Pesan Terakhir Jenderal Gatot

0
355

JENDERAL TNI Gatot Nurmantyo akan segera menyelesaikan tugasnya memimpin TNI. Penggantinya, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, sudah disetujui DPR untuk dilantik Presiden. Waktu pergantian memang belum ditentukan, tetapi Gatot sudah mengunjungi berbagai kesatuan penting di TNI untuk berpamitan sekaligus menyampaikan pesan-pesan terakhirnya.

Salah satu pesannya yang penting untuk dicatat adalah ketika berbicara di depan ribuan prajurit Kostrad di Markas Kostrad Cilodong, Jawa Barat, kemarin (7/12/2017). Ada dua poin mendasar yang dikemukakannya mengenai tantangan TNI memasuki tahun politik 2018 dan 2019.

Pertama, tantangan dari luar tubuh TNI. “Tahun ke depan adalah tahun politik. Banyak yang ingin berusaha mendekati kalian. Apalagi kalian satuan terbesar, terkuat. Kalau perlu mereka akan membeli kalian,” kata Gatot. Menghadapi godaan itu diakui Gatot lebih sulit daripada bertempur. Sebab, bertempur menghadapi musuh dalam perang, bagi prajurit seperti rekreasi yang sangat menyenangkan.

Kedua, tantangan dari dalam tubuh TNI sendiri, karena mungkin saja ada pimpinan TNI yang larut dalam permainan yang bukan wilayah tugasnya. “Siapa pun yang memimpin kalian, amati dia. Kalau sudah dia kelihatan akan menjual Kostrad, bersikap kalian. Tidak boleh TNI ke mana-mana. TNI harus netral. Biarkan saja yang lainnya bisa dibeli, tapi TNI tidak,” tegas Gatot.

Pesan Jenderal Gatot itu seperti mengklarifikasi apa yang dibahas di ruangan ini kemarin, bahwa TNI sangat menarik dan potensial secara politik dan karena itu pasti sangat banyak yang ingin mendekatinya. Mendekati itu tentu cenderung dengan makna tunggal: Menguasai. Sebab, dalam kalkulasi politik Machiavellis, menguasai militer adalah landasan utama meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Tetapi, seperti ditulis kemarin di “Tajuk Nusantara” ini, bahwa kita meyakini mekanisme internal dan moral TNI dapat dipercaya akan secara naluriah menolak setiap upaya politisasi tersebut. Mekanisme internal dan moral TNI itulah yang dipertegas oleh Panglima TNI dengan kalimat, “Siapa pun yang memimpin kalian, amati dia. Kalau dia sudah kelihatan akan menjual Kostrad, bersikap kalian.”

Gatot tentu tidak mengajarkan pembangkangan prajurit kepada komandannya. Tetapi dia menekankan keberanian melakukan koreksi terhadap pimpinan jika sang komandan “sudah kelihatan akan menjual” kehormatan prajurit dan keperwiraan. Karena TNI selalu meletakkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Dalam konteks politik, ini jangan dibaca sebagai peringatan kepada anggota TNI semata. Tetapi juga tertuju kepada semua pihak yang mencoba-coba “membeli TNI” demi kekuasaan, atau praktek politik yang mengganggu kedaulatan dan eksistensi negara.

Sebab, jika prajurit yang wajib patuh dan taat kepada pimpinan saja diperintahkan Gatot untuk bersikap jika ada pemimpinnya yang menyimpang, maka aksentuasinya tentu bisa diukur terhadap pihak di luar TNI.

Satu hal yang harus dipahami tentang militer di Indonesia adalah integrasi nasional sudah menjadi ‘agama’ bagi mereka. Kritik utama sejumlah purnawirawan jenderal tentang pemerintahan era reformasi ini adalah betapa integrasi nasional itu seperti kurang diperhatikan. Kasus-kasus separatisme, bahaya ideologi anti-Pancasila, ancaman terhadaop NKRI, adalah soal-soal yang selalu diulang-ulang para tentara tua itu. TNI yang masih aktif pun masih mempunyai semangat serupa.

Artinya, jika supremasi sipil ini ternyata destruktif terhadap integrasi bangsa, itulah pintu gerbang pertama masuknya kembali TNI ke politik. Sebab, dengan menghapus fungsi sosial politiknya, dan menyisakan fungsi pertahanan saja, pasti energi TNI mengemban fungsi ini akan berlimpah, karena konsentrasi tidak lagi terbagi. Jika sedikit saja integrasi terganggu, TNI pasti segera bereaksi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here