Pilgub Jabar, 4 Sumber Besar Suara Sudrajat-Syaikhu

0
463

Nusantara.news, Jakarta –  PKS adalah partai pengusung Ahmad Heryawan yang berhasil memenangi Pilgub Jabar dua kali berturut-turut, yakni 2008 dan 2013. Pada pilgub yang digelar 27 Juni 2018 mendatang PKS kembali maju. Kali ini PKS hanya menyodorkan calon wakil gubernur yang dipercayakan kepada Wakil Walikota Bekasi Achmad Syaikhu. Sedang calon gubernur yang ditampilkan adalah mantan Kapuspen TNI Mayjen TNI (Purn) Sudrajat yang disodorkan Partai Gerindra. Akankah PKS yang kali ini berkoalisi dengan Gerindra dan PAN berhasil mencetak hattrick? Seberaoa besar potensi kekuatan pasangan Sudrajat – Syaikhu?

Sudrajat-Syaikhu

Ada hal menarik dari langkah PKS menghadapi Pilgub 2018. Yakni, mengapa tidak menampilkan kader PKS sebagai calon gubernur? Mengapa Achmad Syaikhu hanya diposisikan sebagai calon wakil gubernur?

Sebelum menetapkan pasangan Sudrajat – Syaikhu, PKS sempat menancapkan tekad akan mencetak hattrick dalam Plgub Jabar 2018. Nama yang sempat muncul ke permukaan ketika itu adalah Deddy Mizwar dan Netty Prasetiyani. Netty yang merupakan istri Ahmad Heryawan merupakan seorang tokoh perempuan yang cukup punya nama di Jabar. Ia dijuluki Bunda Literasi Jawa Barat. Netty juga pernah menjemput langsung sepuluh orang korban perdagangan manusia  asal Jawa Barat di Batam, dan karena itu digelari local hero dalam memerangi praktik perdangan manusia oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, berdasarkan voting oleh halaman penggemar facebook kedutaan AS.

Ketika itu bahkan sempat muncul semacam perdebatan tentang siapa yang akan menjadi cagub dan siapa cawagub antara Deddy Mizwar dan Netty. Deddy Mizwar memang petahana wakil gubernur, tetapi bukan kader PKS, sehingga nama Netty dinilai lebih relevan jadi cagub.

Sempat juga muncul pasangan Deddy Mizwar – Syaikhu. Tetapi jelang penutupan pendaftaran di KPU, muncul nama Sudrajat-Syaikhu yang kemudian didaftarkan ke KPU.

Pemunculan nama Sudrajat-Syaikhu ini menarik, karena tidak lebih mengakar di Jawa Barat. Berbeda dengan nama Deddy Mizwar dan Netty, kedua Sudrajat-Syaikhu setidaknya tidak memiliki jejak kemenangan di Pilgub Jabar. Oleh sebab itu muncul kesan, PKS tidak serius menggarap Pilgub Jabar. Tapi apakah betul demikian?

Rasanya tidak. Sebagai pemenang Pilgub Jabar dua kali berturut-turut, PKS tentu ingin lebih menancapkan pengaruhnya di Jabar. Oleh sebab itu, penetapan Sudrajat-Syaikhu diduga lebih sebagai taktik.

Selain itu, PKS tampaknya juga percaya diri bahwa yang menentukan kemenangan di sebuah pilgub bukan sosok figur melainkan mesin partai. Hal ini terbukti dengan kemenangan Ahmad Heryawan – Dedde Yusuf pada Pilgub 2008.

Nama Ahmad Heryawan pada 2008 itu, ibarat bumi dan langit bila dibandingkan dengan nama besar dua pasang pesaingnya yakni Agum Gumelar – Nu’man Abdul Hakim, dan Danny Setiawan – Iwan Sulandjana.

Betapa tidak, Agum Gumelar adalah tokoh nasional yang beberapa kali jadi menteri. Sementara Nu’man Abdul Hakim adalah petahana wakil gubernur. Sedang Danny Setyawan adalah petahana gubernur dan Iwan Sulandjana adalah mantan Pangdam Siliwangi.

Dari segi partai pengusung, pasangan Ahmad Heryawan – Dede Yusuf yang diusung dua partai papan tengah yakni PKS dan PAN, kalah jauh dibanding koalisi partai pengusung Agum- Nu’man yakni PDIP, PPP PKB, PKPB, PBB, PBR dan PDS, dan Danny-Iwan yang diusung dua partai besar yakni Golkar dan Demokrat.

Tapi hasil akhir, Ahmad Heryawan yang karir politik tertingginya ketika itu baru sebatas anggota DPRD DKI Jakarta dan Dede Yusuf pendatang baru dalam dunia politik, berhasil memenangi Pilgub Jabar.

Tampaknya ini yang menjadi modal PKS sehingga percaya diri dengan pasangan calon saat ini yakni Sudrajat-Syaikhu. Seberapa besar potensi kekuatan pasangan ini?

Suara Prabowo-Hatta dan 212

Dalam beberapa hal, formasi pasangan calon dan koalisi PKS pada Plgub 2018 ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Pada Pilgub 2008, PKS berkoalisi dengan PAN. Pada Pilgub 2013 tidak ada unsur PAN, tetapi ada unsur PPP. Pada Pilgub  2008 dan 2013 ada unsur artis yang di Jawa Barat dinilai memiliki “nilai  jual” tinggi.  Pada Pilgub 2018, koalisi PKS tidak ada lagi unsur PPP tetapi kembali ada unsur PAN. Yang tidak ada adalah unsur artis.

