Pikiran Cerdas Emil Kembangkan Pulau Madura

0
151
"Martono: Emil adalah sosok pemuda representasi milenial, cerdas dan mumpuni, saya heran dengan konsep dan pemikirannya sebagai calon pemimpin. Misalnya, saat mengkonsep untuk memajukan Madura sekelas Belanda" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Martono, Dosen Universitas Surabaya, yang juga mantan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur menyebut, Jawa Timur membutuhkan sosok pemimpin yang selain paham tentang Jawa Timur, juga memiliki konsep yang jelas dan tegas untuk mewujudkan Provinsi Jawa Timur semakin baik, dari yang telah dilakukan pendahulunya.

Martono kemudian menguraikan sosok pemimpin, termasuk untuk memimpin Provinsi Jawa Timur adalah yang memiliki, memahami dan bisa menjabarkan tiga aspek. Yakni, sebagai administrator pemerintahan, kemasyarakatan dan administrator pembangunan.

“Sederhananya, kita harus mencari pemimpin yang mampu menjalankan fungsi sebagai kepala daerah atau Gubernur Provinsi Jawa Timur. Lebih khusus dikaitkan dengan kondisi obyektif Jawa Timur dengan berbagai persoalannya yang seperti sekarang ini. Kepala daerah itu, harus memahami dan bisa menjalankan tiga peran. Pertama, sebagai administrator pembangunan, dia harus bisa menggerakkan pembangunan. Dia juga administrator pemerintahan, artinya harus punya kemampuan mengelola pemerintahan berdaya guna dan menjadi daya dorong bagi pelaksanaan pembangunan. Ke tiga, mampu sebagai penggerak administrator kemasyarakatan. Dari tiga fungsi itu menurut saya yang sangat kuat dan luar biasa adalah pasangan nomor satu, Khofifah-Emil,” urai Martono di acara “Deklarasi Wartawan Senior Jawa Timur dengan tema ‘Mendukung dan Mengawal Calon Gubernur Jawa Timur Menuju Masyarakat Cerdas dan Sejahtera’ di Hotel Verwood Surabaya, Rabu (4/4/2018).

Lebih jauh diterangkan kalau ‘perkawinan’ pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak akan mampu untuk meneruskan program yang telah dilakukan oleh Soekarwo, di Karsa Jilid satu dan jilid dua.

Dirinya juga berharap masyarakat pemilik hak suara di Jawa Timur jeli dan mampu menganalisa serta menjatuhkan pilihan untuk lahirnya pemimpin yang mumpuni.

“Tiga, fungsi administrator itulah, pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan yang harus dimiliki oleh calon. Dan, masyarakat harus jeli soal itu, untuk menentukan pilihannya,” tambahnya.

Tentang sosok Khofifah, Martono memberikan penilaian positif. Dia menyebut Khofifah memiliki kemampuan menjalankan tiga fungsi yang dijabarkan itu. Khofifah juga memiliki kemampuan dan keilmuan yang cukup. Karena pernah di pemerintahan, baik sebagai DPR dan berpengalaman sebagai menteri.

“Khofifah itu menteri juga anggota DPR. Sementara, Emil adalah kepala daerah, untuk ketiga program administrator itu mereka (Khofifah-Emil) mampu dan memiliki itu, dan mereka itu klop. Masyarakat akhirnya tahu dan akan menjatuhkan seperti yang dibutuhkan untuk menata Jawa Timur menjadi lebih baik,” tegasnya.

Setelahnya, masih kata Martono, masyarakat juga harus terus mengawal saat pasangan terpilih tersebut memimpin Jawa Timur. Agar tujuan dan cita-cita untuk menjadikan Jawa Timur menjadi lebih baik seperti yang telah dilakukan oleh Karsa jilid Satu dan Karsa Jilid Dua.

“Potensi sumber daya energinya sangat luar biasa, 8 triliun di antaranya berasal dari sumber daya energi. Ini berkah bagi Madura. Kalau ada yang menyebut Madura itu miskin, salah” (Foto: Humas Sekdakab Trenggalek)

Martono menilai sosok Emil sebagai representasi milenial adalah calon pemimpin yang cocok mendampingi Khofifah untuk menuju cita-cita mewujudkan Jawa Timur lebih baik. Dia kemudian mencuplik sedikit soal pemikiran Emil yang diikutinya dalam sebuah kesempatan. Dikatakan, misalnya saat Emil memberikan paparan soal konsep pengembangan Pulau Madura. Martono mengakui Emil yang berlatar belakang pendidikan yang mumpuni dipandang akan mampu mewujudkannya.

“Saya yakin, Emil akan mampu menjalankan perannya mendampingi Khofifah. Dia sosok yang cerdas dan punya komitmen tinggi untuk memajukan Provinsi Jawa Timur, bahkan dia mengambil contoh bisa melebihi Negeri Belanda,” katanya.

Menggagas untuk memajukan Pulau Madura, Emil saat berbicara di Seminar Nasional dengan tema “Masyarakat Madura Pasca Jembatan Suramadu” di Sumenep, Senin (2/4/2018). Dia menjabarkan, dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur, Pulau Madura memiliki Sumber Daya Energi (SDE) yang sangat besar. Di Kabupaten Sumenep misalnya, dia menyebut Sumenep dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai Rp22 triliun.

