KTT NATO, Brussels

Pidato Trump Membuat Negara Anggota NATO Cemas

0
195
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Theresa May menunggu kesempatan foto pada pertemuan puncak NATO di Brussels pada hari Kamis, 25 Mei 2017. Foto: Getty Images

Nusantara.news, Brussels – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kecemasan bagi negara-negara anggota NATO, khususnya Eropa, dengan kembali menagih janji para pemimpinnya untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka hingga 2% dari PDB.

Hal tersebut disampaikan Trump dalam pidatonya di KTT negara-negara NATO di Brussels, Kamis (25/5). Sebagaimana ditulis media NPR, Trump menyindir para pemimpin NATO yang hadir bahwa tingkat pendanaan pertahanan mereka (NATO) “tidak adil” bagi para pembayar pajak di AS. Dimana sejauh ini Trump menganggap AS merupakan kontributor terbesar biaya pertahanan NATO, AS mempunyai anggaran pertahanan 3,6% dari PDB pada tahun lalu, sementara rata-rata anggota NATO di bawah 2%.

Kecemasan lain yang ditimbulkan pidato Trump adalah bahwa presiden AS tersebut tidak secara jelas menyatakan dukungannya untuk pasal 5, sebuah pasal utama di NATO, sesuatu yang amat diharapkan oleh negara-negara anggota NATO.

Pasal 5 tersebut menyatakan: “Para anggota setuju bahwa sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa maupun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Selanjutnya, mereka setuju bahwa jika serangan bersenjata seperti itu terjadi, setiap anggota, dalam menggunakan hak untuk mempertahankan diri secara pribadi maupun bersama-sama seperti yang tertuang dalam Pasal ke-51 Piagam PBB, akan membantu anggota yang diserang jika penggunaan kekuatan semacam itu, baik sendiri maupun bersama-sama, dirasa perlu, termasuk penggunaan pasukan bersenjata, untuk mengembalikan dan menjaga keamanan wilayah Atlantik Utara.”

Associated Press (AP) menggambarkan bahwa pidato Trump pada hari Kamis itu sebagai “pukulan” yang belum pernah terjadi sebelumnya yang cukup “menggetarkan” bagi Eropa yang saat ini tengah dilanda kecemasan tentang situasi keamanan, terutama dalam menghadapi ancaman terorisme.

Sementara itu, di dalam negeri, seorang pemimpin Partai Demokrat, oposisi pemerintah AS, menyebut bahwa pidato Trump tersebut merendahkan para pemimpin negara anggota NATO lainnya dan “membuat malu” AS. Kendatipun Senator dari Republik Rand Paul tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut Paul, posisi Trump sudah tepat.

Telah diperkirakan sebelumnya oleh sejumlah media AS, bahwa Presiden Trump akan menggunakan momentum pidato di Brussels tersebut sebagai kesempatan untuk meminta para pemimpin negara NATO lainnya untuk meningkatkan pengeluaran militer mereka masing-masing.

“Lakukan bagianmu, bayar bagianmu yang adil. Itu pesan dasarnya,” demikian analisa yang ditulis oleh media NPR sebelum pidato Trump dimulai.

Trump menginginkan negara-negara anggota NATO memenuhi janji mereka pada tahun 2014, untuk membelanjakan paling rendah 2% dari GDP negara mereka untuk pertahanan nasional, dengan demikian mereka telah berkontribusi pada kekuatan aliansi (NATO).

Negara-negara anggota NATO pernah berjanji bahwa pada tahun 2014 sudah memenuhi 2% dari PDB mereka untuk bidang pertahanan, namun hal ini baru dipenuhi oleh segelintir negara, yaitu Inggris, Yunani, Polandia dan Estonia. Hal inilah yang membuat Trump protes dan pernah mengeluarkan pernyataan bahwa NATO adalah aliansi yang sudah usang.

Bahkan pada Maret lalu, beredar kabar bahwa pemerintahan Trump membuat daftar tagihan (invoice) untuk pemerintah Jerman sebesar USD 300 juta. Jumlah yang merupakan besaran utang plus bunga yang semestinya dibayar Jerman kepada NATO, karena sejak tahun 2002 anggaran pertahanan Jerman yang seharusnya sudah 2% dari PDB,  tapi hingga sekarang masih 1,2% saja.

Tahun 2002, pemimpin Jerman Gerhard Schröder, sebelum Angela Merkel, pernah berjanji untuk mengeluarkan lebih banyak anggarannya untuk pertahanan. Trump lalu memerintahkan untuk menghitung berapa banyak seharusnya pengeluaran Jerman selama itu, dengan ditambah bunga.

