Pidato Trump di Davos : American First Bukan Hanya untuk Amerika

0
242
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlihat tercenung saat ia bertemu dengan Presiden Rwanda Paul Kagame (tidak terlihat) dalam pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Jumat (26/1). ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria/cfo/18

Nusantara.news, Davos – Di hadapan para pemimpin dunia, Presiden Amerika Serikat (AS) kembali menegaskan negaranya akan menempatkan kepentingan AS terlebih dahulu dalam perdagangan dunia, tapi tidak berarti American First hanya untuk Amerika saja. “AS terbuka untuk bisnis,”ucapnya.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berpidato di hadapan para pemimpin dunia yang hadir  dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF/World Economic Forum) di Davos, Swiss, Jumat (26/1) kemarin lusa.

Banggakan Kinerja

Seperti halnya gaya pidato Trump sebelumnya, dia terus menyerang praktek perdagangan “predator” dan mengingatkan kepada mitra-mitra dagangnya, AS tidak akan memberi toleransi praktek perdagangan yang tidak adil.

Memang, saat terpilih menjadi Presiden AS, tema utama kampanye Trump adalah American First yang bertujuan melindungi produsen lokal dari persaingan global. Kebijakan itu tampaknya bertentangan dengan tujuan diselenggarakannya WEF yang mempromosikan globalisasi dan kerja-sama perdagangan dunia.

Di forum itu Trump yang menghadapi persoalan rumit di dalam negerinya berkampanye tentang keberhasilan ekonomi AS selama satu tahun pemerintahannya, termasuk di dalamnya memotong pajak perusahaan dan menurunkan tingkat pengangguran, dan mempromosikan AS sebagai tempat yang terbaik untuk investasi.

“Saya di sini (bicara) untuk menyampaikan pesan sederhana – tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk menyewa, membangun, berinvestasi dan bertumbuh di AS. Amerika terbuka untuk bisnis dan kami sangat kompetitif,” ujarnya.

Trump pun menghimbau kepada para pengusaha mengambil kesempatan untuk ekonomi yang kuat di AS sekaligus mengajak para investor asing menanamkan modal ke negaranya. “Bawalah uang anda, pekerjaan anda, bisnis anda ke Amerika,”pinta Trump.

Saat Trump berpidato, angka pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan perlambatan pertumbuhan dari 3,2% menjadi 2,6% pada kuartal terakhir tahun lalu. Ini berarti pertumbuhan tahunan tahun 2017 adalah 2,3% atau naik dari 1,5% pada tahun sebelumnya. Toh demikian angka itu masih di bawah target Trump sebesar 3%.

Proteksionisme Vs Globalisasi

Kata kunci dari pidato Trump, tulis Editor Ekonomi BBC News Kamal Ahmed adalah American First bukan hanya untuk Amerika saja. Itu semua tentang perdagangan dan pendekatan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Ketakutan utama adalah AS di bawah Trump akan mengeluarkan serangkaian hambatan perdagangan, meningkatkan proteksionisme di saat kebanyakan pemimpin pemerintahan di Davos seperti Narendra Modi dari India, Justin Trudeau dari Kanada dan Emmanuel Macron dari Perancis mewartakan “injil” globalisasi.

Dengan kata lain, WEF di Davos dimanfaatkan Donald Trump untuk menggaungkan kembali American First seperti tema kampanye saat mencalonkan presiden. Namun kali ini, tulis editor BBC, pidato Trump lebih bernuansa karena dikemas dengan pernyataan “kami tidak menginginkan perang dagang, melainkan menginginkan perdagangan yang adil”.

Toh demikian Korea Selatan, Meksiko dan China sudah mulai kelabakan ketika pekan ini pemerintah AS memberlakukan tarif perdagangan mesin cuci dan panel surya hingga 50%.

Donald Trump menuntut suatu sistem perdagangan internasional yang telah direformasi yang “adil dan timbal balik” dan menuduh negara-negara yang tidak dia sebutkan namanya telah melakukan praktek tidak adil, termasuk pencurian hak kekayaan intelektual secara besar-besaran dan memberikan bantuan negara ke industri.

