Peta Pendukung Pilkada Kota Malang 2018

0
414
Ilustrasi Calon Walikota dan Wakil Walikota, Pilkada Kota Malang 2018 (Foto: Notulla.news)

Nusantara.news, Kota Malang – Sejak awal Februari lalu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang telah menetapkan 3 pasang peserta Pilkada Kota Malang 2018.  Ketiga pasangan itu masing-masing M Anton-Samsul Mahmud, Nanda Gudban-Ahmad Wanedi, dan Sutiaji-Sofyan Edi.

Jumlah calon Pilkada periode ini menyusut, dari 6 pasang calon pada periode lalu menjadi hanya tiga pasang. Sebelumnya pasangan peserta Pilkada 2013 masing-masing terdiri dari  Dwi Cahyono dan Muhammad Nuruddin, Ahmad Mujais, dan Yunar Mulya ( Independen), Sri Rahayu dan Priyatmoko Oetomo diusung oleh PDIP, Heri Pudji Utami dan Sofyan Edy Jarwoko diusung oleh koalisi besar Partai Golkar, PPP, PAN, Partai Republikan, dan 14 partai lainnya, Agus Dono dan Arif HS diusung oleh Partai Demokrat, PKS, Hanura, PKPB, M Anton dan Sutiaji yang diusung oleh PKB dan Partai Gerindra.

Kala itu, pasangan M Anton dan Sutiaji yang diusung oleh PKB dan Gerindra menjadi pemenang dengan memperoleh suara hampir mencapai 50%, tepatnya 179.675 suara. Hasil itu sempat diperkarakan oleh beberapa calon yang mengusut ke Mahkamah Konstitusi (MK), namun bukti dan fakta tidak dapat menguatkan laporan yang akhirnya membuat M Anton-Sutiaji terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Malang.

Kini, ada tiga pasang calon pilwali. Hal yang unik dari helatan politik kali ini adalah, tiga orang dari pasangan calon diatas, terdapat tiga muka lama dan tiga pendatang baru dalam pesta demokrasi Kota Malang tersebut. Tiga muka lama yakni M Anton, Sutiaji, dan Sofyan Edi Jarwoko yang merupakan politisi kawak di Kota Malang, ketiganya sempat menjadi calon walikota dan wakil walikota, di Pilkada Kota Malang 2013 lalu.

Sedangkan, tiga pendatang baru dalam gelaran pilkada kali ini adalah Ya’qud Ananda Gudban (Nanda Gudban), Ahmad Wanedi, dan Samsul Mahmud. Mereka adalah wajah baru dalam helatan Pilkada Kota Malang 2018 nanti, meskipun track record, kapasitas dan kapabilitasnya juga tidak dapat diremehkan.

Masing-masing pasangan memiliki basis dan massa dukungan tersendiri, meskipun telah ditunjang dari instrumen partai politik sebagai pengusung para calon walikota dan wakil walikota Malang tersebut.

Calon Petahana dengan Mesin PKB

Calon Petahana, Walikota MalangM Anton yang juga merupakan Ketua DPC PKB Kota Malang turun kembali dalam helatan pilkada, untuk melanjutkan kekuasaanya dengan sebongkah agenda-agenda pembangunan yang telah dirancang sejak periode awal, akunya.

Jika dulunya M Anton diusung oleh PKB dan Partai Gerindra, dalam gelaran pilkada kali ini ia berpasangan dengan Samsul Mahmud diusung oleh  PKB, PKS, dan Partai Gerindra. Tak luput juga Partai Perindo merapatkan dukungan untuk pria yang akrab disapa Abah Anton ini, dengan membawa jargon ASIK, MALANG APIK.

Jika ditilik dari kursi parlemen daerah yang telah diraih, peluang pendukung pasangan calon ASIK ini dapat dilihat dari PKB yang memenangkan Pilkada 2013 sebelumnya, dengan terpilihnya M Anton sebagai Walikota optimis akan merebut 14-15 kursi dari sebelumnya hanya 5 kursi.  Namun, faktanya PKB dalam Pileg 2014 ini hanya meraih 6 kursi (tidak sampe separuh target), dengan total 50.901 suara.

