Perundingan Trump – Jong-un, Perjudian Abad ke-21

0
155
Seorang delegasi Korea Selatan saat bertemu Kim Jong-un yang membawa pesan Presiden Korea Utara itu bersedia berunding dengan AS dengan opsi moratorium uji coba nuklir dan peluncuran rudal

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah setuju dengan usulan berunding Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Persetujuan iti diungkap saat Trump bertemu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Gedung Putih pekan lalu. Hingga berita ditulis belum ada tanggapan dari Kim Jong-un atas persetujuan Trump itu.

Persetujuan dua pemimpin yang sebelumnya saling ejek – Trump menyebut Jong-un “little rocket” dan sebaliknya Jong-un menyebut Trump “dotard” – itu membuktikan kepiawaian diplomatik Presiden Korea Selatan Moon Jae-in yang ibunya berasal dari Korea Utara dan mengungsi ke selatan pada 1950-an. Tapi Jae-in mengaku hasratnya mempertemukan Trump dan Jong-un bukan untuk mencetak “point politik”. Melainkan tidak ingin keluarganya di utara menderita oleh penindasan rezim komunis.

“Ibu saya sudah berumur 90 tahun, sebelum meninggal dunia dia ingin bertemu adiknya yang masih tinggal di Utara,” ungkap Jae-in tentang motivasinya memprakarsai perdamaian di Semenanjung Korea.

The Unlikely Triangle

Meskipun perundingan itu baru sebatas rencana namun sudah diejek oleh meme berjudul “the unlikely  triangle : Trump, Rodman and Jong-un” yang beredar di media sosial. Ketiga sosok itu digambarkan sebagai segitiga yang dibenci – sebagian besar – masyarakat Amerika. Pesan dari meme itu jelas menyerang pribadi Trump dan Jong-Un yang tidak layak berunding dalam tatanan dunia yang beradab.

Rodman – aktor Amerika – dibenci masyarakat karena pada 2017 lalu bertemu Kim Jong-un, bahkan memberikan cendera mata majalah Amerika bergambar Donald Trump kepada Jong-un. Kini Moon datang ke AS dan menawari Trump berunding dengan musuh bebuyutan Amerika. Maka, the unlikely triangle itu sebenarnya juga ditujukan kepada Moon yang mengambil peran moderator dalam perundingan AS Vs Korea Utara.

Pemimpin Korea Utara sangat tidak disukai karena disebut-sebut sebagai pemimpin brutal dan ambisius yang menghancurkan negerinya, sedangkan Trump digambarkan sebagai pribadi yang tidak kalah brutal – meledak-ledak – dalam permainan yang sangat licik. Dengan kata lain keberhasilan diplomatik dari pendekatan yang dilakukan Jae-in itu tergantung siapa saja yang terlibat dalam perundingan.

Persoalannya, aktor penting dalam rencana perundingan ini – Kim Jong-un – satu-satunya yang belum membuat pernyataan langsung di hadapan publik. Padahal dia pemain yang paling penting dalam perundingan yang digambarkan analis politik di Barat sebagai “Perjuadian Politik Abad le-21”.

Saat dia menyampaikan salam kepada koleganya di Selatan di tengah Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang – terlihat jelas Kim Jong-un sudah menguasai teknik-teknik propaganda yang paling canggih.  Undangan pribadinya kepada Trump – termasuk komitmennya menghentikan uji coba nuklir – dinilai sejumlah kalangan sebagai “masterstroke” diplomatik – atau tindakan yang sangat terampil dan tepat; langkah yang sangat pandai – di tengah permusuhan yang sangat telanjang antara Amerika Serikat dan Korea Utara dalam satu tahun terakhir ini.

Tapi risiko di sini akan ditanggung oleh Presiden Korea Selatan Jae-in dan Trump. Di saat keduanya tidak bisa mengklaim penguasaan narasi tunggal – tanpa strategi keluar yang jelas – dan apabila ada begitu banyak definisi untuk kesuksesan atau kegagalan; aka nada banyak hal yang dipertaruhkan.

Permainan Jae-in

Moon Jae-in kini dipandang oleh para pendukungnya telah memimpin perundingan di tengah kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Korea Utara – dan setidaknya bisa membuat Kim berbicara tentang kemungkinan menyingkirkan senjata nuklir dari semenanjung Korea yang selama ini ditentangnya.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in

Moon dipandang telah melihat peluang itu tatkala menyimak pidato Kim Jong-un pada bulan Januari – yang menawarkan secercah harapan bahwa negara tertutup itu bersedia terlibat dengan selatan – sekaligus mencengkeram erat dengan kedua tangan saat berjabat tangan dengan Moon. Tingkat diplomasi yang beku antara Utara dan Selatan kini tampak lebih cair.

