Pertemuan Jokowi-AHY, Berpotensi Ubah Peta Koalisi

0
204

Nusantara.news, Jakarta – Yang penting dari pertemuan Agus Harimurti Yudhoyono dengan presiden Jokowi yang dihadiri PutraJokowi Gibran Rakabuming, bukan apa yang mereka bicarakan, melainkan pertemuan itu sendiri bernilai politik tinggi karena berpotensi besar mengubah peta politik yang ada saat ini.

Peta Politik Existing

Petan politik existing atau yang ada saat ini adalah terjadinya tiga poros politik. Pertama, Poros Teuku Umar. Kedua, Poros Hambalang. Ketiga, Poros Ciketas.

Poros Teuku Umar dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri, atau setidaknya memosisikan Megawati Seokarnoputri sebagai orang paling berpengaruh. Partai yang menjadi elemen poros ini adalah semua atau enam partai yang memiliki sikap sama terhadap polemik presidential threshold 20 persen kursi di DPR RI atau 25 persen suara nasional.  Enam partai itu adalah PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura.

Poros Hambalang dipimpin oleh Prabowo Subianto atau poros yang menjadikan Prabowo Subianto sebagai orang paling berpengaruh. Partai pendukung poros ini adalah partai Gerindra, dan PKS.

Poros Cikeas dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau poros yang menjadikan SBY sebagai orang paling berpengaruh. Partai pendukung poros ini adalah Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional atau PAN.

Dalam hal Pilpres 2019, poros Teuku Umar sangat memenuhi syarat mengusung satu pasang calon karena didukung 6 partai yakni PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP dan PKB.

Poros Hambalang juga sudah memenuhi syarat mengusung satu pasang calon presiden dan wakil presiden, walau hanya didukung dua partai yakni Gerindra dan PKS

Sedang poros Cikeas belum memenuhi syarat karena kawan berkoalisi tinggal satu partai yakni PAN. Penjumlahan kursi Demokrat dan PAN tidak memenuhi 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional.

Dalam hal figur, tiga poros ini masing-masing sudah memiliki figur untuk diajukan dalam even Pilpres 2019 mendatang, walaupun sifatnya belum pasti.

Poros Teuku Umar menjagokan atau memiliki figur incumbent Jokowi Widodo atau Jokowi. Poros Hambalang menjagokan Prabowo Subianto, sedang poros Cikeas ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Untuk posisi bakal wakil presiden, hanya poros Teuku Umar yang sudah memiliki figur, yakni Puan Maharani. Sedang poros Hambalang dan Cikeas belum ada.

Memecah Peta Politik Existing

Dalam perspektif ini pertemuan  AHY dengan Jokowi dinilai memiliki makna penting karena beberapa hal.

Pertama, sampai saat ini figur yang disebut-sebut berpotensi muncul pada Pilpres 2019 mendatang sangat terbatas. Untuk calon presiden, figur yang muncul hanya Prabowo Subianto, Jokowi, dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dan AHY. Sedang figur calon wakil presiden yang sudah muncul adalah Puan Maharani. Dalam barisan calon wakil presiden juga masuk nama AHY dan Gatot Nurmantyo.

Kedua, dari segi kepastian, hanya poros Hambalang yang sudah mendekati kepastian akan mengusung Prabowo.

Sedang poros Teuku Umar masih berpeluang mengubah formasi calon. Hal ini terkait keberadaan Puan Maharani yang diplot sebagai bakal calon wakil untuk Jokowi.

Jokowi sebagai figur yang saat ini dinilai paling tinggi elektabilitasnya, belum tentu ikhlas “menerima” Puan Maharani sebagai calon wakil, karena elektabilitasnya dinilai kurang mendukung. Dalam batas-batas tertentu, Puan malah berpotensi menggerogoti elektabilitas Jokowi, sehingga bisa kalah dalam pilres mendatang. Oleh sebab itu, nama Panglima TNI gatot Nurmantyo disebut-sebut bakal menjadi alternatif calon wakil presiden untuk Jokowi.

