Peternak Sapi NTT Berharap Order ke Jatim Kembali Dibuka

0
139
Buce Frans pengepul sapi asal Kupang, NTT berharap bisa kirim sapi ke Jatim (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Buce Frans, lelaki yang menjabat manajer dan dipercaya mengawasi tempat penampungan dan penggemukan sapi di PT Bumi Tirta, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku dua bulan ini, sejak September 2017 lalu, perusahaannya tidak lagi mengirim sapi ke Surabaya, Jatim. Itu lantaran delivery order (DO) atau pemesanan pengiriman sapi dari Dinas Peternakan Provinsi Jatim, terhenti.

Dia menyebut, sebelumnya pengiriman sapi sesuai pesanan lancar dilakukan. Dampaknya, selain dirinya terus banyak pekerjaan mengurus sapi, masyarakat peternak di daerahnya ikut senang menyambut ramainya order permintaan.

Sebetulnya, masih kata Buce, kontrak permintaan pengiriman sapi ke Jatim masih terus berlangsung sepanjang tahun 2017, namun kemudian terhenti. Dikatakan, order pengiriman sapi ke Jatim seharusnya hingga 6 ribu ekor, yang hingga bulan September baru terealisasi 3 ribu ekor, itu lantaran Jatim surplus ketersediaan sapi.

“Ternak di sini melimpah, sudah besar-besar dan saatnya menjual tetapi karena permintaan terhenti, masyarakat tidak bisa menjual. Tugas kami kan memperlancar pembelian, tetapi kalau permintaan menurun kami juga tidak bisa membeli banyak dari masyarakat peternak. Kami berharap, Jatim kembali memberikan order untuk kami,” ujar Buce saat menerima kunjungan Pemprov Jatim di lokasi penampungan dan penggemukan sapi PT Bumi Tirta di Desa Oesau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (26/10/2017).

Lanjut dia, pengiriman yang masih berlangsung hanya ke AFK di Mojokerto yang memang ada jalinan kerjasama. “Dua bulan ini kami tidak kirim, khususnya ke Surabaya, Jatim,” terangnya.

Sapi peternak di Kupang, NTT

Meski pengiriman ke Jatim mandeg, Buce mengatakan masih berkegiatan menyiapkan order pengiriman ke Kalimantan, Jabar dan Banten. Aktivitas merawat ternak, meski jumlahnya berkurang dibanding sebelumnya, itu terus dilakukan seperti biasa.

Dirinya juga mengaku senang disambangi Dinas Peternakan Provinsi Jatim, yang melihat langsung kondisi penampungan dan penggemukan sapi yang dikelola. Didampingi istrinya, Endang yang asal Malang, dia kembali melontarkan harapan agar order pengiriman dari Jatim kembali bisa dilakukan.

“Kami masih berharap akan ada order pengiriman sapi, khususnya dari Jatim. Memang kami tahu kalau ketersediaan sapi di Jatim surplus, tetapi sapi di sini (Kupang, NTT) juga banyak,” katanya.

Kemudian lelaki itu menceritakan kalau kegiatan pengepul dan penggemukan sapi dilakukan sejak lama, yakni mulai tahun 1967. Pengumpulan dan pemeliharaan sapi dari masyarakat yang dilakukan itu pun terdengar hingga mancanegara. Tak heran, di dekade tahun 70 hingga 80-an disebutkan pengiriman sapi ke luar negeri cukup banyak dilakukan.

“Usaha ini sebenarnya sejak lama ada, sejak tahun 1967 yang dilakukan majikan saya Tuan Lie, sebagai perintis pertama yang saat ini telah meninggal dunia. Saat itu pengiriman dilakukan sampai ke Singapura dan Hongkong. Kemudian, saat muncul wabah kutu loncat dari tanaman lamtoro sekitar tahun 1985, kegiatan sempat terhenti,” kenangnya.

Masih kata dia, untuk pengiriman ke Mojokerto masih berlangsung, juga ke Kalimantan, Jakarta dan Banten. Kemudian untuk menghindari wabah serupa agar tidak terulang, pakan sapi kemudian diganti dengan rumput. Untuk pengangkutan sapi ke daerah tujuan dilakukan dengan Kapal Camar Nusantara.