“Banyak kalangan yang menyebut, ini serangan ofensif dari utara. Tapi saya berpikir ini justru serangan ofensif dari Selatan. Ini adalah sesuatu yang ingin kita ketahui tentang Presiden Moon Jae-in,” papar John Delury – pakar politik dari Universitas Yonsei – kepada wartawan BBC bahkan sebelum perundingan kedua pemimpin Korea itu berlangsung.

Moon tahu, utusannya harus mengeluarkan kata “deniklirisasi” dari Kim saat mereka berkunjung ke Pyongyang. Dia juga tahu memiliki dua menteri di pemerintahan tingkat atas yang merasa nyaman dengan pemimpin Korea Utara yang juga akan diterima – baik oleh Washington maupun Tokyo.

Keberhasilan diplomatik Moon akan sepadan dengan risikonya. Amerika Serikat tidak mungkin berbicara dengan negeri komunis itu tanpa melibatkannya. Delegasi yang dipilih dicari yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Pemimpin Korea Selatan ini mengambil peran “broker” yang jujur menangani Trump dan Kim pada saat bersamaan.  Dia kan melakukan pilihan kata yang sangat hati-hati, sambil terus mencengkeram kartunya mendekat ke dada – agar tak diintip pihak lain – dan sekaligus memuji orang-orang yang menanggapi permainan ini.

Kepentingan Korea

Dalam setiap pidatonya Presiden Trump – bahkan presiden sebelumnya – selalu menyoal penghapusan senjata nuklir sebagai syarat berunding dengan Korea Utara.

Dalam pidato Trump menyambut tahun baru, Moon menyebut Trump pantas “mendapatkan pujian besar” untuk pembicaraan antara kedua Korea – karena pujian itu akan menyenangkan suasana hatinya. Dia juga akan menggunakan bahasa yang akan meyakinkan pemerintahan Partai Republik. Bahasa pernyataan yang berisi pujian itu sangat menghibur dan mempesona Trump yang haus pujian.

Moon juga menegaskan – sanksi terhadap Korea Utara tetap berlaku dan Trump membenarkan pernyataan itu.

Namun semua orang tahu tidak akan semudah itu. Enam bulan lalu Trump mengancam akan menyerang Korea Utara. “Api dan kemarahan seperi yang belum pernah terjadi di dunia” akan menjadi kenyataan apabila Korea Utara berani mengancam AS. Prof. Haksoon Paik – peneliti utama di Sejong Institute – mengatakan bahwa tingkat ancaman dirasakan “sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Presiden Moon sangat khawatir dengan ancaman perang nuklir dan Kim Jong-un berada dalam situasi yang sama. Kami mendengar dari orang-orang seperti Senator Lindsay Graham bahwa kehidupan akan hilang di sini – kepemimpinan Donald Trump yang tidak ortodoks dan tidak stabil juga turut membuat kekhawatiran kedua negara korea ini,” papar Haksoon.

AS selama ini selalu mempertahankan argumentasi program denuklrisasi secara permanen di Korea Utara sebagai endgame (tujuan akhir). Dengan adanya kejutan persetujuan Trump berunding dengan Kim – hanya sedikit yang percaya Kim akan setuju denuklirisasi itu. Apabila tidak tercapai kesepakatan itu pilihan apa yang dimiliki oleh Trump?

Pertanyaannya apakah Moon Jae-in – dan juga Donald Trump – telah dimanipulasi oleh Korea Utara yang sebelumnya sudah kelewat sering melakukan strategi itu?

“Dengan menawar program denuklirisasi dengan tawaran moratorium uji coba nuklir dan rudal, Kim berusaha melemahkan sanksi dan mencegah pre-emption militer AS sekaligus mengkondisikan dunia untuk menerima Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir yang sah,” ulas Prof. Lee Sung-yoon dari Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University.

Bagi Trump ini bisa menjadi salah satu gerakan yang paling berani dan paling bersejarah yang pernah dilakukan oleh seorang Presiden AS dalam hubungan luar negeri.

Jika perjudian ini berhasil – Trump bisa memuji diri sendiri sebagai Presiden yang berhasil menakhlukkan Korea Utara di saat bayang-bayang kekalahan partainya makin mendekat pada Pemilu Sela November 2018 nanti. Trump meyakini, strategi tekanan maksimum dan karyanya telah memaksa China memberikan tekanan ekonomi kepada Korea Utara.

Dalam perbincangan santai dengan wartawan di ruang briefing Gedung Putih, Trump menyebut rekan-rekan media akan memberikan apresiasi atas misi diplomatiknya – termasuk juga calon pemilih Partai Republik dalam pemilu sela nanti.

Tapi ada satu hal yang patut mendapatkan sorotan – dengan adanya perundingan – yang memberikan Kim berada dalam posisi setara dengan Presiden AS. Ini bisa menjadi bencana public relations (PR). Terlebih perundingan tinggal beberapa bulan lagi, dengan melibatkan dua pimpinan yang sebelumnya saling menghina dengan sebutan “little rocket” untuk Kim dan “dotard” (tua bangka) untuk Trump.

