KTT G-20 Hamburg

Pertemuan “Multilateral” Rasa Bilateral

0
101

Nusantara.news – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara ekonomi utama atau yang disebut dengan Kelompok 20 (G-20) di Hamburg, Jerman 7-8 Juli bakal dipenuhi lebih banyak konflik batin antar para pemimpin negara anggota ketimbang kesamaan pandangan. KTT yang dimaksudkan sebagai pertemuan mulitilateral ini pada akhirnya hanya akan menjadi ajang pertemuan bilateral saja antar kepala negara dengan pembicaraan berdasarkan kepentingan masing-masing.

Misalnya, Donald Trump diagendakan mengadakan pertemuan penting dengan Vladimir Putin, Presiden Rusia, dengan isu sendiri, PM Jepang Shinzo Abe bertemu dengan petinggi Uni Eropa untuk agenda mereka, Presiden China bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel dengan agenda sendiri, dan pemimpin negara lain seperti India, Indonesia, Prancis, mungkin punya agenda bilateral sendiri-sendiri.

Sementara, daftar kesepakatan bersama antar negara G-20 juga tampaknya akan semakin menyusut, mengingat tidak banyak lagi kesepahaman penting yang bisa dicapai setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gagasan nasionalisme konservatif yang cenderung proteksionis dalam berbagai kesempatan sebelumnya.

Oleh karena itu, Kanselir Jerman Angela Merkel sebagai tuan rumah KTT, tampaknya sekadar akan berupaya menjaga suasana KTT tetap damai, KTT ini tidak lagi efesien untuk menghasilkan kesepakatan bersama seperti sebelumnya, dan bahkan mungkin telah kehilangan relevansinya sebagai konferensi negara-negara ekonomi utama di dunia.

Kanselir Merkel, belakangan ini memiliki perbedaan pandangan yang tajam dengan sekutu utamanya, Amerika Serikat, setelah negara itu dipimpin seorang Donald Trump. Tidak hanya dengan Merkel sebagai suhu Uni Eropa, kebijakan Trump juga banyak berselisih paham dengan para pemimpin negara anggota G-20 lainnya seperti Prancis, Turki, China, dan lainnya. Trump yang cenderung proteksionis mendapat gelombang “protes” dari negara-negara yang telah sekian lama menjadi mitra Amerika itu.

Kini, sebagian besar pemimpin negara G-20 tidak lagi menginginkan Amerika memimpin dalam penyelesaian masalah-masalah global, mereka lebih menginginkan Jerman atau China menggantikan negeri Paman Sam itu.

Isu-isu sensitif bakal membuat KTT G-20 Hamburg kali ini memanas. Beberapa diantaranya: Pertama, tentang perdagangan bebas. Meskipun Merkel mengatakan baru-baru ini, agar G-20 mengirim sinyal yang jelas bagi pasar bebas dan melawan proteksionisme, serta komitmen yang jelas terhadap sistem perdagangan multilateral, tapi tampaknya hal ini tidak akan dibicarakan langsung, karena kehadiran Presiden Donald Trump.

Trump telah menunjukkan komitmen yang jelas sejauh ini, dengan gagasannya waktu kampanye Pilpres AS, yaitu “proteksionisme”. Alasannya, AS telah mengalami masalah surplus perdagangan, termasuk dengan Jerman. Sementara itu, sebagian besar pemimpin lain pro perdagangan bebas.

Sebagaimana dilansir Bloomberg, Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan pada hari Kamis (6/7) waktu setempat menyatakan, perang dagang bisa saja terjadi antara AS dan Uni Eropa. Tapi dia meminta pihak-pihak saling berkomunikasi untuk mencegahnya. Namun pada kenyataannya, meski para pemimpin dunia itu sudah pernah membicarakan, tidak ada kata sepakat. Jadi, sebetulnya perang dagang hampir pasti terjadi dan AS sudah memulainya dengan akan membatasi impor baja dan alumunium dari China.

Merkel hanya akan berupaya mencegah pecahnya permusuhan saat KTT dengan tidak mempertajam isu tersebut. Yang terpenting bagi Jerman, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah mengunjungi Uni Eropa pada Kamis untuk menandatangani kesepakatan politik yang menyelesaikan sebagian besar masalah terkait kesepakatan perdagangan Uni Eropa dan Jepang. Perundingan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu goyang setelah Trump menarik AS keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP).

Kedua, masalah perubahan iklim. Isu ini juga sensitif dibicarakan, apalagi Trump sudah jelas menyatakan AS menarik diri dari Kesepakatan Iklim Paris tahun 2015. Tapi setelah itu, negara-negara besar lainnya telah menyatakan komitmen untuk berada dalam Kesepakatan Iklim, tanpa Trump.

Ketiga, masalah imigran. Masalah imigran menjadi isu sensitif, meski Trump dan Merkel memiliki pandangan agak sama terkait isu tersebut. Sebagaimana Trump, Merkel juga sepakat jika imigran dibatasi. Namun demikian, banyak negara anggota G-20 yang keberatan jika imigran dianggap sebagai masalah negara.

Keempat, tentang Eropa sebagai mercusuar baru globalisasi. Orang-orang Eropa telah mengambil sikap tegas melawan Trump. Namun para pemimpin non-Barat, bagaimanapun, memiliki agenda masing-masing untuk “memimpin” dunia atau globalisasi.

Xi Jingping dari China berada pada kubu yang sama dengan Uni Eropa tentang perdagangan dan perubahan iklim, dan Trump tidak senang dengan usaha Xi yang tidak maksimal mencegah Korea Utara dalam program nuklirnya. China juga baru saja menyetujui  pinjaman yang besar kepada dua entitas yang dikendalikan Rusia, padahal Rusia berada di bawah sanksi AS.

Shinzo Abe dari Jepang masih berupaya mempertahankan persekutuan dengan Trump. Sementara Narendra Modi dari India mencoba menjadi teman semua orang, menghindari perpecahan dengan Trump maupun Putin, dan berteman dengan putra mahkota Saudi yang baru, Mohammed bin Salman.

Latar belakang terbentuknya G20 adalah krisis keuangan Asia yang terjadi pada tahun 1998 sehingga muncul pendapat untuk membentuk forum yang dapat menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi negara maju dan berkembang dalam membahas isu-isu penting perekonomian dunia dan memajukan kerja sama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dunia yang stabil. Masihkah kerja sama itu dapat diwujudkan dengan situasi perbedaan pandangan yang tajam di antara negara-negara berpengaruh di G-20?

Jangan-jangan, KTT ini tinggal sekadar wadah saja yang mengumpulkan para pemimpin negara-negara anggota, tapi sejatinya tidak mencapai kesepakatan substasial secara bersama. Mereka datang membawa kepentingan masing-masing, lalu bertemu dengan pemimpin negara lain, untuk membicarakan kerja sama yang sifatnya lebih bilateral, lalu pulang tanpa kesepakatan penting bersama. Kecuali, jika Jerman atau China berhasil memimpin kelompok ini sebagaimana diharapkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here