Sedangkan Partai Gerindra Kota Malang dalam Pileg 2014 lalu sedikit lebih baik dengan meraih 4 kursi, 39.785 suara dibandingkan dari sebelumnya yang hanya 2 kursi. PKS kehilangan 2 kursi, karena hanya bisa meraih 3 kursi. Dengan melihat cobaan yang PKS terima yaitu kasus LHI yang jadi korban KPK yang dituding sebagai Komisi Pilih Kasih dan di Malang sendiri calegnya tersangkut masalah hukum serius. Jadi, perolehan 3 kursi saja dengan total 26.082 suara.

Selain itu, kekuatan baru dari Partai Perindo yang pertama kali ikut dalam kontestasi Pilkada Kota Malang kali ini akan menambah dukungan petahana untuk menampuk kekuasaannya kembali. Diketahui, partai baru besutan Harry Tanoesoedibyo tersebut memiliki kekuatan angka pasti dengan total jumlah anggota kader Perindo kota Malang sebanyak 1.019 namun, yang memenuhi syarat untuk diterima adalah 993 orang kader. Jumlah tersebut berpotensi bisa berkembang 2 kali lipat.

Jika ditotal, pasangan M Anton dan Samsul Mahmud ini diusung oleh tiga partai dengan total 13 kursi parlemen, dan prakiraan 117.787 suara pendukung, jika dilihat dari hasil Pileg tahun lalu ditambah dengan barisan baru Partai Perindo.

M Anton yang merupakan salah satu pengusaha tetes tebu yang sukses di Kota Malang, memiliki jaringan yang kuat dalam pendanaan. Ia pun ditarik oleh Sutiaji untuk ikut mencalonkan diri di Pilkada Kota Malang 2013. Dahulu, ia diperkenalkan oleh Sutiaji kepada kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan PKB, hingga pada akhirnya ia menjadi Ketua DPC PKB Kota Malang, sedangkan Sutiaji kini malah hengkang dan memilih Partai Demokrat.

Figur M Anton, yang semakin dikenal dikalangan NU Kota Malang, membuat hubungan dan kedekatan dengan PC NU Kota Malang, serta beberapa Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Badan Otonom (Banom) NU menjadi salah satu peluang kekuatan basis pendukungnya. Penyematan nama ‘Abah’ menjadi satu identitas politik mempengaruhi masyarakat.

Berlatar belakang pengusaha sukses dengan omset mencapai jumlah miliaran per-tahun. Ia mampu mengirimkan 3.000 ton tetes tebu secara gratis karena dahulu dianggap sebagai limbah. Dengan harga sekitar Rp150.000 per ton, ia mendapatkan omsen ratusan juta per-bulannya.

Kini ia menggandeng Samsul Mahmud yang merupakan Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Kota Malang, ia juga salah satu pengusaha properti yang cukup ternama di Kota Malang. Dengan latar belakang sama-sama berangkat dari pengusaha, tentunya juga memiliki jaringan rekanan pengusaha yang luas, yang mana dapat menjadi salah satu sumber logistik politik yang cukup kuat dalam Pilkada Kota Malang 2018 mendatang.

Nanda, Generasi Millenial dan Militansi PDI-P

Sosok Dr. Ya’qud Ananda Gudban SS., SST.Par., MM. dan Ahmad Wanedi merupakan sosok barupenantan para calon inkamben atau petahana Kota Malang. Ya’qud Ananda Gudban  yang akarab disapa Nanda Gudban pernah menjadi Anggota DPRD Kota Malang dua periode, yakni periode 2009-2014 dan 2014-2019.

Politisi perempuan tersebut kini juga menjadi Wakil Sekertaris Jenderal Asosiasi DPRD Seluruh Indonesia (Adeksi). Ia aktif di sejumlah organisasi. Ia juga menjadi Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia Malang. Selain itu ia juga menjadi Ketua Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KoPPI). Semasa menjadi mahasiswa tercatat pernah aktif di KOHATI (korps HMI-wati) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang.