Tol Laut Persingkat Waktu Tempuh 

Pihaknya juga mengaku bersyukur dengan adanya Kapal Tol Laut yang mempercepat waktu tempuh perjalanan kapal. Biasanya, jika menggunakan kapal umum memakan waktu hingga 10 hari, setelah ada kapal Tol Laut, hanya memakan waktu empat hari.

“Kami bersyukur ada Kapal Tol Laut, selain waktunya lebih pendek, keselamatan dan kesehatan sapi juga terjamin,” terangnya.

Mengaku tidak putus asah, setelah ada wabah kutu loncat pihaknya kemudian mencari lahan pengganti dan dikembangkan pakan Hijau Makanan Ternak (HMT). Menempati lahan seluar 77 hektar, kini aktivitas yang dilakukan kembali lancar.

“Satu bulan sekali, kita masih bisa kirim sapi ke AFK di Mojokerto hingga 500 ekor, dan 50 sampai 100 ke Jakarta dan Benten,” terangnya.

Namun, dia kembali berharap untuk pengiriman sapi ke Jatim bisa berlangsung seperti dulu. Dia meminta bisa diterbitkan ijin untuk pengiriman sapi dari NTT ke Jatim. Harapan itu, lanjutnya juga terus disuarakan oleh para peternak di daerahnya yang telah lama menjadi langganan menjual sapi ke perusahaan yang dikelolanya.

Saat ini, untuk mengalihkan pengiriman yang tidak lagi sebanyak dulu ke Pulau Jawa, dia mengalihkan pemasaran ke Kalimantan. Pengiriman ke Kalimantan dilakukan sejak 4 tahun silam, dengan jumlah yang lumayan dalam satu minggu 500 sampai seribu ekor.

“Untuk ke Jatim, hanya dua moment yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha saja, itu bisa sampai seribu ekor,” katanya.

Sambil berharap masa kejayaan pengiriman sapi kembali bangkit, dia mengaku tidak mengetahui persoalan apa yang tengah terjadi, khususnya untuk aturan yang tengah diterapkan, khususnya oleh Pemprov Jatim.

Jatim Surplus, “Kami tidak bisa terbitkan DO”

Tri Yatmini di Kantor Disnak Kupang, NTT (Foto: Tudji)

Sementara, Kepala Seksi Pemasaran Hasil Peternakan, Dinas Peternakan Provinsi Jatim, Tri Yatmini saat diterima oleh Kepala Dinas Peternakan NTT, Dany Suhadi di kantornya mengatakan pihaknya (Prov Jatim) memang menghentikan order pembelian sapi dari Kupang, NTT. Itu karena ketersediaan sapi di Jatim berlebihan.

“Jatim kelebihan, jadi bagaimana lagi, kami tidak bisa terbitkan DO (delivery order),” ucapnya di kantor Dinas Peternakan NTT.

PT. Bumi Tirta adalah salah satu perusahaan perawatan, penggemukan dan pengembangbiakan sapi potong di Kupang Timur, NTT. Perusahaan ini, di sepanjang tahun 2016 telah mengirim 2.500 ekor sapi potong ke beberapa kota di Jawa. Kini, meski ketersediaan sapi melimpah, order permintaan tidak lagi ramai termasuk ke Jatim.

Sepanjang 2016 merealisasikan pengiriman 18.850 ekor sapi untuk kebutuhan ketersediaan daging sapi di Provinsi DKI Jakarta. Dari data yang ada, jumlah populasi sapi di Kabupaten Kupang hingga Januari 2017 sekitar 200 ribu ekor.

Di tahun 2017, kerja sama pengiriman sapi ke Jawa yang ditarget 6 ribu ekor, baru terealisasi tiga ribu ekor. Bagaimana komitmen kerja sama tersebut. Padahal, juga ada kesepakatan yang dilakukan oleh tujuh provinsi untuk pengiriman sapi dari wilayah yang satu ke wilayah lainnya di Indonesia. Itu, selain untuk pemerataan pengiriman sapi dan keberlangsungan hidup peternak, juga untuk menjaga ketersediaan kebutuhan daging di masyarakat, serta untuk menghindari impor.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here