Perusahaan Pencemar Sungai Cileungsi Dalam Pengawasan

1
604
Petugas Kementeriah Lingkungan Hidup dan Kehutanan, didampaingi aparat Desa Bojong Kulur, warga masyarakat dan Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), sedang mengambil sampel air tercemar limbah di Sungai Cileungsi.

Nusantara.news, Cileungsi – Dalam tiga bulan terakhir warga Vila Nusa Indah V, Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, dihebohkan oleh limbah industri yang mencemari sungai. Sungai yang harusnya jernih berubah menjadi hitam pekat dan berbau menyengat, Pemkab Bogor telah mengantungi lima perusahaan pencemar tersebut.

Ihwal pencemaran sungai ini bermula dari keluhan masyarakat sekitar bantaran Sungai Cileungsi di wilayah Desa Cikuda, Wanaherang, Kabupatem Bogor, heran dengan sungai itu. Sebabnya, air sungai yang berhulu di Sentul, Bogor, dan bermuara di Bekasi tersebut, menghitam diduga karena pencemaran limbah industri di sepanjang sungai.

Menurut Muhammad Rizki, pada September 2017 sebenarnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Bogor sudah menginspeksi pencemaran tersebut. Hanya saja tingkat pencemaran saat itu belum separah tiga bulan terakhir, diduga ada lima perusahaan pencemar yang secara rutin membuang limbah ke sungai.

Dia memaparkan kelima perusahaan itu antara lain bergerak di bidang pengolahan kertas, pengolahan sabun, pengelola laundry, produsen minuman ringan, dan perusahaan instalasi pengolahan air limbah. Kelima perusahaan tersebut antara lain menggunakan bahan bakar batubara, kerap kali limbahnya dibuang ke sungai.

Kelima perusahaan inilah yang menebarkan aroma tak sedap, seperti bau amis atau bau busuk sampah, bahkan seperti aroma zat kimia yang begitu pekat. Air sungai berwarna hitam dan berbusa. Rizki sendiri enggan menyebut persis nama perusahaan dimaksud.

Ia hanya memberi inisial perusahaan, yakni PT ML, PT PK, PT PBU, dan PT AK. Ia lupa inisial satu perusahaan lainnya. Kelima perusahaan tersebut saat ini dalam pengawasan DLHK Kabupaten Bogor.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman mengatakan, pada Senin, 20 Agustus 2018 lalu, dirinya bersama anggota komunitas lainnya menelusuri Sungai Cileungsi. Hasilnya, dia mendapati air di hulu sungai di Desa Tlanjung Udik, masih relatif bersih dan jernih.

“Sekitar satu kilometer setelahnya, tepatnya di Kampung Bojong, Desa Cicadas, Gunung Putri, air mulai menghitam,” kata Puarman.

Puarman menambahkan, di pos pantauan di Jembatan Cikuda, Desa Wanaherang Kecamatan Gunung Putri, Bogor, hingga ke Bekasi warna air sungai sudah sangat pekat dan bau. “Hitamnya sudah 3 bulan, kondisi terparah sudah mulai dari 2 minggu belakang hitam pekat,” kata Puarman.

Sebelumnya, masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Cileungsi mengeluhkan sungai yang menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap. “Warga sekitar mengeluh sesak nafas dan mual-mual karena bau,” urainya.

Karena itu Puarman dan anggotanya berusaha menghubungi DLHK dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk pengambilan sampel air ini. Puarman dan tiim juga ikut menyisir sungai bersama KLHK, berharap ada solusi kongkret terkait untuk menyelesaikan permasalahan sungai tercemar ini.

Menurutnya, belum lama ini pihaknya melakukan susur sungai yang dilakukan oleh timnya. Tim itu terhenti karena  dikejutkan oleh sebuah pipa berdiameter 70 sentimeter yang tertanam ditengah-tengah sungai. Pipa tersebut mengeluarkan limbah, dan merubah warna sungai menjadi hitam. Diduga, pipa yang mengalirkan limbah ke Sungai Cileungsi ini milik salah satu perusahaan yang berada tak jauh dari Sungai Cileungsi.

“Apakah limbah yang keluar dari pipa tersebut berbahaya atau tidak, instansi terkait yang mengetahuinya setelah dilakukan uji laboratorium,” jelasnya.

Pipa berdiameter 70 cm milik salah satu perusahaan yang air limbah hitam pekatnya langsung dialiri ke tengah Sungai Cileungsi.

Dirinya berharap, ada sanksi hukum yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor terhadap perusahaan yang mengenali Sungai Cileungsi, serta adanya upaya untuk menjaga, dan melestarikan Sungai Cileungsi.

Sementara itu, salah seorang petugas dari Dirjen Pengendalian dan Pencemaran Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Walgito mengungkapkan, setelah mendapatkan pengaduan dari KP2C, pihaknya langsung terjun ke lapangan untuk menganalisa dugaan pencemaran terhadap Sungai Cileungsi.

