Pertarungan Khofifah-Emil Vs Gus Ipul-Puti Serupa Mataram Vs Surabaya

0
165
"Dua calon yang maju di Pilgub Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf"

Nusantara.news, Surabaya – Beberapa hari terakhir ini, beredar meme yang dianggap merugikan calon gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa yang viral di grup WhatsApp. Namun, sikap Khofifah yang menanggapi meme (foto dirinya disandingkan dengan tikus) tersebut dengan santun dan datar dinilai menguntungkan dirinya. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Surabaya Survei Center (SSC) Mochtar W Oetomo.

“Dengan seperti itu (sikap Khofifah santun dan tenang), masyarakat akan semakin menaruh simpatik dan itu menguntungkan posisinya di Pilgub Jatim,” ujar Mochtar W Oetomo, berbincang dengan Nusantara.news, Senin (22/1/2018).

Dosen Universitas Trunojoyo Madura itu kemudian mengurai, pertarungan adu unggul antara pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dengan Khofifah adalah pertarungan head to head yang berkepanjangan, jika diumpamakan layaknya perang Kerajaan Mataram dengan Surabaya.

Baca juga: Pilkada, Mahar dan Hilangnya Budaya Santun

Menurutnya, layaknya kegagalan Mataram, Khofifah juga sudah dua kali mengalami kegagalan saat “perang” berebut Kursi Jatim Satu di pemilihan tahun 2008 dan 2013. Dua kali kegagalan beruntun menghadapi pertahanan tangguh (Soekarwo-Gus Ipul). Kedua kekalahan itu sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari peran penting wilayah atau posisi Madura, sebagai basis pertahanan utama pasangan KarSa (Pakde Karwo-Saifullah Yusuf), saat itu sebagaimana Madura menjadi pertahanan dan penopang utama Kerajaan Surabaya dari serangan dan gempuran Mataram untuk menguasainya, dan itu terurai dalam perjalanan sejarah.

Pertarungan seru GI-Puti Guntur Vs Khofifah-Emil, terjadi di wilayah “Kultur Arek”, Bagaimana hasilnya?

Dahulu, kisah sejarah Mataram yang tak pernah jengah untuk terus menaklukkan dan menguasai Surabaya, serupa dengan perjuangan Khofifah saat ini. Dua kali kalah tak membuat nyalinya ciut. Kali ini, untuk ketiga kalinya Khofifah berpasangan Emil Elistianto Dardak sang generasi milenial yang cerdas, (berpeluang merebut suara pemilih muda) berhadapan dengan Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno.

“Jika sebelumnya, di dua kali pemilihan kepala daerah Khofifah terbentur tembok (kekuatan dan pengaruh) Pakde Karwo, kali ini justru Pakde Karwo meninggalkan Gus Ipul, berpihak dan mendukung penuh Khofifah. Ingat (kisah sejarah), sebagaimana Sultan Agung mendapat suntikan kekuatan dari Kerajaan Lasem yang dalam dua perang sebelumnya berpihak kepada Surabaya. Dan, (ada kesamaan) saat ini mantan Menteri Sosial, Khofifah setidaknya telah belajar dari dua kekalahan sebelumnya, sebagaimana kisah Sultan Agung yang (dulu) juga belajar dari dua kekalahan kakek dan ayahnya, untuk menaklukkan Surabaya,” urai Mochtar.

“Seperti kisah pertempuran Mataram Vs Surabaya, jumlah penduduk Surabaya yang terbesar, sebagai pusat informasi, komunikasi, pusat perlintasan seluruh aktifitas penduduk termasuk se-Jatim. Wilayah Arek menjadi penentu kemenangan”

Dari pengalaman (sejarah) Kerajaan Mataram, Mochtar menyebut Kerajaan Surabaya adalah duri dalam daging. Penghalang bagi cita-cita Mataram yang berhasrat mempersatukan tanah Jawa. Kompetitor menggilas ligitimasi Mataram sebagai Kesultanan terbesar di Jawa, saat itu. Maka sejak era Panembahan Senopati (1587-1601) Mataram mencanangkan berbagai strategi untuk menaklukkan Surabaya.

Tahun 1596-1597, Panembahan Senopati (dikisahkan) mengirim pasukan untuk menggempur Surabaya. Namun, sampai Raja Pertama Mataram tewas pada 1601, Mataram tak pernah mampu menjebol benteng pertahanan Surabaya yang terkenal kuat dan kokoh.