Trump juga menegaskan, negaranya lebih memilih perjanjian bilateral ketimbang perjanjian multi-lateral, termasuk di dalamnya menarik kesepakatan Kemitraan Trans Pasifik (TPP/Trans Pacific Partnership). Dia menegaskan akan mempertimbangkan untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara TPP secara kolektif apabila itu selaras dengan kepentingan AS.

Sambutan Peserta

Setelah pidato, Trump menggambarkan lewat akun Twitter miliknya, pidatonya telah diterima dengan baik.

Padahal ada sejumlah peserta mencemooh saat Trump menyerang media massa dan mengulangi tuduhan tentang media massa yang membuat “berita palsu” saat acara tanya jawab setelah dia pidato.

“Sebagai pengusaha saya selalu diperlakukan dengan baik oleh pers – dan baru setelah saya menjadi politisi saya menyadari betapa buruknya, betapa jahatnya dan betapa kejamnya pers (terhadap saya),” keluh Trump.

Wartawan BBC Katie Hope yang meliput acara itu menuturkan, antisipasi (yang dilakukan panitia penyelenggara) dalam level yang tinggi namun tanggapan floor agak dibungkam ketika sejumlah wartawan mengharapkan nada yang lebih rekonsiliatif.

Meskipun demikian Trump menanggapi secara antusias saat dia hadir di ruang utama yang disambut dengan tepuk meriah di hari Kamis (25/1) yang lalu.

Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May di Kami situ, Trump mengharapkan adanya “peningkatan yang luar biasa” dalam perdagangan antara AS dan Inggris di tahun-tahun mendatang.

Selain itu Trump juga minta maaf kepada Theresa May saat meneruskan (retweet) postingan dari kelompok sayap kanan di Inggris yang memicu polemik di Twitter dengan koleganya itu.

Tentang retweet yang menggemparkan itu, saat wawancara dengan wartawan ITV Piers Morgan, Trump menjelaskan, “Jika anda mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengerikan dan rasis, saya pasti akan meminta maaf jika Anda ingin saya melakukan itu.”

Retorika Populisme

Pidato Trump yang intinya adalah American First bukan hanya untuk Amerika, dan dirinya tidak menginginkan perang dagang melainkan perdagangan yang adil, muncul setelah AS mengumumkan tarif impor hingga 50% untuk mesin cuci dan panel surya. Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin di Davos juga mengingatkan, akan lebih banyak lagi tarif perdagangan.

Kenyataan itu membuat pimpinan pemerintahan di Davos bertanya-tanya, apakah ini berarti Trump mengajak perang – mengibaskan jarinya ke pemimpin global tentang bagaimana WEF telah berpisah dari kenyataan dari apa yang orang inginkan?

Apakah Trump akan berdamai dengan nada yang berbeda tentunya? Banyak analis ekonomi berharap kepada yang kedua.

Trump memang banyak menyinggung zona erotis perekonomian dunia. Tapi banyak yang tidak yakin bagaimana cara mengambilnya mengingat gagasan proteksionisme yang dia cetuskan juga bertabrakan dengan kepentingan pengusaha AS sendiri.

Trump banyak bicara tentang “suara-suara yang terlupakan” khas populisme – sebuah tema konstan di sini di antara “makhluk super” yang menyadari realisasi sistem yang harus diubah jika ingin mempertahankan kepercayaan kepada sistem kapitalis.

Trump berbicara tentang kesuksesan ekonomi kira-kira lebih dari jumlah produksi yang selaras dengan jumlah warganya.  Bisnis, dalam pandangan Trump, harus mengingat kewajiban mereka kepada orang-orang yang bekerja untuk mereka.

Namun para pengecam Trump dengan mudah akan mengenali celah-celah kelemahannya. Misalnya tentang pemotongan pajak penghasilan yang lebih menguntungkan orang-orang kaya ketimbang kaum pekerja yang dibela secara retorika oleh gagasan populismenya.

Paling tidak dengan pemotongan pajak yang menguntungkan orang kaya AS termasuk Trump sendiri akan memangkas program jaminan sosial untuk kalangan pekerja.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here