Petaka 1MDB Dimulai dari Salah Menghargai Obligasi

0
117
Kesalahan membentuk harga obligasi 1MDB menjadi awal petaka dan awal kejatuhan pamor Najib Razak.

Nusantara.news, Jakarta – Persoalan yang melanda 1Malaysia Development Berhard (1MDB) sebenarnya bermula dari salah perhitungan obligasi yang diterbitkan. Lalu masalah itu merambat kemana-mana dan berujung pada jatuhnya kekuasaan Najib Razak.

Pada tahun 2009, ketika 1MDB masih berstatus sebagai Otoritas Investasi Terengganu (Terengganu Investment Authority–TIA), latihan penggalangan dana perdana pun dimulai. Cerita ini berawal dari penerbitan obligasi bertenor 30 tahun senilai RM5 miliar (ekuivalen Rp17,72 triliun) dengan tingkat kupon 5,75%.

Kupon itu dibayar setiap enam bulan dan diatur oleh AmInvestment Bank Bhd. Namun, obligasi ini dikeluarkan dengan diskon 12% atau 88 sen untuk setiap nilai nominal RM1 (ekuivalen Rp3.543,47). Laporan tahunan 1MDB menunjukkan return (imbal hasil) dari obligasi dengan nilai 6,71%.

Jangka waktu 30 tahun luar biasa panjang dibandingkan dengan maksimal 20 tahun untuk surat berharga perusahaan pemerintah. Ketika 1MDB (saat berstatus sebagai TIA) menerbitkan obligasi 30 tahun ini, sekuritas pemerintah Malaysia diperdagangkan pada imbal hasil sekitar 4,8% sementara obligasi Cagamas, yang tidak membawa jaminan pemerintah secara eksplisit, diperdagangkan pada imbal hasil sekitar 5,28%.

Menurut analis obligasi, poin 25-30 basis (100 basis poin = 1 persentase poin) premium untuk obligasi pemerintah dapat diterima untuk obligasi dengan jaminan pemerintah eksplisit seperti obligasi 30 tahun TIA. Jika kita menambahkan 30 basis poin tambahan untuk masa 10 tahun tambahan, imbal hasil yang adil untuk obligasi ini akan mencapai sekitar 5,4%.

Namun, suku bunga tahunan efektif adalah 6,71%, jauh lebih banyak dari angka hasil yang adil ini. Tingkat yang lebih tinggi ini hanya dapat dicapai dengan menurunkan harga penerbitan, yang berarti obligasi dikeluarkan terlalu murah mengingat imbal hasilnya bisa lebih rendah sekitar 5,4%.

Perhitungan menggunakan kalkulator obligasi menemukan kesalahan harga undervalued obligasi RM5 miliar sekitar 20%. Dengan kata lain, siapa pun yang mendapat keuntungan pertama itu akan mengantongi RM1 miliar (ekuivalen Rp3,54 triliun) dengan membeli obligasi ini. Tentu dengan harga undervalued dan kemudian menjualnya kembali ke pasar dengan harga yang lebih masuk akal.

Investigasi situs web KINIBIZ sebelumnya menemukan obligasi tersebut bahkan diperdagangkan dengan premi sebesar RM1,20 (ekuivalen Rp4,25 triliun) untuk obligasi nilai nominal RM1, peningkatan substansial sebesar 36% dari harga efektif 88 sen per nilai nominal RM1.

Kesalahan penentuan harga (mispricing) obligasi semacam itu merepresentasikan uang muka dengan cara undervaluing obligasi dan menjualnya dengan harga pasar, penalti dibayarkan oleh suku bunga yang lebih tinggi selama masa jabatan obligasi.

Analisis serupa menunjukkan untuk obligasi utama lainnya yang diterbitkan, semuanya diatur oleh Goldman Sachs, penilaian yang kurang dari obligasi secara total sebesar RM5.8 miliar (ekuivalen Rp20,55 triliun).

Kesalahan harga ini merupakan kerugian akhir bagi pemerintah karena sepenuhnya dimiliki 1MDB harus membayar suku bunga yang lebih tinggi untuk periode mulai dari 10 hingga 30 tahun tetapi ini tidak muncul sebagai kerugian di mana saja di rekening. Bagi mereka yang memperoleh obligasi dengan harga murah mereka hanya perlu membaliknya di pasar untuk keuntungan cepat.

Kelebihan bayar aset listrik

Sebagian besar aset listrik diperoleh 1MDB antara Maret 2012 dan Juli 2013. Pembelian tersebut merupakan upaya 1MDB untuk mendapatkan aliran aset produktif. Pada Maret 2012, 1MDB mengakuisisi Tanjong Energy Ventures milik Ananda Krishnan seharga RM8,5 miliar (ekuivalen Rp30,12 triliun), yang kemudian berganti nama menjadi Powertek Energy Group.

Analisis situs web site KINIBIZ menunjukkan bahwa kelebihan pembayaran untuk aset-aset ini bisa mencapai antara RM1.8 miliar hingga RM2.5 miliar (ekuivalen Rp8,86 triliun).

Pembelian aset listrik berikutnya adalah aset listrik grup Genting yang diadakan di bawah Mastika Lagenda senilai RM2,3 miliar (ekuivalen Rp8,15 triliun), sehingga Genting menunjukkan keuntungan bersih sebesar RM1,9 miliar (ekuivalen Rp6,73 triliun) dari penjualan. Sumber-sumber industri memperkirakan penilaian yang berlebihan sekitar RM1,3 miliar (ekuvalen Rp4,61 triliun).

Sekitar setahun setelah membeli aset listrik Genting, 1MDB mengumumkan pembelian Jimah Energy Ventures sebesar RM1.23 miliar (ekuivalen Rp4,35 triliun), yang menurut para analis dibuat dengan nilai pasar. Dengan demikian, penilaian berlebih untuk aset listrik bisa saja antara RM3 miliar (ekuivalen Rp10,63 triliun) dan RM3.8 miliar (ekuivalen Rp13,47 triliun).

Begitu mudah Najib Razak mempermainkan uang negara, wajar kalau kemudian Mahathir Mohamad begitu mudah menjatuhkannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here