Pilgub Jabar 2018, Ini Kekuatan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi

0
373

Nusantara.news, Jakarta – Berbeda dengan Pilgub 2013 di mana ada tiga artis yang ikut dalam pilgub, pada Pilgub Jabar 2018 mendatang, hanya ada satu artis yakni Deddy Mizwar. Ini sekaligus menjadikan  Deddy Mizwar satu-satunya figur yang memiliki unique selling point. Seberapa besar kekuatan artis dalam Pilgub Jabar? Bagaimana kekuatannya ketika berkombinasi dengan Deddy Mulyadi?

Kekuatan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi

Keempat pasang calon sudah memiliki basis suara masing-masing. Angkanya dapat dihitung berdasarkan perolehan suara partai pengusung pada pemilu legislatif 2014 lalu. Perolehan suara dalam hal ini dapat diacu pada perolehan suara seluruh anggota DPR RI partai pengusung dari Dapil Jabar.

Pasangan Deddy Mizwar – Deddy Mulyadi diusung Demokrat dan Golkar. Perolehan suara seluruh caleg terpilih Demokrat dari Dapil Jabar pada pemilu 2014 mencapai 1.931.014 (9,11%). Sedang perolehan suara seluruh caleh terpilih Partai Golkar mencapai 3.540.629 (16,71%). Total basis suara Deddy Mizwar – Deddy Mulyadi dengan demikian mencapai 5.471.64   (25,82%).

Pasangan Sudrajat – Achmad Syaikhu diusung koalisi Gerindra, PKS dan PAN. Perolehan suara seluruh caleh terpilih Gerindra dari Dapil Jabar untuk DPR RI mencapai 2.378.762 (11,22%), caleg terpilih PKS 1.903.561 (8,98%), dan PAN 1.390.407 (6,56%). Total basis suara Sudrajat – Ahcmad Syaikhu dengan demikian mencapai 5.772.730  (26,76%).

Pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum diusung Nasdem, PPP, PKB dan Hanura. Perolehan suara seluruh caleg terpilih Nasdem dari Dapil Jabar untuk DPR RI sebesar 1.035.729 (4,89%), caleg terpilih PPP 1.631.804 (7,70%), caleg terpilih PKB 1.572.724  (6,71%), caleg terpilih Hanura 1.160.572 (5,48%). Total basis suara Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dengan demikian mencapai 4.400.829 (24,78)

Pasangan TB Hasanuddin– Anton Charliyan diusung oleh PDIP. Perolehan suara seluruh caleg terpilih PDIP dari Dapil Jabar untuk DPR RI mencapai 4.159.404 (19,63%). Basis suara TB Hasanuddin– Anton Charliyan dengan demikian sebesar 4.159.404 (19,63%).

Jika partai pengusung menginstruksikan kepada seluruh caleg terpilih untuk kembali mengonsolidasi pemilihnya agar menyalurkan suaranya kepada pasangan cagub yang diusung, maka hasilnya pasangan Sudrajat – Ahcmad Syaikhu akan keluar sebagai pemenang karena memiliki basis suara paling tinggi mencapai 5.772.730  (26,76%).

Pasangan Deddy Mizwar – Deddy Mulyadi berada di urutan kedua dengan basis suara 5.471.64   (25,82%). Pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dan pasangan TB Hasanuddin– Anton Charliyan di urutan ketiga dan keempat dengan basis suara masing-masing 4.400.829 (24,78) dan 4.159.404 (19,63%).

Pertanyaannya adalah, apakah pilihan rakyat pada even pileg 2014 lalu dapat dianggap sama dengan even pilgub yang digelar 27 Juni 2018 mendatang?

Ada dua faktor yang menentukan dalam hal ini. Pertama, faktor mesin partai. Kedua, faktor figur yang diusung dalam pilgub. Faktor mesin partai dalam hal ini ditentukan apakah mesin partai optimal mengonsolidasi seluruh basis suara? Kedua, apakah figur yang diusung dalam Pilgub 2018 mendatang cukup memiliki daya tarik bagi basis suara tersebut?

Perolehan suara keempat pasang calon dapat dianalisis dari dua faktor ini, yakni faktor optimal tidaknya kerja mesin partai dan daya tarik figur cagub yang diusung.

Dari segi kerja mesin partai, hanya Partai Golkar dan PDIP yang diperkirakan berpotensi menggerakkan mesin partai secara optimal. Alasannya, karena hanya dua partai ini yang ketuanya terlibat secara langsung dalam Pilgub Jabar 2018.

