Pertemuan Puan-Prabowo Antisipasi Manuver JK?

0
658

Nusantara.news, Jakarta –  Pewaris PDIP Puan Maharani akan bertemu dengan pendiri Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pertemuan ini dilakukan jelang pendaftaran pasangan capres/cawapres yang dibuka 4-10 Agustus 2018 mendatang. Tidak sedikit yang penasaran apa gerangan yang akan dibicarakan keduanya? Apakah kedua kubu berseberangan ini akan rujuk? Atau ada hal yang spesifik bagi keduanya yang harus dibicarakan seperti kemungkinan manuver yang akan dilakukan Jusuf Kalla, atau Perjanjian Batu Tulis yang tidak terealisasi?

Pertemuan Politik Tingkat Tinggi

Apapun isu yang akan dibahas, satu hal pasti bahwa pertemuan Puan Maharani dan Prabowo Subianto menarik dinantikan.

Pertama, tentu saja terkait Puan Maharani. Pertemuan itu dapat dikatakan menjadi pertemuan politik tingkat tinggi pertama yang dilakoni Puah Maharani sebagai politisi. Apalagi belum ada khabar bahwa pertemuan itu juga akan dihadiri Megawati Soekarnoputri, sehingga pertemuan itu akan menjadi ajang pembuktian Puan sebagai pewaris PDIP setelah sebelumnya Agus Harimurty Yudhoyono (AHY) mendapat respon positif ketika maju ke gelanggang Pilgub DKI Jakarta.

Kedua, karena pertemuan itu merupakan pertemuan antara perwakilan dua kubu politik yang berseberangan sekaligus dua kubu paling berpengaruh di Indonesia saat ini. Dikatakan paling berpengaruh karena sejak Pilpres 2014, PDIP dan Gerindra tampil menjadi dua partai politik dominan di Indonesia, yang dalam batas-batas tertentu, menentukan arah kebijakan partai partai lain.

Gerindra memimpin partai-partai yang bergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) sedang PDIP memimpin partai partai yang bergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP). Keduanya membelah politik Indonesia menjadi dua kubu utama, yakni kubu Teuku Umar (rumah kediaman Megawati Soekarnoputri) dan kubu Hambalang (rumah kediaman Prabowo Subianto).

Sejak Pilpres 2014 itu pula, Prabowo dan Megawati menjadi dua pemimpin politik paling berpengaruh di Indonesia, yang memimpin dua gerbong politik yang berbeda yakni gerbong penguasa dan gerbong oposisi.

Dominasi kedua partai ini pula yang mempengaruhi sehingga hanya ada dua calon presiden yang muncul pada Pilpres 2019 mendatang, yakni Prabowo dari gerbong oposisi dan Jokowi dari gerbong penguasa.

Ketiga, Pilpres 2019 merupakan pertarungan ulang antara Jokowi dan Prabowo. Bedanya, apabila pada Pilpres 2014, KMP yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta Radjasa, didukung banyak partai, meliputi Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP, PBB, Partai Demokrat. Kekuatannya mencapai 63,54% kursu di DPR atau 352 dari  560 kursi di DPR atau 59,52% suara nasional.

Sedang KIH yang mengusung Jokowi-Jusuf Kalla diusung PDIP, didukung Hanura, NasDem dan/PKB. Kekuatannya 36.46% atau 208 dari 560 kursi di DPR atau 40.38% suara nasional.

Sementara pada Pilpres 2019 mendatang, peta koalisinya akan berubah drastis. Peta koalisi Pilpres 2019 mendatang diperkirakan akan mirip dengan peta koalisi yang terjadi dalam voting angka presidential threshold di DPR sebelum menetapkan UU Pemilu 2017 lalu.

Jokowi kemungkinan besar didukung oleh sejumlah partai meliputi PDIP, Golkar, PPP, Nasdem, Hanura dan PKB, sementara kubu Prabowo kemungkinan hanya didukung oleh Gerindra dan PKS.

Partai Demokrat belum tentu maju karena jumlah kursi dua partai tersisa yakni Demokrat dan PAN tidak cukup mengusung satu pasang capres.

Siapa lebih kuat? Mudah muncul analisa, Prabowo akan kembali menelan kekalahan karena partai yang mendukungnya menciut.

Tetapi, jangan lupa, sejak kasus Ahok terkait Almaidah 51, peta politik di tingkat bawah mengalami perkembangan hebat, ditandai munculnya gerakan 212 yang membalik keperkasaan Ahot-Djarot sekaligus menjadi faktor utama kemenangan pasangan Anies – Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta.

Sampai sekarang Gerakan 212 yang dimotori Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab dianggap masih eksis, atau setidaknya ingin dihidupkan kembali. Dan untuk itu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri menggelar pertemuan di Mekah, awal Juni 2018.

Pertemuan itu berjalan baik. Rizieq Shihab mendorong empat partai, yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, dan Partai Bulan Bintang, bergabung dan membentuk koalisi keumatan. Hidupnya kembali gerakan 212 akan membuat kubu Prabowo menguat.

