Pesan Abah Hasyim Sebelum Wafat

0
200

Nusantara.news, Jakarta – Kemarin, (16/3), Indonesia kehilangan ulama besar penyejuk suasana, KH Hasyim Muzadi. Anggota Dewan Pertimbangan Preside dan Mantan Ketum PBNU berpulang di kediamannya di Kota Malang, Jawa Timur, pukul 06.15. Tokoh NU yang disebut presiden sebagai guru bangsa itu wafat pada usia 72 tahun setelah berjuang melawan sakit sejak Januari silam. Jenazah kiai kelahiran 8 Agustus 1944 itu dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al Hikam Depok, Jawa Barat, sesuai pesannya kepada keluarga.

Kepergian Abah Hasyim, demikian panggilan akrabnya, tidak saja meninggalkan catatan jasa dan pengabdiannya untuk bangsa, tetapi juga meninggalkan pesan kepada kerabat dan tokoh.

Arif Zamhari,  menantu Kiai Hasyim mengatakan, saat kondisi kesehatannya mulai menurun, Kiai Hasyim pernah meminta kutipan Kitab Al Hikam dipajang di kamarnya. “Beliau minta salah satu kutipan dari kitab Al Hikam yang sering beliau ajarkan kepada santrinya untuk ditempel di rumah atau kamarnya. Itu dilakukan saat beliau dalam kondisi kurang sehat. Saya kira itu juga bagian dari wasiat beliau yang ditempel di kamar dan di  rumah Malang, ” ujar Arif di Rumah Duka, Beji, Kukusan, Depok, Kamis (16/3/2107).

“Bunyi dari kutipan itu intinya ingatkanlah dirimu untuk tidak mengatur segala sesuatu yang sudah diatur oleh Tuhan. Jadi kita nggak boleh ngatur-ngatur Tuhan. Saya kira itu sangat dalam sekali,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, mengenai jenazah Kiai Hasyim yang dimakamkan di Pondok Pesantren Al Hikam Depok, rupanya ini juga bagian dari wasiat yang pernah disampaikan kepada keluarga dan santrinya. Untuk itu, keluarga memenuhi keinginan terakhir Hasyim untuk dimakamkan di Kompleks Al Hikam Depok.

Wasiat itu dibenarkan oleh kerabat Hasyim, Ahmad Shodiq, 64 tahun. Dia mengatakan Hasyim ingin dimakamkan di Depok agar lebih dekat dengan santri dan memudahkan kerabat serta keluarganya untuk menjangkau makamnya. “Saya secara langsung diwasiatkan lima tahun lalu, bahwa beliau ingin dimakamkan di Depok,” kata Shodiq, Kamis, (15/3).

Senada dengan Ahmad Shodiq, Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriana mengungkapkan jika mendiang sangat bahagia tinggal di Kompleks Pesantren Al Hikam Depok, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya di ‘kota belimbing’ tersebut.

Ketika mendengar kabar Kiai Hasyim berpulang, Pradi mengaku sangat kehilangan tokoh spritual yang karismatik seperti KH Hasyim Muzadi. “Beliau tokoh agama yang paling dikagumi banyak orang termasuk saya pribadi. Beliau karismatik, wise  dan humble . Saya sangat kehilangan,” ujar Pradi ditemui di rumah duka, Depok, Kamis (16/3)

Dirinya masih mengingat ketika terakhir bertemu saat acara Maulid Nabi. Almarhum menyempatkan diri hadir walaupun dalam kondisi kurang sehat dan dipapah. “Itu artinya beliau sangat menghargai orang lain. Beliau sangat disegani, karena beliau bisa merangkul semua kalangan,” tandasnya.

Pesan Kiai Hasyim yang sangat membekas di benak Pradi, yakni supaya menjaga perkataan dan perbuatan jika ingin selamat dunia akhirat. “Itu pesan beliau yang membekas pada saya. Kami sangat beruntung beliau tinggal di Depok,” tutupnya.

Wasiat Kiai Hasyim lainnya juga pernah diutarakan kepada Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa. Khofifah mengatakan, KH Hasyim Muzadi menitipkan pesan agar menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kiai Hasyim berpesan menjaga harmoni merupakan kunci Indonesia menjadi bangsa yang baik. Itu disampaikan kepada Khofifah ketika bersilaturrahmi minggu lalu ketika Kiai Hasyim terbaring sakit.

“Kalau harmoni dijaga maka NKRI akan bisa terjaga dengan baik,” ujar Khofifah, mengulang kembali pesan Kiai Hasyim, di rumah dukua kompleks Al Hikam, Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3).

Menurutnya, Hasyim Muzadi merupakan sosok ulama rasional yang meletakkan kepentingan umat di atas kepentingan dirinya. Pengalaman itu dia rasakan saat Muktamar NU ke-33 Jombang tahun 2015. Ketika itu Hasyim bersama Solahuddin Wahid terlibat perseteruan dengan kubu Said Agil karena proses Muktamar dinilainya banyak menyalahi aturan dan menabrak rambu-rambu yang menjadi pedoman organisasi. Buntut dari peselisihan tersebut, sebagian besar PWNU dan PCNU berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng dan mendesak diadakannya Mukatamar tandingan, bahkan NU tandingan.

Eddy Junaedi, Ketua LBH Kalimasadha Nusantara, juga punya catatan khusus tentang Kiai Hasyim. Salah satunya ada responnya yang sangat cepat jika mendengar ada persoalan di masyarakat. Satu ketika, di awal 2016, Eddy Junaidi, yang juga  Pemimpin Redaksi Nusantara.news, berkunjung ke rumah Kiai Hasyim di Depok.

Di sela-sela pertemuan, Eddy menceritakan bahwa LBH yang dipimpinnya tengah mengadvokasi masyarakat di Serang, Banten, terkait soal ditutupnya sumber air yang menyangkut 10.000 kepala keluarga oleh perusahaan air mineral. Meskipun masyarakat telah melaporkan persoalan ini ke Polda Banten, namun ketika itu belum ada tindak lanjut. Sementara saat perusahaan air minum tersebut melaporkan tentang perobohan pagar perusahaan tersebut dalam sebuah unjuk rasa, polisi langsung memanggil delapan orang ulama.

Mendengar soal itu, Hasyim Muzadi langsung menemui Brigjen Pol Boy Rafli Amar yang kala itu Kapolda Banten untuk meminta klarifikasi. “Saya sudah kenal Boy Rafly sejak dia masih komisaris besar polisi. Dia orang baik. Saya harus temui Boy terlebih dulu, nanti baru tahu saya harus menemui siapa lagi untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Hasyim Muzadi.

“Itu kan memperlihatkan bahwa beliau sangat peduli. Reaksinya cepat begitu mendengar ada persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujar Eddy. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here