kita belajar dari 2004, 2009, 2014, itu memang secara keseluruhan market kita tidak terpengaruh dengan kondisi politik. Jadi kita berharap juga ini terjadi di tahun 2018, 2019,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat di BEI.

Samsul mengatakan dengan stabilnya pasar diharapkan tidak akan memberikan dampak negatif kepada para investor asing. Oleh karena itu, guna menumbuhkan kepercayaan investor, maka stabilitas politik dan keamanan di Indonesia harus dijaga.

“Sepanjang stabilitas politik dan keamanan negara bisa dijaga kita kan punya Polri, TNI dan kita sudah berkali-kali teruji dengan adanya kejadian seperti itu. Saya kira sih enggak terlalu besar lah, ada pengaruhnya tapi tidak terlalu besar,” tegasnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat penutupan pasar akhir tahun mengalami kenaikan 20% sepanjang 2017 di posisi 6.355.

Hindari saham berisiko

Head of Research Infinitum Advisory Agustini Hamid mengungkapkan investor menghindari saham-saham yang berisiko pada tahun politik 2018-2019. Salah satunya yakni saham di sektor komoditas.

“Saham komoditas lebih terdampak dari risiko pasar, termasuk di dalamnya risiko politik yang tidak bisa dihindari investor,” ungkap Agustini belum lama ini.

Dia mencontohkan salah satunya saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Saham perseroan akan tertekan oleh risiko politik terkait. Dia menilai, saham perseroan sudah tergerus 42,6% sepanjang tahun 2017.

Rencana pembentukan induk usaha energi memberi sentimen negatif terhadap pergerakan harga saham PGAS. Bahkan sejak rencana itu mulai kencang dihembuskan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tahun lalu.

Bisnis usaha PGAS terdiri dari lini bisnis yakni transmisi dan distribusi yang keduanya terkait dengan kebijakan pemerintah. “Kalau laporan keuanganya terganggu pasti akan berpengaruh pada sahamnya,” ujar dia.

Pada penutupan perdagangan hari ini saham PGAS dipatol Rp1765 per lembar saham atau turun lima poin ketimbang dengan perdagangan saham pada pembukaan perdagangan. Kapitalissi pasarnya mencapai Rp42,7 triliun.

Lepas dari tahun politik, tahun 2018 dari sisi global juga menghadapi beberapa tantangan. Isu keras yang dapat menjadi `batu sandungan` dalam upaya mengakselerasi pertumbuhan antara lain isu proteksionisme perdagangan AS, rebalancing ekonomi Tiongkok, dan penguatan dolar AS yang memicu pembalikan arus modal di negara berkembang.

Selain itu, ada juga risiko geopolitik, dampak Brexit, referendum Catalonia, kondisi Timur Tengah, demo massal di Iran, ketegangan di Semenanjung Korea dan ancaman terorisme, serta isu struktural di negara maju seperti penuaan populasi.

Kendati demikian, apabila pemerintah bisa terus memperbaiki sejumlah catatan kinerja ekonomi ke depan, tampaknya kekhawatiran atas performa IHSG di tahun politik tak lagi beralasan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here