Pilgub Jabar, Goa Hantu Bagi PDIP

0
332

Nusantara.news, Jakarta – Goa hantu. Even Pilgub Jabar tampaknya telah berkembang menjadi semacam goa hantu bagi PDIP. Betapa tidak, dalam setiap pemilu legislatif, PDIP selalu hebat, perolehan suaranya top, paling rendah peringkat tiga, baik di DPRD Jabar maupun di DPR RI. Tetapi dalam dua kali pemilihan gubernur (pilgub), calon yang diusung PDIP dua kalinya mengalami kekalahan. Usung sosok sangat berkelas seperti Agum Gumelar kalah, usung sosok selebiriti beken sekelas Rieke Diyah Pitaloka, juga kalah.  Apa yang salah dengan cagub usungan PDIP di Jabar? Kreasi apa yang dilakukan PDIP mengantisipasi kekalahan ketiga pada Pilgub 2018 mendatang?

Kalah Dalam Dua Kali Pilgub

Sejak reformasi, dua kali sudah pigub digelar di Jabar. Dalam dua kali pilgub itu, PDIP kalah untuk kedua kalinya. Calon yang diusung dalam dua kali pilgub itu bukan sebarang tokoh. Demikian juga partai koalisinya. Pada Pilgub 2008 misalnya, PDIP mengusung Agum Gumelar berpasangan dengan  Nu’man Abdul Hakim dari PPP.

Siapa masyarakat jabar  yang tidak kenal dengan dua sosok ini. Agum Gumelar putra Jabar kelahiran Tasikmalaya adalah seorang tokoh nasional. Agum tidak hanya dikenal sebagai senior di TNI, tetapi juga  pernah memimpin Kementerian Perhubungan  dan Kementerian Koordinator Politik, Sosial dan Keamananan  RI.

Nu’man Abdul Hakim  juga bukan sembarang tokoh di Jabar. Nu’man ketika itu petahana wakil Gubernur Jabar. Sebelum jadi wakil gubernur, Nu’man yang kelahiran Bandung, adalah anggota DPR RI dari Dapil Jabar. Partai yang mengusung Agum-Nu’man adalah PDIP, PPP, PKB, PKPB, PBR dan PDS.

Namun, pasangan top dan berkelas ini kalah dengan pasangan tokoh yang baru muncul yakni Ahmad Heryawan dan Dede Jusuf yang diusung PKS dan PAN.

Kekalahan ini di luar dugaan. Sebelum pilgub ada yang menggambarkan kekuatan antara Agum-Nu’man dibansing Ahmad Heryawan – Dede Jusuf ibarat Goliath  dan David. Kekuatan Agum-Nu’man digambarkan jauh di atas Ahmad Heryawan- Dede Jusuf.

Penggambaran ini dinilai pas, karena Agum-Nu’man  adalah perpaduan tokoh nasional dengan tokoh Jawa Barat yuang diusung koalisi partai besar sekelas PDIP dan PPP. Sedang  pasangan Ahmad Heryawan  tidak lebih dari seorang politisi dari Sukabumi dan karirnya baru sampai anggota DPRD DKI Jakarta. Sementara Dede Jusuf adalah politisi kemarin sore yang lebih dikenal sebagai seorang aktor film. Partai yang mengusung keduanya juga partai sekelas PKS dan PAN yang terbilang kecil dibanding PDIP atau Golkar.

Tetapi apa yang terjadi, Agum-Nu’man menelan kelakahan. Pasangan  Agum-Nu’man memperoleh 6.217.557 suara sedang pasangan Ahmad Heryawan – Dede Jusuf memperoleh 7.287.647 suara. Agum-Nu’man hanya mampu mengalahkan pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana, diusung Partai Golkar dan Partai Demokrat, yang memperoleh 4.490.901 suara.

Sejumlah analisis mengatakan kemenangan  Ahmad Heryawan – Dede Jusuf atau kekalahan Agum-Nu’man  dan juga kekalahan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana adalah karena faktor keaktoran Dede Jusuf atau karena keberadaan Dede Jusuf sebagai seorang selebriti.

Pilgub 2013 datang. Analisis yang mengatakan kemenangan Ahmad Heryawan – Dede Jusuf, adalah karena faktor keaktoran Dede Jusuf, diakomodasi oleh PDIP. Akomodasi itu diwujudkan dengan memunculkan Rieke Diyah Pitaloka (Oneng) sebagai calon gubernur. Rieke Diyah Pitaloka sangat terkenal dalam serial Bajaj Bajuri.  Rieke Diyah Pitaloka tidak hanya sekadar artis tetapi juga intelektual yang belajar filsafat.

Wakilnya juga tidak kalah mentereng, yakni Teten Masduki, dikenal sebagai seorang aktivis anti-korupsi yang memimpin Indonesia Corruption  Watch (ICW). Keduanya merupakan putra-putri kelahiran Garut Jawa Barat.

Pasangan yang diusung PDIP ini kembali berhadapan dengan Ahmad Heryawan yang kali ini berpasangan Deddy Mizwar, aktor film Naga Bonar  yang terkenal.