Selain itu, saat ini, dikenal luas tagar ganti presiden 2019. Kubu Prabowo mendapat banyak pemberitaan di media maupun di media sosial terkait tagar ini.

Tagar ganti presiden 2019 tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab penyebarannya sangat luas. Dalam ilmu komunikasi, apa yang dikatakan secara berulang, akan dianggap menjadi kebenaran. Gerakan 212 dan tagar ganti presiden 2019 membuat kekuatan Prabowo sangat tidak tidak bisa dianggap enteng, walau nantinya hanya diusung dua partai.

Seperti apa Puan  dan Prabowo membahasakan hasil pertemuanya terkait dengan peta kekuatan dua kubu? Ini juga menjadi penantian.

Keempat, baik Jokowi maupun Prabowo, sampai saat ini belum menetapkan siapa calon wakil presiden yang mendampingi mereka. Sementara pendaftaran capres/cawapres dibuka tanggal 4 Agustus 2018 dan ditutup tanggal 10 Agustus 2018. Ini berarti waktu tersisa bagi kedua kubu tinggal 62 hari lagi. Waktu 62 hari tentu sangat pendek untuk mengambil sebuah keputusan besar berdurasi lima tahun sesuai masa jabatan satu periode presiden.

Sedemikian rupa, ada beberapa hal yang sangat ingin diketahui publik dari pertemuan Puan dan Prabowo. Pertama, apakah Puan mampu membuktikan diri sebagai politisi kuat dan percaya diri seperti Megawati Soekarnoputri?

Kedua, adakah pertemuan itu akan menjadi ajang saling intip antara kedua kubu sebelum menentukan calon wakil presiden? Adakah kedua kubu akan menyebut salah satu nama calon wakil presiden yang sudah masuk dalam bursa seperti mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmatyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Bos Transmaret Chairul Tandjung, pewaris PDIP Puan Maharani, Imam Besar FPI Habib Rizieq, Ketua Umum PKB Iskandar Muhaimin, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, mantan Cagub DKI Agus Harimurty Yudhoyono (AHY), dan lain sebagainya? Ketiga, apakah pertemuan itu berpeluang jadi ajang rujuk antara kedua kubu?

Manuver Jusuf Kalla?

Itu harapan publik. Tetapi apakah itu yang akan dibahas oleh Puan dan Prabowo dalam pertemuan? Sampai sekarang belum ada yang mengetahui. Yang diketahui adalah bahwa rencana pertemuan itu sudah muncul sejak April dan diinisiasi oleh Puan Maharani.

“Ada rencana, saya mau ketemu Mas Bowo,” kata Puan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/4/2018).

Gayung besambut, Prabowo merespon positif. “Pasti (dipenuhi rencana bertemu), namanya orang mau ketemu masak kita nggak terima,” kata Prabowo kepada wartawan setelah menghadiri Rakernas Hukum Partai Gerindra di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Kamis (5/4/2018).

Setelah berjalan hampir dua bulan, dan setelah Prabowo bertemu Habib Rizieg Shihab dan melahirkan istilah Koalisi Keummatan, rencana pertemuan tak mengalami perubahan.

“Insha Allah ini masalahnya, masalah teknis waktu. Beliau sibuk saya juga ada kegiatan. Tetapi Insha Allah pastinya secepatnyalah. Saya juga sudah siap sama-sama sudah siap jadi tinggal masalah teknis waktu,” ujar Puan, di Komplek Parlemen, Kamis (7/6/2018)

Itu mengindikasikan bahwa pertemuan itu dinilai penting oleh keduanya.

Namun apa isu yang akan dibahas? Sekali lagi tidak ada yang tahu.

“Saya karena Ibu Puan adalah tokoh politik, Pak Prabowo tokoh politik, mungkin saja bicara soal politik. Tapi bisa saja bicara tren makanan Lebaran,” ujar Sekjen Gerindra Ahmad Muzani di kediaman Oesman Sapta Odang, Jl Karang Asem Utara, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (31/5/2018).

Sedang Putra Amien Rais, Hanafi Rais menduga, pertemuan Prabowo dan Puan tidak menutup kemungkinan terkait dengan koalisi dua partai itu pada Pilpres 2019. Alasan Hanafi adalah karena saat ini posisi petahana Presiden Joko Widodo yang menjadi jagoan PDIP, dalam beberapa survei elektabilitasnya berada dalam trend menurun.

Namun dugaan Hanafi Rais dipastikan Sandiaga Uno tidak akan jadi bahasan. Sandiaga Uno menegaskan, pertemuan Puan-Prabowo tidak ada kaitannya dengan masalah rekonsiliasi dan bergabung pada Pilpres 2019.

“Jangan diartikan apakah comeback-nya MegaPro (Mega-Prabowo) atau kemungkinan kita rekonsiliasi terus bisa bergabung bersama di 2019. Karena ini 10 tahun yang lalu, kami pernah bersama-sama. Jangan diartikan seperti itu, kita murni,” ucap Sandiaga.