Sejumlah pejabat Jerman sempat marah dengan kabar tersebut, meskipun kanselir Angela Merkel sendiri tidak mau menanggapinya dengan serius, lebih-lebih kemudian pihak Gedung Putih memberikan klarifikasi bahwa tagihan invoice ke Jerman itu tidak ada.

Juru bicara Gedung Putih, Michael Short, ketika itu membantah laporan media tentang invoice Trump kepada Merkel dan menganggapnya sebagai berita palsu.

Jerman merupakan penyandang dana terbesar kedua dalam anggaran sipil dan militer di NATO, dengan jumlah hampir 14% , setelah itu Inggris dan Prancis dengan masing-masing 10,6% dan 9,8%.

Trump dan NATO

Hubungan Trump dan NATO mengalami pasang surut. Pada saat kampanye, bahkan setelah dia terpilih sebagai presiden AS, Trump mengkritik NATO sebagai aliansi yang telah usang karena dianggapnya tidak efektif untuk melawan terorisme.

Trump, yang ketika itu tengah dekat dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin, awalnya enggan untuk menghadiri KTT para pemimpin negara NATO Kamis lalu di Brussels, tapi kemudian Trump berubah pikiran dan bersedia menghadiri KTT tersebut. Entah karena saat ini hubungan Trump dan Rusia tengah bermasalah atau ada pertimbangan lain, yang jelas ini adalah pertemuan pertama Trump, sebagai presiden AS, dengan para pemimpin negara NATO, yang nyatanya masih belum membuat negara-negara anggota NATO yakin dengan dukungan Trump terhadap aliansi itu.

Menjadi pertanyaan, jika AS kemudian tidak lagi mendukung secara penuh NATO, mengingat dari sejarahnya aliansi ini terbentuk atas inisiatif AS, dan hingga saat ini NATO sendiri masih identik dengan AS.

Tanggal 4 April 1949, para menteri luar negeri dari Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan sembilan negara lainnya menandatangani sebuah perjanjian pembentukan pakta pertahanan Atlantik Utara. Pakta itu diberi nama North Atlantic Treaty Organization, disingkat NATO. Tujuan utamanya, melindungi para anggotanya dari ancaman Uni Soviet. Jadi, NATO memang implikasi langsung dari perang dingin dan meluasnya ancaman nuklir setelah penemuan bom atom. Tugas utama NATO tertera pada pasal 5 perjanjian pakta pertahanan.

NATO merupakan sebuah pakta pertahanan yang mengutamakan tindakan kolektif. Jerman mulai menjadi anggota NATO pada tahun 1955. Ketika itu, semua anggota NATO, termasuk Jerman secara tegas mendukung Amerika Serikat (blok Barat) dalam perang dingin dengan Uni Soviet. Sebagai balasannya, AS juga memberi perjanjian perlindungan. AS berjanji, kalau ada serangan terhadap Berlin, Brussel atau Paris, AS  akan bereaksi seakan-akan serangan itu dilakukan terhadap Washington, Chicago atau New York.

Di pihak lain, ketika itu di blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet membentuk Pakta Warsawa sebagai tandingan NATO. Hanya saja, ketika Uni Soviet dan Pakta Warsawa runtuh awal tahun 90-an, NATO seperti kehilangan musuh dan legitimasi awalnya.

Sekarang, NATO sudah beranggotakan 28 negara. Beberapa anggota merupakan bekas anggota Pakta Warsawa. Fungsi NATO juga menjadi semacam kerangka kerja sama antara Eropa dan AS dalam masalah-masalah pertahanan dan keamanan. Tantangan yang dihadapi NATO sekarang bukan lagi ancaman blok Timur, melainkan terorisme, senjata pembunuh massal dan ancaman dari negara-negara yang dilanda kekacauan.

Trump, sebagaimana diketahui sangat keras menyuarakan pemberantasan terorisme, sebagaimana disampaikan dalam pidatonya di hadapan para pemimpin negara Muslim di Riyadh, Arab Saudi Jumat minggu lalu. Trump juga mengecam Iran karena dituding turut menyokong sejumlah gerakan terorisme di Timur Tengah. Dalam konteks ini, Trump tentu menginginkan NATO lebih berdaya dalam menghadapi terorisme global, termasuk yang mengancam Amerika dan Eropa.

Hanya saja, Trump tidak mau AS paling terbebani mengenai biaya militernya, dia ingin semua anggota NATO menanggungnya secara adil, versi Trump tentunya. Hal yang oleh sejumlah anggota senat AS malah dipertanyakan, “apakah Trump ingin menyerahkan posisi AS sebagai ‘pemimpin keamanan dunia’ kepada pihak lain?” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here