Pasukan Mataram pulang dengan iringan tembang kekalahan

Ekspedisi menaklukkan Surabaya kemudian diteruskan oleh putra Senopati, yakni Panembahan Hanyakrawati atau Panembahan Seda Ing Krapyak (Raja kedua Mataram, memerintah 1601-1613).

Tahun 1601-1613, raja kedua Mataram menyerang Surabaya, dan berakibat hancurnya sektor perokonomian Surabaya. Itu karena dalam penyerangan Mataram berhasil menghancurkan sistem pertanian di semua wilayah yang menjadi kekuasaan Surabaya. Namun, itu belum membuat Surabaya takluk pada Mataram. Dilanjutkan, saat Panembahan Seda Ing Krapyak meninggal dunia pada 1 Oktober 1613, Surabaya belum juga berhasil ditaklukkan oleh Mataram.

Gagal dua kali, tidak membuat Mataram surut nyali

Meski, mengalami kegagalan dua kali, Raja Mataram ketiga yakni Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah 1613-1645) melanjutkan estafet semangat tempur sang kakek dan ayahnya.

“Belajar dari kegagalan pendahulunya, Sultan Agung tidak serta merta menyerang Surabaya dengan pasukan dengan jumlah besar. Sultan Agung sadar bahwa Surabaya mempunyai sekutu yang siap membantu mempertahankan wilayah kekuasaan yang memiliki pertahanan sangat kuat. Dengan strategi Sapit Urang, Sultan Agung lebih dulu menyerang daerah-daerah bawahan yang menjadi pemasok bahan makanan ke pusat kota Surabaya,” urai Mochtar.

Tahun 1615, strategi juga diatur rapi, Mataram menyerang dan menaklukkan Wirasaba. Itu menjadi penting karena Wirasaba merupakan daerah hinterland kota Surabaya yang menjadi pemasok kebutuhan air bersih juga bahan pangan melalui Sungai Brantas. Setahun kemudian, 1616-1617 Sultan Agung menyerang dan menguasai Pasuruan. Kemudian menaklukkan Tuban, wilayah pemasok kayu jati yang sangat dibutuhkan Surabaya untuk kebutuhan pembuatan kapal-kapal, sebagai armadanya.

Setelah menguasai Tuban, tahun 1621, Sultan Agung kembali mengirim pasukan menyerang dan menguasai Madura (ini seperti memasang Hendropriyono). Menguasai Madura, adalah untuk memutus suplai penting dan juga untuk mengepung serta melemahkan Surabaya. Tidak tanggung-tanggung, dikisahkan dalam sejarah penyerangan itu dipimpin langsung oleh Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-Alap (menurut Padmosusastro, peperangan yang terjadi saat itu adalah peperangan terhebat dalam sejarah Kerajaan Mataram).

“Karena kekuatan Madura dan Surabaya yang tangguh, memaksa Mataram mengirimkan lagi bala bantuan sebanyak 80 ribu pasukan untuk mengalahkannya. Peperangan melelahkan itu menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi kedua belah pihak. Namun, belum juga membuat Surabaya menyerah kepada Mataram. Meski akhirnya, Madura jatuh juga ke tangan Mataram, tahun 1624,” urai dosen politik sejarah itu.

Baca juga: Tradisi Mataraman Sangat Kental di Pilbup Madiun 2018

Mataram, yang berhasil melemahkan daerah penopang Surabaya, berakibat Surabaya kemudian tidak mendapat kekuatan dukungan (suplai makanan) dari daerah-daerah hinterland. Akibatnya, terjadi musibah kelaparan, serta kematian penduduk yang luar biasa besarnya.

“Maka, inilah saatnya yang tepat untuk menaklukan Surabaya, seperti yang terjadi (di Pilgub 2018 mendatang),” terang lelaki berkacamata itu.

Tumenggung Mangun Oneng Pimpin Langsung, Serang Surabaya

Guna menghindari kontak fisik dengan Surabaya yang akan merugikan pasukannya sendiri, Mataram (sengaja) memanfaatkan Sungai Brantas untuk menebar ‘penyakit’. Dikisahkan, bersama pasukannya dibuatlah bendungan di alur sungai tersebut. Setelah pasokan air ke Surabaya berkurang, pasukannya kemudian (bagian strategi) memasukkan bangkai dan buah aren ke sungai. Tujuannya, agar masyarakat Surabaya terjangkit penyakit mematikan, selanjutnya dengan mudah pasukan Mataram menyerang dan menguasai Surabaya.