Prof Robert E Kelly dari Universitas Busan, Korea Selatan, juga khawarir dengan kebiasaan Presiden AS itu. “Trump tidak belajar atau bahkan membaca. Dia cenderung bertindak liar keluar dari naskah. Dan mungkin hampir tidak ada waktu untuk semua ersiapan staf yang diperlukan,” tulis Kelly di Twitter pribadinya.

Pyongyang telah memainkan permainan ini selama beberapa dekade. Sedangkan Trump baru masuk permainan ini. Dia mungkin melihat kemenangan besar di cakrawala – tapi buku “Art of Deal” tidak akan pernah menjadi panduan yang harus dia hadapi melawan Kim Jong-un.

Politik Pribadi

Bagi Moon Jae-in hasrat berunding dengan Korea Utara sudah dia lakukan sebelumnya. Saat menjadi Kepala Staf Presiden Roh-Moo-hyun dia berperan dalam negosiasi dengan Korea Utara. Kala itu dia sempat bertemu ayah Jong-un – Kim Jong-il – tahun 2007. Itulah terakhir kali kedua pimpinan Korea  berunding dalam pertemuan puncak. Namun peluncuran satelit oleh Pyongyang telah mengakhiri kesepakatan di antara dua negara serumpun itu.

Padahal Korea Selatan sempat membantu Korea Utara sebesar US$ 4,5 miliar untuk mempercepat program denuklirisasi Korea Utara. Hubungan yang sempat terputus kembali terjahit saat Moon terpilih menjadi Presiden Korea Utara. Olimpiade musim dingin benar-benar dimanfaatkan Moon Jae-in menggalang hubungan dengan Korea Utara – asal-usul nenek moyangnya.

“Moon sebenarnya menapak jalan yang sama dilakukan oleh dua presiden dari Partai Liberal pendahulunya. Ini adalah pekerjaan politik yang dia ambil dan lanjutkan,” ungkap Duyeon Kim – rekan senior Moon di Forum Semenanjung Korea.

Sebagai anak pengungsi dari Utara, Moon Jae-in merasakan secara pribadi dampak konflik di semenanjung itu. Orang tuanya melarikan diri dari Korea Utara ke sebuah kapal barang milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1950 – saat perang Korea mulai berkecamuk.

Saat kampanye Pilpres, Moon mengatakan kepada wartawan : “Ayah saya melarikan diri dari Utara, membenci komunisme, saya sendiri membenci sistem komunis Korea Utara. Tapi bukan berarti saya membiarkan saudara-saudara di Utara menderita di bawah rezim yang menindas.”

Presiden Moon telah mengakui adanya kendala di garis depan. Tapi Moon tetap mengelola harapan dan berusaha mewujudkannya meskipun gagal. Duyeon Kim sendiri yakin pada akhir proses negosiasi ini semua pihak akan gagal. Korea Utara akan tetap bersikukuh mempertahankan senjata nuklirnya.

“Anda tidak tahu, saya rasa itu bukan peneybab yang hilang terlepas dari semua keraguan dan skeptisisme semua pihak harus masuk dengan tujuan yang jelas dan bernegosiasi dengan keras,” ujar Duyeon Kim.

Keinginan Moon mempersatukan Tim Hoki Perempuan dalam Olimpiade Musim Dingin dengan melibatkan atlit Korea Utara pernah mendapatkan penentangan di negaranya – antara lain karena Tim Hoki Korea Utara sebelumnya menadaptkan briefing dari Jenderal Korea Utara yang terlibat serangkaian pembunuhan misterius terhadap warga Korea Selatan – meskipun pada akhirnya Moon bisa melanjutkan “misi perdamaiannya”.

Dalam hal ini Diyeon Kim mengulas, Moon mungkin akan menderita secara politis apabila kesempatan ini gagal – tapi untuk secara pribadi. Ini juga yang disampaikan kepada majalah “Time” saat dia mencalonkan Presiden: ”Ibu saya satu-satunya keluarga yang melarikan diri ke Selatan. Dia berumur 90 tahun. Adiknya yang tinggal di Utara masih hidup. Keinginan terakhir ibuku adalah menemuinya lagi.”

Perundingan AS Vs Korea Utara yang diharapkan Moon dapat membawa kebaikan bagi negaranya itu suatu pertaruhan besar melawan negara komunis yang sulit dibaca. Apabila berhasil, Moon dikenang sebagai tokoh yang membantu mencegah terjadinya Perang Nuklir di semanjung Korea. Hadiah Nobel mungkin menantinya.

Sebaliknya – apabila gagal – itu akan kembali ke keadaan sebelumnya. Tegang dan penuh ancaman.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here