DPD Partai Golkar Jawa Barat  diketuai oleh Dedi Mulyadi yang merupakan cawagub untuk Deddy Mizwar. Sedang TB Hasanuddin adalah Ketua  DPD PDIP Jabar, cagub yang berpasangan dengan Anton Charliyan.

Mengapa hanya dua itu saja yang dianggap bisa optimal menggerakkan mesin partai? karena, sebagai ketua partai di Jabar, keduanya lebih leluasa misalnya mengonsolidasi seluruh caleg terpilih untuk kembali turun menemui konstituen masing-masing. Selain itu, sebagai ketua partai, mereka juga bisa lebih leluasa menggerakkan organ partai untuk melakukan “serangan infantri” mengamankan basis suara yang sudah terbentuk melalui berbagai even pemilihan sebelumnya, mulai dari even pilkada, pileg DPRD tingkat kabupaten kota, pileg DPRD tingkat Jabar, pileg tingkat nasional, maupun even pemilihan presiden.

Lebih dari itu, sebagai ketua partai di Jabar, Dedi Mulyadi dan TB Hasanuddin lebih mengenal secara lebih dekat karakter pemilih dan kantong-kantong suara partai masing-masing sehingga bisa lebih kreatif melakukan pendekatan.

Kondisinya berbeda dengan cagub dan cawagub lain yang harus menyerahkan atau berkoordinasi dengan Ketua DPD Jabar atau ketua umum partai untuk menggerakkan mesin partai masing-masing.

Oleh sebab itu, Dedi Mulyadi dan TB Hasanuddin diperkirakan memiliki peluang lebih besar dibanding calon lain dalam mengonsolidasi seluruh basis suara setidaknya suara yang diperoleh oleh caleg partai masing-masing pada Pileg 2014 lalu.

Suara yang diperoleh oleh seluruh caleg terpilih Golkar untuk DPR RI dari dapil Jabar pada Pileg 2014 lalu mencapai 3.540.629 suara. Angka ini sekaligus dapat diasumsikan sebagai basis riel suara pasangan Deddy Mizwar – Ddi Mulyadi. Angkanya bisa turun atau meningkat, tetapi keberadaan Dedi Mulyadi sebagai Ketua DPD Golkar yang diasumsikan memudahkannya menggerakkan mesin partai, maka  basis suara sebesar 3.540.629 suara itu diperkirakan tidak akan jauh meleset.

Demikian juga pasangan TB Hasanuddin – Anton Charliyan, dengan keberadaan TB Hasanuddin sebagai Ketua  DPD PDIP Jabar yang diasumsikan memudahkannya menggerakkan mesin partai PDIP, maka total suara yang diperoleh oleh seluruh caleg terpilih PDIP untuk DPR RI pada Pileg 2014 lalu yakni sebesar 4.159.404, dapat diasumsikan sebagai basis riel suara  TB Hasanuddin – Anton Charliyan.

Sekarang faktor figur. Pertanyaannya adalah siapa figur paling diminati oleh pemilih Jabar?

Tentang hal ini, bisa dimulai dengan mengajukan pertanyaan, siapa di antara 8 figur (4 pasang) yang memiliki unique selling point, atau poin eksklusif atau spesial karena tidak dimiliki oleh figur lain?

Secara cepat jawabnya adalah Deddy Mizwar.  Unique selling point Deddy Mizwar dalam hal ini adalah keberadaannya sebagai artis (film). Muncul pertanyaan, apakah unique selling point ini berdampak terhadap pilihan rakyat Jabar?

Kemenangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf  pada Pilgub Jabar 2008 dan kemenangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar pada Pilgub  2013, menurut beberapa analis banyak dipengaruhi oleh faktor Dede Yusuf dan Deddy Mizwar. Ini berarti faktor ke-artis-an berdampak pada pilihan rakyat Jabar.

Dampak ke-artis-an Dede Yusuf pada Pilgub Jabar 2008 dan Deddy Mizwar pada Pilgub 2013 terkonfirmasi oleh perolehan suara Ahmad Heryawan-Dede Yusuf pada Pilgub 2008 dan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar pada Pilgub 2013.

Pada Pilgub 2008, pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf diusung koalisi PKS dan PAN. Basis suara kedua partai ini, berdasarkan suara yang diperoleh oleh seluruh caleg terpilih kedua partai untuk DPR RI, PKS (2.469.331 suara) dan PAN (1.119.012 suara), total 3.588.343 suara.