Tumenggung Mangun Oneng Pimpin Langsung, Serang Surabaya

Strategi tersebut tidak sia-sia. Akibat kelaparan, penduduk Surabaya terjangkit wabah penyakit (diceritakan menderita gatal-gatal hebat) akibat bangkai dan buah aren yang ditebar. Strategi ini kemudian diketahui oleh Raja Surabaya, yang memutuskan menggelar pertemuan dengan pucuk pimpinan Mataram. Raja Surabaya Jayalengkara mengirimkan anaknya, Pangeran Pekik, serta seribu pasukan untuk menemui Tumenggung Oneng. Dan akhirnya, pada 27 Oktober 1625 Surabaya menyerah kepada Mataram. Bisa kita bandingkan dengan kisah (jelang Pilgub Jatim, saat ini).

Pasangan KIP-Emil, Kuasai Madura

“Pasangan Khofifah-Emil diusung Partai Demokrat, Golkar, PPP, NasDem, Hanura dan PAN”

Secara khusus, Khofifah telah masuk dan menguasai Madura yang dua kali (Pilgub) sebelumnya, jadi rintangan menuju jabatan Jatim Satu (Gubernur Jatim). Layaknya Sultan Agung, dengan mengerahkan kekuatan pendamping untuk menaklukkan Madura, itulah yang saat ini terjadi.

Tidak hanya dengan sering melakukan kunjungan ke Madura, sejak menjabat Mensos RI, juga berhasil memperluas jejaring opinion leader di seluruh pelosok Pulau Madura. Terbukti, 1000 kiai dan santri di Madura telah membubuhkan tanda tangan setia dan mendukung Khofifah.

“Lihat, mantan Kepala BIN Hendropriyono, menjaga dan mengamankan suara Khofifah di Madura. Pendeknya, Khofifah lebih dulu berhasil merebut hati pemilih, melalui langkah ofensif dan massif. Pertanyaannya, apakah itu sudah cukup?,” terang Mochtar.

Dikatakan, Khofifah (masih) harus belajar dari kesabaran Sultan Agung saat menata strategi menaklukkan Surabaya. Seperti Sultan Agung memilih menyerang dan untuk menguasai lebih dulu daerah-daerah basis pendukung Surabaya. Rupanya, Khofifah sangat memahami peran penting strategi ini.

Menguasai Madura saja tidak cukup. Sebagaimana Sultan Agung menguasai Tuban, Khofifah-Emil juga harus ‘menyerang’ dan menguasai Pantura Barat. Seperti Sultan Agung menyerang Pasuruan, pasangan itu juga harus bisa menaklukkan Tapal Kuda. Serta menguasai Madiun, juga Mataraman.

Baca juga: Pilgub Jatim, Ajang Adu Gagasan Tanpa Fitnah dan SARA

Perjuangan tak berhenti di situ, untuk menguasai jantung wilayah Arek, strategi Sapit Urang yang dilakukan Sultan Agung, ujar Mochtar harus segera difikirkan. Strategi ‘Desa Kepung Kota’ harus dilakukan untuk menguras habis energi lawan sebelum masuk pertempuran yang sesungguhnya. Serta, membendung dukungan dari wilayah-wilayah dan komunitas penyangga, strategi psywar dengan data dan konten detail serta jejaring sosial harus dijalankan. Strategi itu seperti yang dilakukan Tumenggung Mangun Oneng saat membendung Sungai Brantas dan berhasil membuat wabah kelaparan dan penyakit yang kemudian berhasil menguasai Kerajaan Surabaya.

Pertarungan GI-Puti Guntur Vs Khofifah-Emil adalah di wilayah Arek

Seperti di kisah pertempuran Mataram Vs Surabaya, jumlah penduduk Surabaya yang terbesar, sebagai pusat informasi, komunikasi, pusat perlintasan seluruh aktifitas penduduk termasuk se-Jatim. Wilayah Arek menjadi penentu kemenangan (Pilgub Jatim 2018). Sesungguhnya, siapa yang akan mendapatkan kemenangan itu dan melenggang menuju Kursi Grahadi, kita tunggu saja episode berikutnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here