PDIP dan Megawati tentunya berkepentingan menjadikan Puan Maharani sebagai calon wapres bersama Jokowi.  Faktor Jokowi penting bagi PDIP untuk mendongkrak elektabilitas Puan. Jokowi dan Puan Maharani masing-masing pegang kartu.  PDIP butuh kartu Jokowi untuk “mengantar” Puan menjadi wakil presiden, sementara Jokowi butuh kartu PDIP sebagai kendaraan politik untuk bisa maju lagi pada Pilpres 2019.

Jika Jokowi misalnya memilih Panglima TNI gatot Nurmantyo yang elektabilitasnya dinilai lebih tinggi dibanding Puan Maharani sebagai calon wakilnya, maka PDIP sebagai pemimpin koalisi 6 partai, bisa menolak mengusung Jokowi.

Karena itu, pertemuan Jokowi dengan AHY menjadi penuh makna karena bisa memecah atau mencairkan atau mengubah peta politik sudah terbentuk sejak penetapan RUU Pemilu menjadi UU Pemilu yang baru.

Pertemuan AHY-Jokowi yang sekarang banyak diperbicangkan dengan pujian itu, di atas kertas, bukan hanya menghidupkan kartu Jokowi sehingga tidak terpaku pada PDIP sebagai pengusung, tetapi juga menghidupkan kartu Partai Demokrat yang sejak UU Pemilu menjadi kartu mati karena koalisi dengan satu satu partai tersisa yakni PAN, tidak cukup untuk mengusung satu pasang calon presiden.

Setelah pertemuan itu, mulai muncul wacana duet Jokowi-AHY. Mulai dihitung seperti apa kekuatan jika terjadi duet Jokowi – AHY.

Setelah penetapan RUU Pemilu menjadi UU Pemilu, Prabowo dan SBY bertemu. Ketika itu muncul wacana menduetkan Prabowo dengan AHY.

Sekarang mulai diperbandingkan mana lebih baik duet Prabowo-AHY atau duet Jokowi-AHY. Di atas kertas duet Jokowi – AHY dinilai lebih ideal.

Duet Prabowo-AHY dinilai kurang ideal karena dua-duanya berlatar belakang militer. Jenjang kepangkatan keduanya, satu jenderal satu mayor, juga tidak ideal karena sifatnya tidak saling melengkapi, tidak saling mengisi, karena tradisi dalam militer tidak mungkin seorang mayor keluar dari perintah seorang jenderal.

Sebaliknya duet Jokowi-AHY ideal dalam sejumlah hal, kombinasi sipil – militer, tua-muda, berpendidikan dalam negeri dan luar negeri (UGM-Harvard, Ndeso– Metropolis), Jawa Tengah – Jawa Timur  (Solo/kelahiran Jokowi – Pacitan/kelahiran SBY), orientasi pada dua negara adi-daya, China (Jokowi) – Amerika (AHY/SBY).

Duet Jokowi-AHY di atas kertas tidak mungkin diusung oleh PDIP. Selain karena hubungan Mega dan SBY kurang baik, juga karena faktor Puan Maharani.

Namun, kombinasi ideal ini, ditambah elektabilitas Jokowi dan popularitas AHY, tidak menutup kemungkinan membuat partai lain tertarik bergabung.

Pada Pilgub DKI Jakarta lalu, Demokrat berkoalisi dengan PPP, PKB dan PAN mengusung AHY-Silvy. Keempat partai ini berpotensi berkoalisi kembali mengusung Jokowi-AHY.

Tetapi apapun yang akan berkembang nanti, pertemuan Jokowi-AHY berpotensi memecah dan mengubah peta koalisi yang ada saat ini. Pilpres 2019 yang semula hanya memungkinan diikuti dua pasang calon yang diusung poros Teuku Umar dan poros Hambalang, maka setelah pertemuan Jokowi-AHY pilpres berpeluang dikuti tiga pasang capres bersama poros Cikeas. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here