Namun demikian, pasangan Sudrajat-Syaikhu tetap memiliki sumber suara besar. Setidaknya ada empat  sumber suara yang bisa diandalkan koalisi Gerindra, PKS dan PAN untuk memenangkan Sudrajat-Syaikhu.

Pertama, suara partai pengusung. Secara keseluruhan ada tiga partai yang berkoalisi mengusung Sudrajat-Syaikhu, yakni Gerindra, PKS dan PAN. Basis suara ketika partai ini, dihitung berdasarkan perolehan suara pada pemilu legislatif 2014 untuk DPR RI dari Dapil Jabar, adalah sebagai berikut, Gerindra  (2.378.762 suara), PKS (1.903.561 suara) dan PAN (1.390.407 suara). Total basis suara sebesar 5.672.730 suara.

Mengacu pada kemenangan Ahmad Heryawan dalam dua kali Pilgub Jabar, maka basis suara ini belum cukup untuk memenangi Pilgub 2018. Sebab, pada Pilgub 2008, Ahmad Heryawan – Dede Yusuf menang dengan perolehan 7.287.647 suara, sedang pada Pilgub 2013 Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar menang dengan perolehan  6.515.313 suara.

Untuk dapat memenangkan Pilgub Jabar 2018, maka pasangan Sudrajat – Syakhu harus mampu memperoleh tambahan sekitar 1,5 juta suara agar setara dengan perolehan suara pada Pilgub 2008.

Dari mana tambahan suara itu akan diperoleh? Pada titik ini hebatnya koalisi PKS, Gerindra dan PAN. Koalisi ini setidaknya memiliki tiga sumber suara besar lagi. Pertama, suara golput  di Jabar yang mencapai sekitar 10 juga dari total DPT. Mesin partai PKS yang terkenal gesit potensial mendekati kaum golput.

Kedua, sumber suara Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 di Dapil Jabar. Perolehan suara Prabowo-Hatta dari Dapil Jabar  pada Pilfres 2014 luar biasa besar, jauh di atas perolehan suara Jokowi-Hatta. Perolehan suara Prabowo – Hatta pada Pilpres 2014 di Dapil Jabar mencapai 14.167.381 suara (59,78%). Sementara perolehan suara Jokowi-JK sebesar 9.530.315 suara (40,22 %). Selisihnya mencapai 4.937.066 suara.

Prabowo-Hatta menang telak dari Jokowi-JK di sejumlah daerah di Jabar meliputi  Kabupaten Bogor, Prabowo-Hatta memperoleh 1.636.134 sedang Jokowi-JK hanya 655.888, selisih hampir satu juta  suara.

Dari Kabupaten Sukabumi, Prabowo-Hatta memperoleh 829.802 suara, sedang Jokowi-JK memperoleh 392.927 suara.

Di Kabupaten Cianjur Prabowo-Hatta 643.722 suara, Jokowi-JK mepperoleh 442.822. Di Kabupaten Bandung Prabowo-Hatta memperoleh 1.171.109 suara, Jokowi-JK memperoleh 655.044 suara.

Di Kabupaten Garut Prabowo-Hatta memperoleh 866.613 suara, Jokowi-JK memperoleh 369.199 suara. Di Kabupaten Tasikmalaya Prabowo-Hatta memperoleh 647.755 suara, Jokowi-JK 268.568 suara.

Pada Pilpres lalu, Prabowo-Hatta diusung koalisi besar meliputi Gerindra, Golkar, PPP, PKS, PAN, PBR. Sedang Jokowi-JK diusung koalisi PDIP, PKB, Nasdem, Hanura dan PKPI.

Dalam Pilgub Jabar 2018, unsur Golkar, PPP berada dalam koalisi berbeda. Sehingga tidak tertutup kemungkinan suara di Tasikmalaya, Garut, Kabupaten Bogor yang dikenal sebagai wilayah “kekuasaan” PPP, kemungkinan akan lari ke pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yang diusung koalisi PPP, PKB, Nasdem dan Hanura.

Demikian juga suara Kota Bandung di mana pada Pilres 2014 Prabowo-Hatta meraih 778.703 suara, berpotensi lari dan memilih Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum.

Sedang suara rakyat Cianjur yang dikenal sebagai salah satu basis Golkar, di mana Prabowo-Hatta memperoleh 643.722 suara kemungkinan akan lari ke kubu Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar.

Namun demikian masih ada satu faktor lagi yang menjadi sumber suara sekaligus menjadi kekuatan pasangan Sudrajat-Syaikhu. Yakni suara 212 yang berhasil memenangi pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno pada Pilgub DKI Jakarta April 2017.

Yang juga tidak bisa diabaikan adalah keberadaan Ahmad Heryawan yang pada Pilpres 2014 yang bertindak sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta di Jawa Barat yang tentunya dapat dikatakan sebagai arsitek di balik kemenangannya dalam dua kali pilgub maupun dalam memenangkan Prabowo-Hatta dengan selisih hampir 5 juta suara dengan Jokowi-JK di Dapil Jabar.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here