Pesan Elok dari Selandia Baru

0
157
Muslim melaksanakan salat Jumat di christchurch, sementara non muslim yang hadir membentuk rantai manusia dan menjaganya. Di tengah, berdiri Perdana Menteri Selandia Baru Lucinda Ardern

Nusantara.news, Jakarta – Angkat topi dan iri. Mungkin kata-kata itu yang cocok untuk menggambarkan bagaimana cara Selandia Baru menangani terorisme. Bagaimana tidak, pasca dua masjid di Kota Christchruch diberondong peluru oleh teroris biadab, banyak warga New Zealand (Selandia Baru) turun ke jalan menjaga Muslim menggelar sholat Jumat. Negeri Kiwi ini sukses membuat mayoritas melindungi minoritas. Seluruh dunia pun melempar pujian dan decak kagum.

Jumat pekan lalu (15/3), seorang teroris berkebangsaan Australia penganut ideologi supremasi kulit putih melakukan penembakan di dua Masjid di Kota Christchruch sesaat sebelum shalat Jumat dimulai. Penyerangan tersebut menewaskan 50 orang, termasuk satu warga Indonesia bernama Lilik Abdul Hamid yang bekerja sebagai salah satu teknisi perawatan Air Selandia Baru.

Namun, negeri di benua Australia itu cepat bangkit, Perdana Menteri hingga rakyatnya kompak melawan terorisme. Beragam acara kemanusiaan digelar. Puncaknya, ribuan orang berkumpul di Hagley Park, dekat masjid Al-Noor, tempat kejadian perkara untuk menyampaikan rasa duka dan dukungan dengan rangkaian bunga dan poster sambil mengheningkan cipta.

Lainnya, dengan caranya masing- masing. Misalnya, sumbangan dana dengan jumlah yang terkumpul setara 31 miliar dalam waktu 24 jam setelah penembakan. Ada pula yang menyumbangkan makanan halal dan menawarkan diri untuk menemani Muslim yang takut berjalan sendirian di jalanan, hingga kelompok geng motor paling ditakuti ikut terpanggil untuk menjagai Muslim saat menunaikan shalat.

Tanpa perlu aba-aba, para warga di sejumlah masjid juga langsung membuat rantai manusia sebagai simbol perlindungan pada kaum Muslim yang tengah beribadah dan memastikan tak ada lagi teror. Aksi rantai manusia ini sebelumnya digaungkan melalui kampanye ‘NZ Stand Together’ via facebook. Di hari yang bersamaan, sejumlah perempuan Selandia Baru memilih untuk menggunakan kerudung sebagai rasa solidaritas dan menyebutnya sebagai "National Scarf Day", termasuk pembawa acara perempuan di televisi.

Tagar #WeAreOne dan #TheyAreUs digemakan jutaan warga Selandia Baru dan trending di Twitter serta Instagram. Begitu pula di Australia, termasuk Masjid Westall yang dikelola komunitas Muslim Indonesia di negara bagian Victoria mendapat kunjungan lebih dari 300 warga lokal, dua hari setelah aksi teror di Christchurch.

Dukungan dan simpati juga disuarakan Koran lokal Christchurch, The Press, yang pada Jumat (22/3) bersampul polos tanpa foto. Lembar kertas lapang itu diisi oleh huruf Arab yang berbunyi Salaam, dan kemudian diterjemah dengan "salam", peace. Pada bagian bawah halaman sampul, tercantum 50 nama Muslim yang menjadi korban penembakan oleh teroris seminggu yang lalu.

Warga Selandia Baru menyampaikan rasa duka dan dukungan dengan rangkaian bunga dan poster sambil mengheningkan cipta di depan Masjid, lokasi terjadinya penembakan terhadap jamaah Muslim yang hendak shalat jumat

Belajar dari Jacinda Ardern

Empati dan solidaritas yang ditunjukkan warga Selandia Baru bukanlah aksesori, tapi riil adanya. Pemandangan elok ini tentu saja tidak lepas dari sosok pemimpinnya, Perdana Menteri Jacinda Ardern. Sesaat setelah kejadian, Ardern berdiri paling depan untuk melindungi warganya dengan gayanya yang welas asih, empatik, dan tegas. Ardern cepat memahami ketakutan dan kesedihan komunitas Muslim, dan menunjukkan empati dengan memeluk para korban dan kerabat mereka, juga mengenakan jilbab sebagai cara sederhana untuk menghormati.

Berbeda dengan kebanyakan negara lain yang tidak mudah memberi label teroris jika pelaku kejahatan bukan seorang Muslim, sang Perdana Menteri Jacinda Ardern sebaliknya spontan memberi label tegas pada pelaku. “Tidak ada kata lain kecuali perbuatan teroris.”

Dan ketika dia pertama kali berbicara di parlemen setelah serangan itu, dia membuat pernyataan kecil tapi berani: dia membuka pidatonya dengan sambutan Islami "Assalamualaikum". Seperti semua pemimpin yang sukses, Jacinda Ardern tahu kekuatan kata-kata. Dia menggunakannya untuk menyembuhkan luka, bukan untuk membukanya.

Tak menunggu lama, pemerintah Selandia Baru langsung merevisi undang-undang kepemilikan senjata. Dunia Islam, dan siapa pun yang peduli akan kemanusiaan, juga menaruh hormat. Biasanya dibutuhkan waktu berhari, berminggu, bahkan berbulan sejak proses awal hingga masuk ke pengadilan. Tapi sistem peradilan Selandia Baru bergerak sangat cepat dan menggelar pengadilan hanya satu hari setelah kejadian. Ini juga perkara yang rasanya baru pertama terjadi.

