Analisis Berita

Pilgub Jakarta Putaran 1 dalam Framing Media Internasional

0
282

Nusantara.news, Jakarta – Pilgub DKI Jakarta tergolong istimewa. Peristiwa ini, terutama pada momen pemungutan suara 15 Februari 2017 yang lalu, tidak saja menyedot perhatian pers nasional dan daerah, tetapi juga media luar negeri. Peristiwa politik yang sebenarnya bersifat lokal ini memiliki beberapa dimensi tertentu yang membuatnya menjadi pusat perhatian banyak kalangan baik dalam dan luar negeri.

Selain tentu saja pilgub ini berlangsung di wilayah jantung politik Indonesia, daya tarik peristiwa ini terutama terkait dengan sosok sang gubernur petahana yang menyandang status minoritas ganda: beretnis Cina dan beragama Kristen. Lebih dari itu, apa yang menjadikan peristiwa pilgub ini memiliki magnitude yang begitu kuat di mata media adalah konteks sosio-politik yang jauh lebih luas dan kompleks di luar Pilgub itu sendiri.

Konteks itu adalah dugaan penistaan terhadap agama Islam serta dugaan penyalahgunaan wewenang terkait proyek reklamasi Teluk Jakarta yang dilakukan gubernur petahana di satu sisi serta persoalan pluralisme di sisi lain.

Dengan demikian, pilgub DKI Jakarta hanyalah sebuah titik-masuk yang mengantarkan jalan untuk menelusuri lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Isu seputar posisi publik petahana pun tampil sebagai angle utama media luar negeri yang menyoroti Pilkada DKI Jakarta sebagai sebuah peristiwa politik.

Liputan dari Empat Benua

Kecuali Afrika, media-media AS, Asia dan Eropa terlihat menaruh perhatian yang cukup tinggi terhadap pilgub DKI Jakarta. Dari AS setidaknya terdapat 5 media terkemuka yang meliput peristiwa ini: CNN, Time, New York Time, CNBC dan Voice of America (VOA). Untuk kawasan Eropa terlihat lebih banyak media terkemuka asal Inggris, seperti The Guardian, The Telegraph, dan BBC.

Beberapa media terkemuka Australia yang terlihat cukup intens menyoroti topik ini antara lain adalah Sidney Morning Herald, ABC dan The Australian. Di Asia nama-nama besar seperti Al Jazeera, NHK, Strait Times juga tidak ingin melewatkan peristiwa ini begitu saja dalam reportase mereka.

Tensi Politik

Dari berbagai berita yang muncul, suasana ketegangan politik hampir mendominasi sebagian besar konten pemberitaan media luar negeri terhadap peristiwa seputar pemungutan suara dalam Pilkada DKI Jakarta. Dalam pandangan media luar negeri, pelaksanaan pilgub DKI Jakarta putaran 1 berada dalam suasana yang relatif jauh dari relaksasi politik.

Gambaran tentang suasana politik Jakarta itu antara lain muncul dalam reportase CNN yang mengambil judul “Why Jakarta election could change the face of Indonesia?” Sejalan dengan judul ini konten berita CNN lebih memposisikan Pilkada Jakarta sebagai arena pertaruhan politik yang berpeluang mengubah wajah Jakarta yang selama ini dikenal memiliki warga yang relatif moderat.

Dengan framing semacam itu CNN sebenarnya ingin menggambarkan bahwa situasi yang diwarnai oleh kuatnya sentimen politik identitas sangat potensial mengubah wajah kota ini menjadi tak lagi moderat dan toleran seperti sebelumnya. Bahkan, CNN juga beranggapan bahwa tidak menutup kemungkinan jika perubahan di Jakarta akan berimplikasi secara nasional.

Hampir sama dengan posisi CNN, The Australian mengambil angle Pilkada Jakarta yang diletakkan dalam konteks tantangan demokrasi di Indonesia. Menurunkan reportase dengan tajuk “Jakarta Governors Blasphemy Trial Tests Indonesian Democracy” The Australian mencatat kemunculan “Islamic hardliners” dalam pemilihan gubernur di Jakarta sebagai gejala menguatnya tendensi politik rasial dan sentimen agama.

Posisi yang sama juga ditunjukan oleh BBC. Media ini memilih tajuk “Jakarta Elections: Governor Blasphemy Trial Overshadows Vote”. Pilihan judul BBC sudah dengan sendirinya mencerminkan bahwa media ini meyakini proses pengadilan atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok “membayangi” pemungutan suara pada 15 Februari 2017. Framing konten liputan BBC ini mengindikasikan kekhawatiran kuatnya pengaruh politik identitas bagi pelaksanaan Pilkada Jakarta putaran 1.