“Kita lakukan sampling pada air sungai ini di tiga titik berbeda di 3 titik. Di bagian hulu sungai di Jembatan Wika, di tengah yang merupakan titik air yang mulai menghitam di Desa Cicadas, dan di hilir sungai di Vila Nusa Indah 5,” ungkapnya.

Mengenai dugaan bahwa pipa yang ada di tengah-tengah sungai ini merupakan pembuangan limbah tanpa dikelola terlebih dahulu atau bukan, ia pun belum bisa memastikannya.

“Memang air yang keluar dari pipa tersebut merubah warna air sungai, namun ini belum bisa dikatakan pencemaran sebelum dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui parameter pencemaran itu sendiri,” ujarnya

Menurut Sigit, jika memang indikasi dugaan pencemaran sungai ini terbukti dengan adanya hasil uji laboratorium, maka perusahaan yang membuang limbah ke Sungai Cileungsi ini akam diberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Pantauan dilapangan, ketika mengikuti KLH untuk menelusuri Sungai Cileungsi, pipa yang tertanam ditengah-tengah sungai tersebut merupakan milik PT Kahaptek. Saat dimintai keterangannya, pihak PT Kahaptek belum bersedia untuk memberikan penjelasan mengenai pipa saluran limbah yang ada di Sungai Cileungsi tersebut.

Sejak 2012

Sebenarnya ihwal pencemaran sungai Cileungsi sudah pernah diriset oleh Tika Mustika Effendi, mahasiswi Universitas Gajah Mada (UGM).  Riset itu sendiri untuk memenuhi syarat pengambilan gelar masternya. Berikut ini beberapa paparannya.

Sungai Cileungsi adalah salah satu sungai yang mengalir di Kabupaten Bogor Jawa Barat. Sungai ini mengalir melewati daerah-daerah yang memiliki industri dengan jumlah yang cukup banyak. Industri-industri tersebut tersebar, baik di dalam zona industri yang ditetapkan maupun di luar zona industri.

Sungai Cileungsi rentan terhadap pencemaran akibat air limbah industri yang masuk ke sungai mengingat ada ribuan perusahaan yang ada di pinggir sungai Cileungsi.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, obyek kajiannya adalah kualitas air sungai dan limbah industri, serta kondisi sosial ekonomi, pengetahuan, dan persepsi masyarakat.

Hasil penelitian Tika menunjukkan semakin ke hilir konsentrasi parameter polutan cenderung semakin meningkat, dan konsentrasi parameter kandungan oksigen cenderung semakin menurun, meskipun di beberapa titik masih berada di bawah baku mutu. Parameter lain, yaitu: suhu, total padatan terlarut (TDS), kadar Ph, kadar Nitrit (NO2), kadar Nitrat (NO3), flour (F), dan kadmiun (Cd) masih ada di bawah baku mutu.

Sedangkan parameter seng (Zn) dan klorida (Cl) bebas hanya terdeteksi di beberapa titik sampling saja. Identifikasi fitoplankton menunjukkan bahwa Sungai Cileungsi termasuk kategori perairan terganggu. Status mutu air Cileungsi saat penelitian berada pada kondisi cemar ringan sampai dengan sedang.

Limbah industri telah mempengaruhi kualitas air Sungai Cileungsi, ditandai dengan meningkatnya indeks pencemaran saat melewati zona industri, khususnya zona industri 2. Strategi pengelolaan lingkungan Sungai Cileungsi meliputi perencanaan, pengendalian, dan penegakan hukum dengan melibatkan unsur kelembagaan, yaitu industri, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Sementara pada 2017, Bupati Bogor Nurhayanti telah menugaskan DLHK Kabupaten Bogor untuk menelusuri penyebab tercemarnya Sungai Cileungsi. Dia juga mendukung jika DLHK memberikan saksi pada perusahaan pencemar air sungai tersebut.

Terkait pencemaran secara umum di sungai Cileungsi itu, menurut Kepala DLH Kabupaten Bogor Pandji Ksyatriadi bahwa pihaknya telah melakukan pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan untuk kemudian diberi sanksi.

Pandji mengatakan, pihaknya secara rutin telah melakukan sosialisasi dan pengawasan rutin pada perusahaan yang ada disekitar sungai Cileungsi. Meski pengawasan telah dilakukan berkala, Pandji menyesalkan masih ada perusahaan nakal yang melanggar. Saat ditanya perusahaan apa yang melakukan pelanggaran pun, Pandji enggan memberi jawaban.

Dari uraian di atas, sebenarnya terlihat eskalasi perburukan kualitas air sungai, dari sebelumnya jernih, keruh, hingga dalam 3 bulan terakhir berubah menjadi hitam pekat. Itu sebabnya sudah saatnya dilakukan audit kualitas pencemaran dan memberi sanksi penutupan izin usaha bagi perusahaan yang kedapatan membuang limbah tersebut.[]

1 KOMENTAR

  1. Didaerah parung dengdek/tanjung ada sebuah pabrik peleburan timah yang mana limbah kimia nya dibuang bebas ke sungai, berhubungan lokasi pabrik percis dipinggir sungai

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here