Pesan Politik dari TNI

0
176

PELAJARAN berharga kemarin terlihat di Gedung DPR. Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama KSAL Laksamana TNI Ade Supandi dan KSAD Jenderal TNI Mulyono datang ke gedung wakil rakyat itu. Bak mengiringi pengantin, mereka mengantar KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengikuti uji kepatutan dan kelayakan sebagai calon Panglima TNI di Komisi I DPR.

Sejak tradisi calon Panglima TNI harus mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di Komisi I untuk mendapatkan persetujuan DPR, baru kali ini calon panglima diantar seperti itu. Jika dikatakan warisan, ini merupakan warisan (legacy) berharga dari kepemimpinan Jenderal Gatot yang perlu dilestarikan oleh penerusnya kelak.

Itu juga warisan dari KSAL dan KSAD, karena memperlihatkan mereka legowo tak diusulkan Presiden Joko Widodo menjadi Panglima TNI. Padahal mereka juga memenuhi semua persyaratan untuk menduduki jabatan tersebut.

Presiden adalah pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI, dan keputusan Presiden dipahami oleh para kepala staf itu sebagai perintah yang harus ditaati. Militer adalah organisasi dengan struktur terkomando, sehingga tidak ada tempat untuk insubordinasi.

Seperti dikatakan Gatot, kedatangan mereka untuk memberi dukungan moril kepada Hadi Tjahjanto itu adalah bentuk soliditas TNI untuk menerima KSAU itu sebagai pemegang tongkat komando TNI. KSAD Mulyono dan KSAL Ade Supandi yang jauh lebih senior dari Hadi Tjahjanto siap dipimpin oleh yuniornya itu.

Soliditas ini penting bagi organisasi tentara di mana pun. Jika organisasi yang memegang senjata ini tidak seiya-sekata, apalagi saling berkonflik, eksistensi negara dalam bahaya.

Pesan politik yang terpancar dari kehadiran Panglima TNI dan para kepala staf angkatan mengantar Hadi Tjahjanto ke DPR adalah TNI solid. Soliditas itu akan menjamin bahwa TNI konsisten dengan posisinya sebagai alat negara. Ini membuktikan apa yang diucapkan Panglima Besar Sudirman dulu bahwa “satu-satunya milik negara yang tidak berubah adalah TNI” benar adanya.

Ucapan Pak Dirman itu sesungguhnya adalah batu pertama fondasi jati diri TNI di tengah bangsa ini. Dan relevansinya masih akan terus terasa selama negara ini masih ada.

Selama TNI berpijak di atas fondasi itu, selama itulah TNI akan konsisten pada kepentingan negara. Memelihara konsistensi itu tidak mudah. Sejarah mencatat, bagaimana TNI di masa lalu dicoba untuk diseret-seret oleh berbagai kepentingan politik. Tetapi, TNI bergeming. Ketika Indonesia nyaris tercabik-cabik oleh konflik ideologi di akhir dekade 1950-an dengan aneka agenda politik, TNI menegaskan netralitas posisinya.

Di era Orde Baru, posisi tengah TNI itu tidak terlalu terasa relevansinya. Sebab ketika itu tidak ada konflik ideologis, dan determinasi kepemimpinan Pak Harto sangat hegemonistis. Tapi di era reformasi ini, tatkala gejala diferensiasi ideologi dan aliran politik mulai mengemuka, relevansi netralitas TNI itu menemukan signifikansinya.

Gejala diferensiasi ideologi ini, kendati tidak dideklarasikan secara terbuka oleh partai politik yang ada, jelas berada dalam spektrum ancaman terhadap Pancasila sebagai ideologi negara yang sudah final. Diakui atau tidak, beberapa peristiwa politik mutakhir sudah mengindikasikan hal itu. Gejala diferensiasi ideologis tersebut jika tak segera diatasi dengan memantapkan ideologi Pancasila, bisa bermuara pada konflik ideologis seperti di masa lalu.

Tetapi, sisi positifnya, itu justru dapat membantu TNI untuk mengukur dan menjaga jarak dengan semua kekuatan politik yang ada dan tetap konsisten dalam wilayah “politik TNI adalah politik negara”.

Meski demikian, upaya untuk menarik TNI ke bawah payung salah satu atau kelompok kekuatan politik belum akan berakhir. Sebab, dalam kalkulasi politik Machiavellis, menguasai militer adalah landasan utama meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Tapi kita yakin, TNI sudah sangat matang dan terlatih menghadapi aneka langgam politisasi seperti itu. Mekanisme dan moral TNI dapat dipercaya akan secara naluriah menolak setiap upaya tersebut.

Pesan itulah yang kita maknai dari fragmen “mengiring pengantin” kemarin.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here