Pidato PM Inggris Pertegas Keputusan Brexit

0
122
PM Inggris Theresa May (sumber: mirror.co.uk)

Nusantara.news, London – Rakyat Inggis telah memilih keputusan populis dalam referendum yang dilaksanakan medio 2016 lalu, yaitu keluar dari Uni Eropa (Brexit). Lebih dari setengah tahun proses persiapan berjalan, masyarakat UE akhirnya mendapat kepastian bahwa Inggris benar-benar memilih keluar dari pasar tunggal UE. Kepastian didapat setelah Perdana Menteri Inggis yang baru 6 bulan menjabat Theresa May menyampaikan pidato yang dinanti-nantikan di London (17/1/).

Sejumlah respon dari komunitas Uni Eropa muncul, di antaranya dari Presiden UE Donald Tusk. Menurutnya, pidato PM Inggris May lebih realistis meskipun menyedihkan.

“Proses yang menyedihkan, waktu yang tidak tepat tapi setidaknya ini pengumuman yang realistik pada #Brexit. EU27 bersatu dan siap bernegosiasi setelah Art 50,” cuit Tusk dalam akun media sosialnya, sebagaimana dikutip CNN (18/1).

May, yang akan berbicara dengan Tusk lewat telepon mengatakan, dia akan menggunakan pasal 50 perjanjian Lisbon Uni Eropa untuk memulai negosiasi Brexit pada akhir Maret 2017.

Setelah itu akan dimulai hitung mundur selama dua tahun untuk kesepakatan keluarnya Inggris dari UE. Kesepakatan dimaksud juga termasuk tentang tagihan pembayaran anggaran yang harus dibayar Inggris serta timbal balik bagi Inggris yang tinggal di UE, begitupun sebaliknya.

Menurut sumber di UE kemungkinan Inggris harus bayar mahal atas keputusannya keluar dari UE yang diperkirakan jumlahnya mencapai 55-60 miliar euro.

Inggris dan UE juga akan berembuk untuk menyetujui sejumlah kesepakatan terkait hubungan di masa depan termasuk kesepakatan dagang. Brexit akan membuat Inggris tidak bisa mendapat kesepakatan khusus dengan UE dan dikenakan tarif yang lebih mahal ketimbang negara-negara anggota.

Dalam pidatonya, May menginginkan Inggris keluar baik-baik dan tertib dari UE namun dia juga berharap ada kesepakatan perdagangan setelah Brexit. Hal ini diharapkan bisa menjaga akses Inggris sepenuhnya untuk pasar tunggal UE.

Reaksi berbeda muncul dari negosiator Brexit untuk Parlemen Eropa, Guy Verhofstadt yang menyambut pidato May mengenai pasar tunggal.

“Itu ilusi, ilusi yang bisa membawa Anda keluar dari pasar tunggal. Anda bisa keluar dari serikat dan bisa bersantai tapi berharap masih bisa mendapat berbagai keuntungan, saya pikir itu tidak akan terjadi,” tandas Verhofstadt menanggapi pidato PM Inggris.

Poin-poin pidato PM Theresa May

Dalam pidato selama satu jam Theresa May mengumumkan kepada dunia poin-poin utama untuk membuat perpisahan Inggris dengan UE berjalan mulus. Setidaknya ada empat poin yang patut dicermati, seperti yang dirangkum New York Times.

Pertama, May secara tegas berulang kali menyebut Britania Raya akan keluar dari konsorsium perdagangan tunggal UE. Sebagai gantinya, May akan membuat perjanjian perdagangan baru dengan UE.

“Perjanjian ini (nantinya) harus memberikan kebebasan maksimum bagi perusahaan-perusahaan Britania Raya untuk melakukan perdagangan dan beroperasi dengan pasar di Uni Eropa,” ujar May.

Sebagai anggota, nilai perdagangan Britania Raya dengan 27 negara UE bernilai sekitar 513 miliar Pound (388,4 miliar USD) pada 2015, lebih dari separuh nilai perdagangan Britania Raya sendiri.

Kedua, Britania Raya juga akan keluar dari perserikatan kepabeanan UE. Dalam konsorsium UE, seluruh negara anggota yang terlibat di dalamnya berhak atas kebijakan bebas tarif dalam melakukan perdagangan antar-negara.

Sebagai gantinya, Britania Raya akan menyusun sendiri tarif perdagangan mereka. Sejumlah pakar menyebut, Britania Raya kemungkinan besar bisa menjadi salah satu negara bebas pajak (tax haven) dari kebijakan ini.

Ketiga, ketidakpastian atas nasib warga negara UE yang berada di Britania Raya. May menyebut akan menjamin hak-hak dari warga UE yang tinggal di negara-negara Britania Raya (Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales) begitu juga sebaliknya.

Setidaknya ada 3,2 juta warga UE yang tinggal di Britania Raya, dan 1,2 juta warga Britania Raya yang tersebar di sejumlah negara-negara UE.

“Aku telah berbicara dengan sejumlah pemimpin negara Uni Eropa tentang kepastian kepada orang-orang ini, dan kami akan segera sampai pada sebuah kesepakatan,” ucap May tanpa memerinci kesepakatan dan kepastian seperti apa yang dimaksud.

Keempat, Britania Raya akan mengontrol penegakan hukumnya sendiri. “Meninggalkan Uni Eropa juga mengartikan bahwa kita akan segera membuat aturan sendiri di Westminster, Edinburg, Cardiff, dan Belfast (pusat pemerintahan masing-masing negara bagian Britania Raya),” kata May.

“Tapi aku harus menegaskan di sini. Britania Raya ingin tetap menjadi teman dan tetangga yang baik bagi Uni Eropa… Dan jika ada pihak ingin bermain hakim sendiri, maka itu bukanlah sikap seorang teman,” ungkap May dalam bagian pidatonya. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here