“Potensi sumber daya energinya sangat luar biasa, 8 triliun di antaranya berasal dari sumber daya energi. Ini merupakan berkah bagi Madura. Kalau ada yang menyebut Madura itu miskin, salah,” terangnya.

Dan, jika (SDE) nya terus dikembangkan akan dengan cepat mengangkat Madura, khususnya Sumenep menjadi lebih baik dibanding dengan daerah-daerah lain, itu yang belum dilakukan untuk Sumenep atau umumnya Madura.

“Sumenep saja PDRB nya segitu. Makanya jangan sampai mendengar angka Rp1 triliun untuk Madura, sudah merasa luar biasa. Jika hanya angka yang kita lempar begitu saja tetapi kita tidak mengetahui benar situasi dan konteks dari Madura, ini akan bahaya,” lanjutnya menyikapi potensi Pulau Madura.

Emil kembali menegaskan, Madura adalah wilayah yang strategis untuk dibangun pelabuhan samudera, yakni Pelabuhan Tanjung Bulu Pandan. Untuk mewujudkan itu memang dibutuhkan anggaran yang besar. Namun, jika itu terwujud Madura akan menjadi lebih baik, dan merupakan kebangkitan untuk Madura.

“Itulah yang disampaikan oleh Emil, saya kagum sekali ada anak muda yang cerdas dan memiliki pemikiran jauh untuk memajukan daerahnya, itulah Emil,” tegas Martono.

Pelabuhan Samudera Angkat Potensi Madura

Selain Martono, yang juga menyebut sosok Emil sebagai pemuda cerdas, pintar dan layak duduk di pemerintahan untuk kemudian memajukan Provinsi Jawa Timur adalah Choirul Anam atau yang akrab dengan sapaan Cak Anam. Di kesempatan itu, Cak Anam juga menegaskan Jawa Timur harus dipimpin oleh sosok mumpuni yang memahami semua aspek ketertinggalan dan potensi alam dan sumber daya manusia yang dimiliki.
“Jadi, memilih pemimpin (di Pilgub Jatim) itu harus sosok yang memahami semua persoalan dan apa yang harus dilakukan untuk Provinsi Jawa Timur ini, jangan sampai memilih calon yang tidak memahami persoalan dan apa yang harus dilakukan. Kita semua tahu, untuk menjalankan itu termasuk mengentas kemiskinan Khofifah sudah ahli,” kata Cak Anam.

Dipasangkan dengan Emil, kandidat nomor urut satu itu dinilai adalah pasangan yang ideal untuk memajukan Jawa Timur, ke depan pasca kepemimpinan Gubernur Soekarwo, yang telah memimpin provinsi itu selama dua periode.

“Jawa Timur ini, menurut kajian harus segera tinggal landas yang bisa melebihi seluruh provinsi lainnya, bahkan bisa sekelas Eropa,” katanya.

Ditambahkan, untuk memilih pemimpin harus lebih dulu dengan teliti dilihat. Selain bisa meneruskan apa yang telah dikerjakan oleh pendahulunya, Gubernur Soekarwo yang telah meletakkan dasar-dasar konsep pembangunan, juga harus bisa bekerja mengejar ketertinggalan.

Konsep Pelabuhan Bulu Pandan

“Konsep Pengembangan Pelabuhan Samudera Bulu Pandan Madura”

Dikutip dari situs Ocean Week, untuk majukan dan mengangkat potensi di Pulau Madura yang masih belum tergali, Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) berencana membangun proyek Pelabuhan Tanjung Bulu Pandan.

Dibahas di Jakarta, guna mendukung terwujudnya konsep dan perencanaan pembangunan itu, di antaranya akan dibangun kawasan industri, perdagangan jasa, serta kawasan pemukiman.

“Kawasan khusus Madura akan dibangun pelabuhan Tanjung Bulu Pandan, dan akan dilengkapi dengan kawasan industri, kawasan perdagangan jasa, pemukiman,” ujar Plt Kepala BPWS, Herman Hidayat.

Termasuk juga akan dibangun jalan tol sepanjang 15,3 kilometer di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJSM). Itu untuk menghubungkan interkoneksi antar kawasan tersebut.

Beberapa proyek yang ditawarkan, antara lain, Pelabuhan Tanjung Bulu Pandan dengan nilai investasi Rp17,2 triliun. Kemudian, rencana pembangunan jalan tol dengan investasi Rp2,6 triliun. Serta kawasan industri di Labang senilai Rp17,5 triliun. Dan, Kawasan Industri di Klampis investasinya Rp6,6 triliun.

Herman menyebut, BPWS bertugas sesuai Perpres No.23 tahun 2009 tentang badan pengembangan wilayah Suramadu yang diberi tugas membangun dan mengelola kawasan kaki Jembatan Suramadu seluas 600 hektar dan kawasan khusus Madura seluas 600 hektar.

BPWS juga menyusun rencana mengembangkan wilayah KKJSM menjadi kawasan industri, perdagangan dan jasa, pariwisata dan permukiman. Pihaknya menyebut, rencana KKJSM telah sesuai dengan rencana tata ruang BPWS strategis Provinsi Jawa Timur.

Semoga saja, di Pilkada Serentak 2018, akan terwujud dan menjadi kenyataan lahirnya pemimpin yang disebut dan diharapkan membawa perubahan untuk Provinsi Jawa Timur lebih baik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here