Pasangan Rieke Diyah Pitaloka – Teten Masduki sesungguhnya memiliki ilai lebih. Nilai lebih itu muncul dari keberadaan Teten Masduki sebagai aktivis anti-korupsi. Keartisan Rieke Diya Pitaloka  berhadapan dengan Deddy Mizwar, sementara ketokohan Ahmad Heryawan dapat diimbangi oleh keterkenalan Teten Masduki. Nilai lebih pasangan ini adalah keberadaan Teten Masduki sebagai aktivis anti-korupsi yang tidak dimiliki oleh pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.  Maraknya kasus-kasus korupsi membuat kehadiran Teten menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, perhitungan di atas kertas berkata lain.  Pasangan Rieke Diyah Pitaloka – Teten Masduki menelan kekalahan. Pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar memperoleh 6.515.313 suara, sedang pasangan  Rieke Diyah Pitaloka – Teten Masduki memperoleh 5.714.997 suara. Pasangan ini berada di urutan  kedua. Di urutan ketiga adalah pasangan Dede Yususf – Lex Laksamana yang diusung Partai Demokrat- PAN, memperoleh 5.077.522 Suara. Di urutan keempat ditempati pasangan Irianto MS. Syafiudin – Tatang Farhanul Hakim, duiusung  Partai Golkar memperoleh 2.448.358 suara. Dan di urutan kelima calon independen yakni pasangan Dikdik Maulana dan Cecep Nana Suryana, memperoleh 359.233 suara.

Kekalahan dalam dua kali pilgub ini juga terjadi pada even pemilihan presiden. Jokowi – JK yang diusung PDIP, Nasdem, PKB, Hanura, berhadapan dengan pasangan Prabowo-Hatta yang diusung koalisi Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP. Dari perolehan suara, Jokowi-JK kalah telak. Jokowi-JK memperoleh 9.530.315 suara (40,22 %), sedang Prabowo-Hatta memperoleh 14.167.381 suara (59,78%). Selisihnya mencapai 4.937.066 suara.

Jagoan Pemilu Legislatif

Kekalahan demi kekalahan di even pilgub dan pilres di dapil jabar, berbanding terbalik dengan pemilu legislatif. Peringkat PDIP dalam pemilihan legislatif baiuk untuk tingkat DPRD Jabar maupun untuk DPR RI dari Dapil Jabar selalu berada di antara peringkat satu, dua dan kalaupun melorot paling jauh di peringkat tiga.

Pada pemilu legislatif tahun 1999 untuk DPR RI, PDIP berhasil meraup suara terbesar di Dapil Jabar dengan mengusasai 32,6 persen dari 23 juta suara sah. Pada pemilu yang sama, Partai Golkar duduk di peringkat kedua dengan mengantungi 23,4 persen dari total suara.

Pada Pileg 2004, PDIP disalip oleh Partai Demokrat yang meraup 28 kursi untuk DPR RI, PDIP melorot ke peringkat kedua dengan 16 kursi DPR RI.

Pada pileg 2009, PDIP kembali memuncaki klasemen perolehan kursi untuk DPR RI dari Dapil Jabar. PDIP berhasil meraup 18 kursi untuk DPR RI, diikuti Partai Golkar dengan 16 kursi, PKS 11 Kursi, Gerindra 10 kursi, sedang Demokrat melorot menjadi 9 kursi.

Hal sama terjadi pada pemilu legislatif tingkat DPRD Jabar. Pada Pemilu 2009, PDIP berhasil menduduki peringkat kedua. Demokrat memperoleh 28 kursi, PDIP meraih 17 kursi, Golkar 16 kursi, PKS 14 kursi, PPP 8, Partai Gerindra 8 kursi.

Pada Pileg DPRD Jabar tahun 2014, PDIP kembali naik ke peringkat pertama memperoleh 20 kursi, diikuti Golkar 17 kursi, PKS 12 kursi, Demokrat 12 kursi, dan gerindra 11 kursi.

Kehebatan PDIP dalam setiap pemilu legislatif ini berbanding lurus dengan keberadaan PDIP yang ssungguhnya cukup mengakar di Jawa Barat, karena Bung karno begitu banyak berkiprah di Jawa Barat, baik terkait istilah Marhaen, kuliah di ITB, menjadi pejuang di Jabar, dan setelah menjadi presiden banyak melakukan aktivitas di Jabar.

Tetapi mengapa tidak berbanding lurus dengan pemilihan gubernur atau pemilihan presiden di dapil Jabar? Mengapa calon yang diusung PDIP  untuk Pilgub Jabar, atau capres PDIP di dapil Jabar selalu kalah?

Pilgub di sejumlah daerah dalam batas-batas tertentu memiliki ciri tersendiri. Calon gubernur di Jatim cederung dipilih figur yang dekat dengan ulama. Itu karena Jatim adalah propinsi para santri yang dipimpin para ulama. Sementara untuk calon Gubernur Jateng cenderung dipilih sosok yang pejabat, karena di Jateng ada keraton Jogja dan Solo, yang punya tradisi kepejabatan.

Sedang di Jawa Barat punya tradisi lain lagi, di mana calon gubernurnya cenderung dipilih dari sosok yang memiliki keterkaitan dengan dunia selebriti. Ahmad Heryawan dua kali memilih selebriti sebagai wakil, yakni Dede Jusuf dan Deddy Mizwar.

PDIP juga sudah mengakomodir selebirit ini pada Pilgub 2013, yakni mencalonkan Rieke Diyah Pitaloka, tetapi berakhir dengan kekalahan.

Karena itu, kekalahan Rieke Diyah Pitaloka, tidak tertutup kemungkinan telah menjadikan even  Pilgub Jabar dan pilpres di dapil Jabar seperti goa hantu bagi PDIP, karena sosok sangat berkelas seperti Agum Gumelar kalah, sosok selebriti seperti Rieke Diyah Pitaloka untuk mengikuti tren yang ada, juga kalah.

Ini tantangan PDIP.  Kemenangan di even pileg tampaknya lebih karena yang berperan adalah individu caleg. Sementara yang berperan pada even pilgub dan pilpres adalah partai, karena semua tim sukses berada di bawah naungan partai. Kalau masalahnya ada di partai, pertanyaannya adalah, ada apa dengan partai PDIP di Jabar? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here