Pengalaman di dunia akademisi, ia menjadi dosen tetap di Universitas Merdeka Malang, Dosen Luar Biasa di Universitas Brawijaya Malang, Senat di STIBA Malang hingga menjadi ketua jurusan Pariwisata Unmer Malang.  Sementara itu, di dunia perpolitikan, Nanda menjadi Ketua DPC Partai Hanura Kota Malang.

Pendampingnya, yakni Ahmad Wanedi merupakan tokoh lama dari PDI-P Kota Malang. Ia merupakan Pengurus cabang pertama kali, yang sudah diklat kader madya. Wanedi juga merupakan salah satu utusan kongres DPP Pusat dari DPC Kota Malang. Wanedi termasuk kader senior, ia pun sudah lama menjadi perbincangan di kalangan elit politik, terkait sosoknya yang akan maju dalam Pilkada Kota Malang 2018.

Koalisi Nanda-Wanedi ini diusung oleh 4 partai yakni Partai Hanura, PPP, PAN, dan PDI-P, Partai Nasdem yang berhasil mengumpulkan 22 kursi parlemen daerah. Koalisi ini merupakan koalisi yang paling terbesar dibandingkan dari dua pasangan lainnya. Koalisi ini membawa jargon MENAWAN (Menangkan Nanda-Wanedi).

Pasangan yang didukung oleh koalisi lima partai besar ini memiliki peluang besar untuk meraup kemenangan melawan petahana jika setiap mesin partai politik dapat berjalan dengan masif. Jika ditilik dari Pileg 2014 lalu dimana PDI-P sebagai partai pemenang di parlemen daerah menyokong pasangan calon ini.

Kesolidan basis banteng Kota Malang akan menjadi pengaruh besar kemenangan pasangan calon Nanda-Wanedi, dimana PDI-P di Pileg 2014 dapat meraup 11 kursi parlemen, dengan hasil 92.217 suara. Hasil ini merupakan nilai surplus yang luar biasa, mengingat PDI-P hanya menargetkan untuk mengambil 9 kursi saja. Memang, Kota Malang adalah bekas basis terbesar banteng (sejak 1999) dan di periode sebelumnya PDI-P mampu mempertahankan dua periode jabatannya melalui sosok Peni Suparto, politisi kawak PDI-P.

Sementara, PAN juga sukses mempertahankan 4 kursinya, dengan pendukung sebanyak 27.162. Hasil ini hanya berubah di Dapil Sukun yang sebelumnya tidak pernah dapat kursi sekarang meraih 1 dan gagal di dapil Lowokwaru. Partai Hanura dalam Pileg 2014 lalu, lancar meraih 3 kursi, dengan total 28.007 suara dari sebelumnya hanya 1. Kehebatan mereka, mampu meraih kursi di dapil sulit seperti di Klojen, dengan komando calon walikota, yakni Nanda Gudban.

PPP yang juga akan menyokong pasangan ini bisa dibilang salah satu yang partai moncer karena mampu mendulang 3 kursi dengan 23.273 suara. Padahal sejak pemilu pertama pasca reformasi 1999 PPP tidak pernah meraih 1 kursi sekalipun. Ini tidak lain karena faktor bergabungnya caleg-caleg kuat seperti Hj. Heri Pudji Utami (Blimbing), yang merupakan istri dari mantan Walikota Malang, Peni Suparto. Sedangkan, Partai Nasdem juga akan menyokong pasangan Nanda-Wanedi meskipun dalam Pileg 2014 kemarin gerakannya kurang terlalu masif sehingga hanya meloloskan 1 kursi untuk calonnya, dengan hasil suara 16.205.

Koalisi besar yang dihimpun pasangan calon MENAWAN ini mendapatkan 22 kursi dukungan, dengan peluang pendukung 165.864 suara, jika berkaca dari hasil Pileg 2014 lalu.

Uniknya, sosok Nanda Gudban yang selalu trampil trendy dan sporty menjadi sorotan dan  menarik perhatian para pemuda. Sosoknya yang lebih muda dari calon lainya, memberikan stigma calon pemimpin dari kalangan pemuda.

