PG KTM Diduga Tidak Punya Amdal, Warga Terpapar Bau tak Sedap

0
455

Nusantara.news, Lamongan – Sejak beroperasi tahun lalu pabrik gula milik PT Kebon Tebu Mas (KTM), memberi warna baru bagi kehidupan masyarakat Lamongan selatan, dimana bau tidak sedap menjadi teman barunya. Kuat dugaan PG tersebut tidak punya Amdal.

Memasuki musim pertengahan musim penghujan pabrik PT KTM masih beroperasi. Ini menimbulkan dugaan bahwa pabrik ini mengolah gula rafinasi, sebab sekarang bukan waktunya panen tebu. Namun bukan itu yang membuat PTKTM disorot, tapi asap yang dikeluarkan dari cerobongnya.

Setiap hari, terutama sore sampai dinihari, bau tidak sedap menyebar ke area sekitar pabrik. Ketika Nusantara.news mencoba sejauh mana bau tersebut, mendapatkan fakta yang mengejutkan. Di Desa Ngasem Lemah Abang Kecamatan Ngimbang yang berada 7 km disebelah barat laut bau tersebut masih tercium.

Ngatiman, salah seorang warga di Ngasem, mengakui sejak pabrik beroperasi setiap sore sampai malam, bau tidak sedap menyebar. “Ada warga yang sampai mual karena baunya seperti telur busuk” katanya, Kamis (23/03/2017)

Untuk jarak yang lebih jauh lagi sekitar 17 kilo meter yakni di perbatasan Kecamatan Modo dengan Buluk pun bau itu tetap menyengat. Walaupun tidak seberapa tetap saja mengganggu. Hal sama juga terjadi didaerah sebelah timur seperti didaerah Garung, Sidodadi, sebelah  utara bahkan sampai ke kecamatan Sugio yang jaraknya hampir 20 KM.

Sementara selatan yang merupakan daerah hutan baunya pun masih terasa sampai di perbatasan Lamongan-Jombang. Untuk dusun yang berbatasan langsung dengan pabrik seperti Tanjung, Pule dan Pelas. Warganya mengaku sudah terbiasa bahkan mereka sudah apatis. “Kami sudah terbiasa mas, dengan bau busuk dari pabrik. Sudah berkali-kali kami protes namun ya gitu, protes kami masuk ruang hampa” jelas Purnomo salah satu warga Tanjung, Kamis (23/03)

Dari pengamatan Nusantara.News, untuk radius 7 KM, desa yang terpapar meliputi Desa Lamong Rejo, Desa Duri, Desa Mendugo, Desa Ganggang Tingan, Desa jejel, Desa Gebang Ngangkrik, Desa Ngasem Lemah Abang, Desa Purwokerto, Desa Lawak, Desa Munung Rejo, Desa Ngimbang, Desa Sahlar wotan, Desa Garung, Desa Sidodadi, Desa Kedung wangi dan Desa Sendang Rejo.

Sedang untuk radius 20 Km, 7 kecamatan yang terpapar yakni Ngimbang, Bluluk, Modo, Sambeng, Mantup dan Sugio.

Bila diamati, setiap hari asap berwarna kuning keluar dari cerobong. Dari kejauhan terlihat tinggi cerobong asap hanya lebih sedikit lebih tinggi dari bangunan di dekatnya.

Padahal menurut keputusan Kepala Bapedal Nomor 205/07/1996 tentang persyaratan cerobong asap menyatakan, tinggi cerobong harus dua kali  tinggi bangunan terdekat, kecepatan aliran gas dari cerobong 20 m/s agar terjadi kepulan, dan warna cerobong harus mencolok sehingga mudah dilihat. Cerobong juga harus dilengkapi dengan alat penahan angin. Puncak terobong sebaiknya terbuka, jika ingin menutup sebaiknya menggunakan penutup berbentuk segitiga terbalik agar terjadi tinggi kepulan.

Selain itu setiap cerobong diberi nomor dan dicantumkan dalam denah industri. Cerobong diberi sarana pendukung (tempat parkir, tangga besi, selubung pengaman, lantai kerja dengan pagar pengaman, katrol, stop kontak)

Semua persyaratan itu wajib diakomodir dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Namun Ketua LSM Ozon, Januar Saleh Kaimuddin, ST menyatakan bahwa Amdal PG KTM diduga kuat tidak ada. “Kami mendapat kabar bahwa Amdal yang dimiliki bukan untuk pabrik gula di Ngimbang namun untuk pabrik gula di Mantup. Data yang kami miliki menyebutkan bahwa Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan menunjuk CV. Geospasia Wahana Jaya sebagai konsultannya.” ujar Januar sambil meminta agar Gubernur Jatim menghentikan operasi pabrik gula ini, karena tidak memiliki Amdal.

Bahkan tahun lalu pipa yang mengalirkan tetes tebu pun bocor dan mengalir ke Kali Lamong. Seperti asap bau busuk pun membuat geger warga dusun Pule Desa Lamongrejo yang bersebelahan dengan pabrik. “Untung sekarang sedang musim hujan, jadi limbah langsung lari terbawa hujan,” katanya.

Pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) Lamongan sendiri sudah mengetahui adanya pencemaran ini, bahkan sudah memanggil pihak manajemen. Namun tidak ada tindakan apapun. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here