Pesan Kiai Muwafiq, Jaga Islam dan Negara Indonesia

0
222
Kiai Muwafiq "Dalam satu dekade terakhir, dakwah Islam di berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim cenderung dilakukan dengan cara-cara keras dan fundamentalis. Akibatnya, banyak negara Muslim di dunia mengalami kehancuran, lantaran terus dilanda konflik dan peperangan" (Foto: Dok PCNU Kota Surabaya)

Nusantara.news, Surabaya – Kiai Muwafiq dari Yogjakarta, dalam ceramahnya di Pengajian Umum Memperingati Hari Lahir ke-56 Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PC Nahdlatul Ulama Kota Surabaya, di Kantor PCNU Surabaya menyebut dan mengingatkan kembali, kalau Bangsa Indonesia memiliki karakteristik sendiri berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Karomah Allah SWT itu, bentuknya beragam yakni selain penduduknya yang beragam suku dan agamanya termasuk kesenian dan budaya. Maka, jika dipaksakan dengan satu kehendak akan berujung terjadinya malapetaka, perpecahan dan kehancuran.

“Itu (Keberagaman), kalau dipaksakan pasti bangsa ini akan pecah. Padahal nenek moyang kita sebelum Islam masuk sudah tuntas dengan masalah perbedaan karena negeri ini memiliki landasan Bhinneka Tunggal Ika,” terang kiai berambut gondrong itu, Selasa (20/3/2018), malam.

Gus Muwafiq kemudian menjabarkan, dalam satu dekade terakhir, dakwah Islam di berbagai negara yang mayoritas penduduknya Islam cenderung dilakukan dengan cara-cara keras dan fundamendalis. Akibatnya, banyak negara muslim di dunia yang mengalami kehancuran. Lantaran terus dilanda konflik dan perang baik antar saudara di dalam negeri, juga perang antar negara.

Untuk mencegah atau membentengi agar negeri ini (Indonesia) tidak hancur seperti yang dialami negara-negara Islam di dunia, Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Kota Surabaya sengaja mengundang dan menghadirkan Kiai Muwafiq dari Yogjakarta untuk didengarkan tausyiahnya, pencerahan, penguatan serta pemahaman untuk berperilaku yang baik dan santun di negeri majemuk ini. Termasuk pemahaman bagi kader-kader muda NU agar senantiasa menjaga persatuan dan keamanan bangsa dari rong-rongan pihak-pihak yang beratraksi, ingin mengadu domba yang diharapkan terjadinya perpecahan antar anak bangsa, khususnya umat Islam.

Acara dikemas dengan santai, jamaah duduk lesehan di ruangan utama termasuk juga di luar kantor PC NU Kota Surabaya. Selain warga NU, beragam yang hadir untuk mendengarkan petuah sang kiai. Mereka, tua dan muda tak hanya dari dalam kota Surabaya, namun banyak dari luar kota. Tampak di antaranya ada Rais Syuriah PCNU Kota Surabaya, KH Mas Sulaiman, Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Surabaya Dr Muhibbin Zuhri, Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya Mohammad Afif, tokoh lintas agama, Banom NU, juga masyarakat umum lainnya.

Wujudkan Baladil Amin atau Negara yang Aman

“Keberagaman kalau dipaksakan akan membawa bangsa ini pecah. Padahal, nenek moyang kita sebelum Islam masuk sudah tuntas dengan masalah perbedaan, karena negeri ini memiliki Bhinneka Tunggal Ika” (Foto: Dok PCNU Kota Surabaya)

Dengan bahasa bercerita yang ringan dan sesekali diselingi candaan, sang kiai menerangkan kalau tugas Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul untuk memberi rahmat kepada seluruh alam dan umat. Dalam syariat, disertakan petunjuk melalui QS Attin, tentang bagaimana mewujudkan baladil amin atau negara yang aman.

Baladil Amin itu sangat dibutuhkan supaya umat Islam bisa menjalankan Amanu wa Amilussholihat serta Litta’arofu sehingga seorang muslim bisa mencapai derajat paling bertaqwa,” urainya.

Lanjut Kiai Muwafiq, nyatanya saat ini banyak pendakwah (konsleting) menempuh jalan pintas, dan langsung mengambil dalil dari Alquran dan Hadist, kemudian diterapkan di daerah yang memiliki karakter dan budaya yang berbeda di banding asal agama Islam kali pertama di turunkan yakni untuk bangsa Arab.

Diterangkan, banyak yang lupa bahwa Amanu wa Amilussholihat sulit diterapkan kalau tidak ada rasa aman. Selanjutnya, Kiai Muwafiq menyebut, tugas generasi muda NU ke depan akan semakin berat karena musuh-musuh Islam dan juga negara Indonesia terus dan selalu ingin menghancurkan, menguasai bangsa ini. Namun upaya tersebut selalu gagal karena di Indonesia masih ada NU yang selalu menjadi garda depan. Dan, memang menjadi kewajiban NU harus bisa mengantisipasi pihak-pihak lain yang ingin menghancurkan tanah airnya, Indonesia.