Sementara suara yang diperoleh pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf pada Pilgub 2008 itu mencapai 7.287.647. Itu berarti 3.699.304 suara melebihi basis suara kedua partai pengusung. Kelebihan 3.699.304 suara itu dianalisis sebagai kontribusi Dede Yusuf sebagai artis.

Analisis ini meyakinkan karena perolehan suara pasangan cagub lain berada di bawah basis suara partai pengusung. Perolehan suara  Agum-Nu’man 1.951.463 di bawah perolehan suara seluruh caleg terpilih koalisi PDIP, PPP dll, sedang perolehan suara Dani – Iwan 3.037.403 di bawah perolehan suara seluruh caleg koalisi Demokrat dan Golkar.

Pada Pilgub 2018 Ahmad Heryawan berpasangan dengan Deddy Mizwar. Sementara Dede Yusuf maju sendiri berpasangan Lex lesmana. PDIP juga memajukan artis sebagai cagub yakni Rieke Diah Pitaloka (Oneng) berpasangan dengan Teten Masduki.

Pilgub 2013 itu juga dimenangi oleh Ahmad Heryawan yang berpasangan dengan Deddy Mizwar. Tetapi faktor artis yang berdampak pada perolehan suara terlihat dari perolehan suara masing-masing pasangan calon yang semuanya berada di atas basis suara partai pengusung.

Ahmad Heryawan- Deddy Mizwar diusung koalisi PKS (1.903.561 suara), PPP (1.631.804 suara), Hanura (1.160.572) dengan total basis suara berdasarkan suara yang diperoleh oleh seluruh caleg terpilih untuk DPR RI ketiga partai sebesar 4.695.937 suara.

Sementara perolehan suara Ahmad Heryawan- Deddy Mizwar pada Pilgub mencapai 6.515.313 suara. Itu berarti 1.819.376 suara melampaui basis suara partai pengusung.

Perolehan suara Rieke-Teten 1.555.593  melampaui basis suara PDIP, dan perolehan suara Dede Yusuf-Lex lesmana 1.756.101 melampaui suara partai pengusung yakni Demokrat dan PAN.

Berapa suara kekuatan figur Deddy Mizwar?

Mengacu pada Pilgub Jabar 2013, kekuatan figur Deddy Mizwar adalah sebesar suara yang diperoleh pada pilgub jabar 2013 dikurangi basis suara partai pengusung, yakni sebesar 1.903.561 suara/ Suara ini lebih besar dibanding kelebihan suara Rieke Diah Pitaloka dan Dede Yusuf pada pilgub yang sama yang mampu mendongkrak perolehan suara di atas basis suara partai masing-masing sebesar 1.555.593  (Rieke Diah Pitaloka) dan 1.819.376 (Dede Yusuf).

Pada Pilgub 2018 mendatang, dari semua calon,  hanya Deddy Mizwar yang berstatus sebagai artis. Posisinya sama dengan Pilgub 2008 di mana dari semua cagub, hanya Dede Yusuf yang berstatus sebagai artis.

Perolehan suara Agmad Heryawan-Dede Yusuf ketika itu terdongkrak sebesar 3.699.304 suara. Angka 3.699.304 ini hampir sama dengan penjumlahan kelebihan suara tiga pasang calon yang masing-masing diimbuhi artis pada Pilgub 2013.

Dengan demikian dapat diasumsikan, kekuatan artis pada dua kali Pilgub Jabar  mencapai sekitar 3.699.304 suara.

Oleh sebab itu, pasangan  Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi di atas kertas dapat diasumsikan memiliki kekuatan suara cukup besar pada Pilgub Jabar 2018, karena dua faktor, yakni faktor Deddy Mizwar dengan kekuatan 3.699.304 suara, dan faktor Dedi Mulyadi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jabar yang memudahkannya menggerakkan mesin Partai Golkar dan mengosolidasi 3.540.629 basis suara Partai Golkar pada Pileg 2014.

Penjumlahan suara keduanya melebihi perolehan suara Ahmad Heryawan – Dede Yusuf pada Pilgub 2008 yang mencapai 7.287.647 suara. Ini belum termasuk kontribusi suara dari Partai Demokrat yang juga pengusung Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Sudah barang tentu, masih ada faktor lain yang menentukan perolehan suara dalam pilgub, yakni program yang ditawarkan oleh masing-masing calon. Program berpotensi menggerakkan sekitar 10 juta golput di Jabar. Angka ini sudah barang tentu bisa membuyarkan asumsi kekuatan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi apabila tidak mampu merumuskan program sesuai dengan aspirasi dan kepentingan rakyat Jabar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here