Cara berkampanye Nanda Gudban pun juga menggunakan strategi menjaring partisipasi pemuda dengan isu-isu serta perhatian pemuda kini. Contohnya, ia memakai desain ‘Dilan’ hingga mengadakan nobar gratis serta ‘meet and greet’ dengan aktor-aktor pemain film ‘Dilan’ di Malang. Dari hal tersebut dapat dilihat, hal yang digandrungi para pemuda untuk menarik perhatian untuk mengkampanyekan dirinya.

Jika setiap kampanye dan momen menarik perhatian pemuda dapat dimanfaatkan oleh Nanda, maka suara pemuda akan mampu diraihnya. Dimana tingkat pemuda sebagai pemilih sebesar 121.351 di tahun 2018. Hal tersebut akan menjadi peluang kekuatan pendukung dari Nanda Gudban yang mewakili generasi muda.

Instrumen pemuda, basis calon pemilih partai dengan acuan pileg serta beberapa akses bagian dari HMI akan menjadi kekuatan pendukung pasangan Nanda-Wanedi dalam kontestasi politik Kota Malang mendatang.

Sutiaji, Gerilya Mesin Lama

Wakil Walikota Malang, Sutiaji berencana akan maju menjadi Calon Walikota Malang yang berpasangan dengan Sofyan Edi Jarwoko. Kedua pasaangan yang membawa jargon Malang SAE ini diusung oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat.

Sosok Sutiaji yang merupakan alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini aktif  di rahim NU sejak ia menjadi pelajar. Ia besar dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Malang, bahkan ia merupakan salah satu pengagas Rayon Fakultas Tarbiyah FT UIN Malang Maulana Malik Ibrahim.

Selepas ia menjadi mahasiswa pun dirinya juga masih aktid di beberapa organisasi yakni pernah menjabat sebagai Koordinator BKM Lowokwaru, kemudian menjadi Sekretaris MWC NU Lowokwaru, Kota Malang, hingga ditunjuk sebagai Wakil Sekretaris NU Cabang Kota Malang

Ia pun pernah menjadi Wakil Ketua NU Cabang Kota Malang 2011-2016, yang kemudian menjadi Ketua Fraksi PKB di DPRD Kota Malang.

Sementara itu, wakilnya yakni Sofyan Edi Jarwoko merupakan kader terbaik dari Partai Golkar Kota Malang, rekanan dari Anggota DPR RI, Ridwan Hisjam. Sofyan Edi Jarwoko juga merupakan Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang.

Pria alumnus Universitas Merdeka Malang tersebut juga pernah aktif di organisasi HMI Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang, pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang.

Peta basis pendukung jika ditilik dari Pileg 2014, dari salah satu partai pengusung calon yakni Partai Demokrat Kota Malang terjun bebas dari Partai Pemenang 2 Periode sebelumnya, dalam Pileg 2014 hanya bisa raih 5 kursi. Partai Demokrat kehilangan lebih dari separuh kursinya. Capaian 5 kursi daerah 33.836 suara. Sementara itu, Partai Golkar Kota Malang bisa dibilang konsisten menjaga kursinya, yakni mampu meraup 40.464 suara dengan 5 kursi.

Jika diukur dari hasil Pileg 2014 lalu, calon pasangan Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko diusung oleh dua partai, yakni Partai Golkar dan Partai Demokrat dengan 10 kursi parlemen dengan total pendukung 74.300 suara.

Kiprah Sutiaji yang lama di rahim NU, membuat ia memiliki jaringan yang kuat di NU. Adapun beberapa kelompok loyalis yang menamakan dirinya sebagai NawakAJI. Kelompok tersebut sebagai pengikut setia Sutiaji, dimanapun ia berpijak dan bergerak.

Gaya taktik kampanye Sutiaji memang tidak terlalu diekspos dan ditunjukan di media, ia mengaku bahwa selain menggunakan mesin partai, ia juga menggerakan jaringan dan pengikut setianya dengan jaringan NU yang lama.

Persaingan berebut pengaruh di kalangan NU sendiri akan terjadi antara Sutiaji dan juga M Anton, dimana M Anton sebagai barisan struktural PKB, dan Sutiaji bergerilya dengan jaringan NU sedari ia pelajar dan bergelut pasca mahasiswa. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here