Dari kubu PDIP muncul pernyataan yang dikemukakan Sekretaris Fraksi PDIP Bambang Wuryanto.

“Menurut asumsi subjektif saya, ini kan (Pertemuan Puan dan Prabowo, red) tentu terjadi, Mbak Puan akan bicara dengan Pak Prabowo dalam rangka sesama elite politik untuk meneduhkan suasana,” kata Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul di Gedung DPR Senayan Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Sebab, kata Bambang, situasi politik yang gaduh tidak baik. Bambang mengungkapkan bahwa pernyataan Prabowo relatif keras di dalam dunia politik.

Meneduhkan suasana sebagai alasan memang sangat masuk akal. Sebab, sejak Pilpres 2014 kedua kubu berseteru hebat dan persaingan keduanya berlangsung keras.

Tetapi kalau untuk meneduhkan suasana, mengapa yang bertemu hanya Puan dan Prabowo. Bukankah untuk isu seperti itu lebih relevan apabila semua ketua umum partai duduk bersama?

Karena yang melakukan pertemuan adalah Puan Maharani dan Prabowo Subianto, maka sangat patut diduga, ada isu penting yang secara spesifik terkait dengan kepentingan kedua kubu.

Apa isu penting apa yang secara spesifik terkait dengan kepentingan kedua kubu?

Setidaknya ada dua isu dalam hal ini. Pertama, isu di seputar Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). JK adalah sosok yang tidak bisa lagi mencalonkan diri menjadi cawapres karena sudah dua kali. Tetapi, JK bisa mencalonkan diri menjadi presiden.

Oleh sebab itu, JK kemungkinan akan bermanuver dalam even pilpres mendatang. Manuver apa yang kemungkinan dilakukan JK?

Mungkin terkait dengan dirinya yang hanya bisa dicalonkan menjadi calon presiden, atau manuver untuk menentukan siapa calon wapres bagi kubu Gerindra dan PDIP.

Isu ini berpotensi menjadi bahasan karena JK adalah seorang tokoh keliber tinggi. JK sudah beberapa kali membuktikan diri mampu bermanuver hebat. Sebut misalnya manuvernya dalam kasus Bank Century yang luar biasa.

Jelang Pilpres 2014, JK awalnya mengemukakan sesuatu yang negatif apabila Jokowi menjadi presiden. Tetapi dengan manuver tertentu, JK akhirnya mantap menjadi cawapres untuk Jokowi. Ditambah lagi manuvernya terkait Anies Baswedan dan kompromi reklamasi Teluk Jakarta.

Jaringan, visi, keberanian dan keberadaannya sebagai wakil presiden saat ini, tentunya menjadi kekuatan tersendiri bagi JK untuk melakukan manuver dan menjadi king maker di even Pilpres 2019.

Oleh sebab itu, dalam pertemuan Puan dengan Prabowo, manuver JK kemungkinan akan jadi topik bahasan. Sebab, apabila manuvernya berhasil dan  JK menjadi king maker, maka yang dirugikan tidak hanya kubu PDIP tetapi juga kubu Gerindra.

Isu kedua, yang kemungkinan akan dibahas dalam pertemuan Puan – Prabowo adalah apa yang disebut sebagai Perjanjian Batu Tulis Bogor tahun 2009. Isu ini secara umum dikenal sebagai perjanjian antara Mega dan Prabowo terkait capres dan cawapres.

Seperti diketahui, pasangan Mega-Prabowo yang maju pada Pilpres 2009 disepakati di Istana Batu Tulis Bogor. Namun, kesepakatan itu diimbuhi kesepakatan lain. Yakni, keduanya bergantian menjadi capres. Tahun 2009 Mega capres, Prabowo cawapres. Tahun 2014 giliran Prabowo jadi capres dan Mega atau kader PDIP yang disejutui Mega jadi cawapres.

Perjanjian ini tidak terealiasi pada 2014. PDIP ketika itu mengusung Jokowi bersama JK.

Perjanjian ini kemungkinan menjadi topik bahasan, pertama karena isu ini terkait dengan kepentingan kedua kubu. Selain itu, kuat diduga isu inilah pangkal dari perseteruan keras antara kubu Gerindra dan PDIP, yang memicu terbentuknya dua kubu politik dominan, dan yang memicu iklim politik panas yang terus memproduksi nomenklatur ekstrim sejenis toleran dan intoleran, tagar ganti presiden 2019 dan lain sebagainya.

Rujuk dua kubu mungkin sudah tidak mungkin, tetapi membicarakan dan memperoleh kesamaan pemikiran terhadap Perjanjian Batu Tulis yang tidak terealiasi bisa mengubah hubungan antara kedua kubu dari bersaing secara keras menjadi bersaing secara sehat. Atau ini yang disebut Bambang Wuryanto di mana pertemuan keduanya bertujuan untuk meneduhkan suasana?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here