Ardern adalah perlawanan kepada persona pemimpin rasis seperti Donald Trump dan Fraser Anning. Donald Trump tak berhenti menjadi tolol meski dikutuki seluruh dunia. Fraser Anning barangkali bertambah megalomania setelah dilempar telur oleh Will "Egg Boy" Connoly. Kerudung Ardern, bersama segenap kepiawaiannya dalam memimpin dan menangani adalah keteladanan yang menakjubkan.

Tak berhenti di situ, tepat seminggu setelah insiden mematikan tersebut, untuk pertama kalinya adzan dan shalat Jumat disiarkan langsung di radio dan televisi nasional Selandia Baru, termasuk di Australia oleh ABC News. Shalat Jumat (22/03) yang digelar di halaman dekat Masjid Al Noor, dihadiri dan disaksikan oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern serta warga Selandia Baru dari berbagai latar belakang dan kepercayaan membentuk tirai manusia dengan curahan empati dan dukungan.

Sebelum salat dimulai, Ardern berpidato mengungkapkan belasungkawa. “Selandia Baru berduka bersama Anda, kita adalah satu (keluarga),” ujar Ardern. Ardern pun mengutip pernyataan Nabi Muhammad SAW. “Menurut Nabi Muhammad… orang-orang yang beriman dalam kebaikan, kasih sayang, dan simpati mereka bagaikan satu tubuh. Ketika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan sakit,” tegasnya.

Imam Gamal Fouda, pemimpin salat Jumat, mengatakan bahwa si penembak “melukai hati jutaan orang di seluruh dunia”. Tapi, persatuan tetap terjaga. “Kami bertekad untuk tidak membiarkan siapapun memecah-belah kami.”

Perdana Menteri Jacinda Adern dengan mengenakan kerudung hitam memeluk keluarga korba terorisme di dua Masjid di Kota Christchruch, Selandia Baru

Pujian dari Dunia

Sang Perdana Menteri pun menuai pujian dari seluruh dunia. Sebab, dianggap mengerti perasaan duka keluarga. Dia menebarkan pesan kedamaian atas tragedi yang mengoyak rasa kemanusiaan itu. Pangeran Yordania, El Hassan Bin Talal, misalnya, memuji tindakan Ardern pasca serangan teror dan cara dia menunjukkan kelompok mayoritas yang mampu melindungi minoritas.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pun memuji sikap tulus Ardern dalam merangkul umat Islam yang tinggal di negaranya. Pujian Erdogan itu disampaikan dalam tulisan editorial opini pada surat kabar terkemuka Amerika Serikat (AS), The Washington Post. Erdogan menyerukan kepada seluruh pemimpin negara-negara Barat belajar dari PM Ardern.

"Beginilah sosok seorang pemimpin," kata Grace Back seperti dikutip majalah Marie Claire Australia. Editorial New York Times pada Jumat malam juga memuji Ardern.

Emir Dubai, Sheikh Mohammed, mengucapkan terima kasih atas empati dan dukungan tulusnya. Perdana Menteri sekaligus Wakil Presiden Uni Emirat Arab Mohammed Bin Rashid Al Maktoum juga menyampaikan terima kasih pada Adern yang dinilainya sangat tulus. “Anda telah mendapat rasa hormat dari 1,5 miliar Muslim,” ucapnya.

Ada pun duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, turut memuji PM Ardern dengan menyebutnya sebagai wajah baru pemimpin muda dunia. "Ia memiliki sosok kepemimpinan yang sangat kuat, sangat berempati, dan ramah terhadap dunia, khususnya masyarakat Muslim," ujar Tantowi Yahya.

Sementara dua petisi agar Perdana Menteri Jacinda Ardern dinominasikan untuk Penghargaan Nobel Perdamaian atas upayanya menangani penembakan Masjid Christchurch mulai didengungkan. Petisi Change.org yang dimulai empat hari lalu memiliki lebih dari 3.000 tanda tangan, sementara petisi di laman Prancis AVAAZ.org memiliki lebih dari 1.000 tanda tangan.

Dan di dalam negeri, oposisi Partai Nasional Judith Collins mengatakan kepada parlemen bahwa perdana menteri telah bertindak "luar biasa".

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya, masyarakat di tanah air punya tradisi guyub dan solidaritas tinggi. Hal ini bisa dilihat manakala terjadi bencana di suatu daerah, masyarakat berbondong-bondong menggalang dana bantuan. Begitu pula sikap hidup gotong royong dan rukun telah melekat pada rakyat nusantara sejak ratusan tahun lalu, utamanya di desa-desa. Keadaban juga ditunjukkan oleh para pendiri bangsa.

Sebaliknya, para elite dan pemimpin yang justru tak mampu merawat harmoni bangsa. Elite kerap memancing sikap keterbelahan di masyarakat, memupuk primordial, dan seakan “bertepuk tangan” manakala kelompok atau tokoh yang berseberangan dilanda kesukaran, dihinakan, bahkan dibunuh karakternya. Terlebih di tahun politik saat ini, watak ingin saling meniadakan antar-anak bangsa yang berbeda pilihan politik teramat jelas. Kebersamaan kita sebagai bangsa tak jarang dihancurkan oleh energi negatif para pemimpin kita.

Jika dibandingkan dengan laku Perdana Menteri Adern dari Selandia Baru, pemimpin di negeri ini tentu jauh panggang dari api. Di titik inilah, kita perlu belajar cara merawat kebersamaan dari Selandia Baru.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here