Namun, baik konten CNN, The Australian maupun BBC agaknya kurang mempertimbangkan beberapa elemen tertentu dari kaum Muslin moderat yang juga mengambil posisi kritis terhadap Ahok, sekalipun apa yang dinyatakan ketiga media ini tentang menguatnya sentimen identitas dalam bentuk hard line Muslim–sebagai bagian dari arus massa anti-Ahok—tidak seluruhnya keliru.

Sementara itu media ternama asal Inggris The Telegraph memilih judul “Christian and Muslim Candidates Go Head to Head in Tense Jakarta Governor Election”. Dari judul yang ditampilkan terlihat bahwa The Telegraph berupaya menonjolkan faktor agama kandidat ketimbang memilih faktor atributif lain sebagai angle penulisan. Lebih dari itu, penulisan berita The Telegraph yang dibuka dengan kalimat “Bitter election contest, seen as a test of religious tolerance in Indonesia” telah menambah kesan dramatis terhadap peristiwa itu.

Tak dapat dibantah bahwa terdapat sedikit unsur sensasi yang ingin ditampilkan The Telegraph dalam pemilihan judul ini. Memilih kosa kata “Muslim” dan “Kristen” yang dikonstruksi dalam situasi yang saling berhadapan sebagai bagian dari judul pemberitaan terkait dengan kontestasi politik Pilkada DKI justru sangat dihindari oleh media mainstream di Indonesia—bahkan dari media yang memiliki kecenderungan anti-Ahok sekalipun.

Posisi yang agak berbeda ditampilkan oleh VOA. Media ini tidak mengambil angle Pilkada Jakarta dalam kerangka persoalan pluralisme sebagaimana yang disajikan CNN, The Australian dan BBC, melainkan lebih memproyeksi kemungkinan naiknya tensi sosial-politik pasca pemungutan suara dalam Pilkada DKI Jakarta.

Yakin terhadap kemungkinan ke arah itu VOA menurunkan reportase tentang hari H pemungutan suara di bawah tajuk “Run-off Election for Jakarta Governor May Heighten Tensions.” Namun demikian, sekalipun frasa “may heighten tension” dipilih sebagai bagian dari rangkaian judul reportasenya, VOA tidak menggambarkan jenis atau bentuk ketegangan yang akan terjadi serta apa implikasinya terhadap ranah sosial-politik.

Pluralisme dalam Konteks Keadilan

Nuansa ketegangan sosial berbasis identitas sebagai konteks politik Pilkada Jakarta merupakan faktor utama yang menjadi daya tarik bagi perhatian media internasional. Terdapat semacam nada kekhawatiran yang diperlihatkan media internasional dalam meliput peristiwa Pilkada Jakarta, terutama terkait dengan apa yang oleh kebanyakan media internasional dinyatakan sebagai kebangkitan politik berbasis identitas yang mengancam demokrasi dan pluralisme.

Di sisi lain, posisi Jakarta yang begitu penting sebagai barometer politik dan dianggap memiliki pengaruh kuat secara nasional agaknya juga merupakan aspek yang ikut menjadi pertimbangan media internasional dalam meliput Pilkada Jakarta. Dengan demikian, di mata pers internasional kontestasi Pilkada Jakarta lebih dipandang sebagai arena pertaruhan bagi masa depan demokrasi di Indonesia.

Namun, isu seputar problem pluralisme dalam konteks Pilkada Jakarta sebagai angle utama pemberitaan media internasional agaknya lebih didasarkan atas perspektif tunggal. Perbedaan struktur demografi dalam piramida sosial berdasarkan etnis di Indonesia yang cenderung berhimpitan dengan piramida penguasaan akses sumber daya strategis kurang memperoleh porsi dalam liputan. Padahal, dari siniliah sebenarnya bibit-bibit menguatnya politik identitas muncul ke permukaan.

Namun demikian, kritik terhadap munculnya cara-cara reaktif dalam bentuk politik identitas sebagai upaya mengatasi kesenjangan sosial ini tentu saja tidak sepenuhnya keliru. Persoalannya, negara sebagai pemegang otoritas politik tertinggi tidak memiliki skema konsepsional untuk menyelesaikan persoalan ini.

Hal ini mengandaikan bahwa problem kesenjangan sosial-ekonomi yang relatif berbanding lurus dengan kesenjangan antar ras jelas tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara reaktif, melainkan dengan cara yang lebih konsepsional. Inilah pelajaran penting yang dapat dipetik dari momen Pilkada DKI Jakarta. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here