“Makanya NU selalu diolok-olok, bahkan dibid’ahkan tapi hanya diam karena hanya menyangkut masalah khilafiyah pendapat dari ulama dalam urusan furu’iyah. Tapi kalau mereka sampai berani mengoyak-oyak keutuhan bangsa maka wajib bagi NU, bergerak menyelamatkan tanah airnya, Indonesia,” tegasnya.

Dicontohkan, misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan ‘Khilafah Islam’ yang di negara asalnya di Palestina sudah gagal. Bahkan saudara tuanya Ikhwanul Muslimin juga gagal di Mesir, mereka kemudian mencoba mengembangkan dan menyebarkannya di Indonesia. Dikatakan, mereka merongrong dan ingin mengganti Pancasila dan NKRI dengan sistem khilafah, dan itu adalah khayalan alias dari pemikiran mereka sendiri.

“Turki yang menjadi contoh khilafah nyatanya menggunakan sistem Monarki, jadi sekarang mereka bingung sendiri,” ungkap kiai yang telah melanglang jagat ini.

Masyarakat NU dan Indonesia pada umumnya, lanjutnya, yang Islamnya berasal dari para ulama yang sanad keilmuannya sambung langsung hingga ke Rasulullah Muhammad. Makanya mereka hanya menamakan organisasi Nahdlatul Ulama atau mengikuti para ulama.

“Sudah lah, kita tidak usah ikuti mereka yang suka ndakik-ndakik (muluk-muluk), karena status keislaman NU itu mengikuti ulama dan insyaallah selamat dunia dan akhirat,” pesannya.

“Jamaah meluber hingga di luar kantor PCNU Kota Surabaya. Tak hanya dari dalam kota, juga banyak yang datang dari luar kota”

Kemudian, usai mengikuti rangkaian pengajian, Anwar Sadad yang menjabat Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Timur yang juga anggota DPRD Jatim, mengaku sangat bersyukur mendapat pencerahan dari materi ceramah yang disampaikan Kiai Muwafiq. Dia menyebut, sebagai warga NU dirinya mengaku bersyukur mendapat tausyiah seperti itu. Jabaran isi pengajian tentang Islam Nusantara yang disampaikan Kiai Muwafiq, disebutnya sangat jelas, memukau dan banyak kandungan keilmuan.

“Sebagai warga NU yang ada di pemerintahan daerah sudah seharusnya kita ikut mendukung yang dilakukan oleh PCNU Kota Surabaya ini,” ucap Sadad.

Dirinya mengakui, keberadaan Lesbumi NU di era seperti saat ini memiliki peran penting dan strategis untuk menampilkan Islam melalui perspektif kebudayaan, karena dengan perspektif tersebut (kebudayaan) Islam bisa diterima di seluruh penjuru Nusantara dengan damai, tanpa konflik.

Ancaman untuk Islam ada sejak dulu

Sementara, dikutip dari berbagai ceramah yang dilakukan Kiai Muwafiq, soal Islam Nusantara dan cara menjaga keutuhannya, menjadi bagian materi penting yang paling banyak disampaikan.

Disebutkan, akhir-akhir ini banyak orang merasakan dan mengakui manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU, hanya yang sudah meninggal dunia saja, lantaran setiap hari dikirimi doa, juga ada tumpeng. Tetapi, hari ini saat dunia dilanda kekacauan, ketika dunia Islam sedang galau. Kita lihat, di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah juga terjadi perang sesama Islam, di Irak, sama juga perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika (pertahanan keimanan) semua sudah jebol, tapi ternyata kok ada yang masih utuh, yakni Islam di Indonesia (Nusantara).

Akhirnya semua ingin kesini (Indonesia), seperti apa Islam di Indonesia yang ternyata tetap bertahan dan masih utuh. Akhirnya semua sepakat, utuhnya Islam di Indonesia karena memiliki Jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Ternyata, sejak jaman dulu upaya untuk merusak NU dan Indonesia telah dilakukan. Diantaranya, oleh orang Belanda C Snock Hurgronje, bahkan telah menyiapkan diri dengan menghafal Alquran. Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in, tetapi tidak islam. Dia tugasnya untuk menghancurkan Islam di Indonesia, karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda.

Kita bisa lihat sejarah, perlawanan untuk membela Islam terus dilakukan oleh para santri, diantaranya Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, juga santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Mereka semua santri dan berani melawan Belanda.

Kesimpulannya, santri di Indonesia sampai kapan pun tetap dan harus berani melawan pihak-pihak manapun yang berupaya merongrong bahkan ingin mengganti Indonesia dan Pancasila dengan paham apapun, jika itu terjadi harus di lawan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here