Pidato Pertama di Hadapan Kongres AS, Gaya Trump Tak Biasanya

0
141
Wakil Presiden AS Mike Pence dan Ketua DPR Paul Ryan memuji pidato Presiden AS Donald J. Trump pada sesi gabungan Kongres di gedung parlemen, Washington, DC, Amerika Serikat, 28 Februari 2017. Foto: Reuters

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan gaya  yang tak biasa dalam pidato pertamanya di hadapan Kongres, Selasa 28 Februari 2017 malam. Kali ini, Presiden yang kerap ucapannya berbuah kontroversi menampilkan peran yang agak kalem.

Sebagaimana dilaporkan Reuters (1/3) di hadapan Kongres AS Trump tampil sebagaimana layaknya pihak yang punya kebutuhan dalam membuat suatu kesepakatan bersama, dia bak seorang ‘salesman’ yang menawarkan sebuah produk dengan cara yang manis agar produk tersebut disukai.

Dalam pidato di hadapan Kongres gabungan itu, Trump mencoba mengemas pesan-pesan populisnya dengan istilah-istilah yang lebih ramah dan enak didengar. Trump menjadi kurang agresif dan kurang emosional, tapi sebaliknya lebih terbuka.

Hal ini sangat berbeda sikapnya ketika lima minggu yang lalu di saat pelantikannya, dia ‘menyerang’ para politisi Washington dan menyebutnya sebagai kaum elitis yang makmur dengan mengorbankan rakyat Amerika. Tapi pesan Donald Trump pada Selasa malam itu berbeda. Kira-kira dia ingin mengatakan seperti ini: “Aku membutuhkanmu, Partai Republik dan Demokrat sama saja.”

Apa yang dilakukan Trump bagaimanapun wajar dari segi politik. Trump pada saat ini memang tengah membutuhkan dukungan Kongres, baik Republik maupun Demokrat untuk memuluskan sejumlah program yang dicanangkannya.

Namun tidak dipungkiri adanya pandangan sebagian kalangan bahwa populisme yang selama ini didengung-dengungkan Trump palsu belaka. Bahwa apa yang dilakukan Trump sebagai politisi selama ini, merupakan sandiwara belaka. Realitanya Trump  pada akhirnya harus berkompromi dengan orang-orang yang dulu disebutnya sebagai kaum elitis itu.

Pembagunan infrastruktur besar-besaran dan program pekerjaan umum; pemotongan pajak untuk kelas menengah; reformasi imigrasi; perbaikan bidang kesehatan; dana pendidikan; semua itu akan sangat membutuhkan campur tangan Kongres, yang secara politis merupakan kelompok politik yang berbeda-beda dari konservatif, moderat dan demokrat.

“Ini adalah visi kita. Ini adalah misi kita,” kata Trump. “Tapi kita hanya akan bisa sampai ke sana jika melakukannya bersama-sama,” demikian kata Trump kepada Kongres.

Trump merupakan seorang Republikan yang telah “mengejek” Demokrat atas kemenangannya pada Pemilu AS tahun 2016 lalu.

Namun, setelah serangan dari media selama berminggu-minggu, pertentangan lawan politik dan bahkan perlawanan dari para hakim terkait perintah eksekutifnya yang melarang kunjungan tujuh negara mayoritas Muslim, Trump akhirnya mereda.

“Itu adalah nada yang lebih lembut, dan dia membawakannya dalam pidato bukan tweet, dan itu lebih cocok bagi presiden Amerika Serikat,” kata Perwakilan Demokrat Peter Welch.

“Tantangannya sekarang, bagaimana menjadi mewujudkan rincian kebijakan-kebijakannya itu,” katanya

“Dia presiden malam ini, dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya,” kata konsultan partai Republik Matt Mackowiak.

Perubahan gaya Trump dalam pidatonya juga diakui oleh Gedung Putih, bahwa gaya Trump yang bombastis akan ada batasnya. Dan setelah sejumlah kontroversi terkai perintah eksekutif, Trump sekarang harus mengalihkan perhatiannya pada agenda-agenda yang melibatkan legislatif.

Menurut mantan staf ahli Presiden George W. Bush, Bradley Blakeman, “Dia tidak bisa melakukan semuanya secara sepihak.”

“Dan sekarang dia harus memenuhi janji-janjinya,” katanya.

Blakeman mengatakan Trump membutuhkan Demokrat untuk membangun suara mayoritas di parlemen pada saat Republik konservatif menentang sejumlah rencana dia yang lebih moderat. Misalnya, soal belanja infrastruktur yang besa serta pembicaraan mengenai reformasi imigrasi.

“Dia (Trump) mengerti bahwa Anda mungkin tidak menyukai kesepakatan ini, tapi aku ingin Anda menerima tiga penawaran lain,” kata Blakeman.

Sejumlah kalangan skeptis

Lawan-lawan politik Trump tetap skeptis meskipun dalam pidato di hadapan Kongres dia tampaknya mengubah sikap.

“Jika Anda tinggal di dalam gua untuk sebulan terakhir, Anda mungkin akan berpikir ini adalah pidato yang wajar. Tapi jika Anda melihat dia setiap hari, Anda bisa melihat ini (pdato Trump) sebagai retorika belaka,” kata Rodell Mollineau, seorang staf dari mantan Senator Demokrat Harry Reid.

Sementara itu, senator terkemuka dari Demokrat Nancy Pelosi mengatakan, “Pidato Presiden benar-benar telah terputus dari realitas yang kejam dari tindakan-tindakannya.”

Namun, Kongres Demokrat mengakui mereka menyukai program infrastruktur, pajak kredit untuk anak, mengurangi harga obat, dan janji melestarikan beberapa elemen kunci dari hukum asuransi kesehatan warisan Barack Obama, Obamacare.

Demokrat tetap tidak sepakat, antara lain, dengan janji Trump untuk memangkas program domestik, meningkatkan belanja militer, rencananya mengurangi pajak bagi orang kaya dan perusahaan, serta kebijakan deportasi yang terlampau agresif.

Yang pasti, unsur-unsur yang bersifat retorik masih ada pada Trump, meskipun telah sedikit menurun. Trump dalam kampanyenya menggambarkan negara dalam ekonomi yang hancur dan diganggu oleh terorisme, narkoba, geng, serta imigran ilegal.

Dalam beberapa hari mendatang, Gedung Putih kemungkinan bakal merilis versi revisi dari larangan perjalanan, menghidupkan kembali kontroversi yang membayangi minggu pertama masa kepresidenan Trump.

Trump tampaknya tengah berjuang memperbaiki opini publik terhadapnya. Dalam wawancara dengan Fox News, dia mengakui bahwa antara dia dan stafnya tidak pernah komunikasi yang efektif.

Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru menemukan sekitar 48 persen orang Amerika setuju dengan kinerja Trump, dengan 46 persen yang mendukung dia, angka yang buruk untuk seorang presiden baru.

Mackowiak mengatakan, pidato Trump bisa membalikkan citranya. “Dukungan publik akan meningkat karena dari pidato ini,” katanya.

Tapi John Geer, ahli opini publik di Vanderbilt University, tidak yakin. “Dia harus melakukan lebih dari sekadar pidato.” [] (Reuters)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here