Pilgub Jateng 2018, Pilih Ganjar atau Pak Dirman?

0
61

Nusantara.news, Jateng – Warga Jawa Tengah (Jateng) segera menentukan nasibnya lima tahun ke depan pada Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah 2018 pada Rabu, 27 Juni 2018. Dua pasangan calon berlaga dalam perhelatan ini. Pasangan pertama adalah Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen, yang merupakan calon petahana. Penantangnya adalah pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah.

Harus diakui, Jawa Tengah adalah salah satu provinsi paling strategis bagi semua partai politik, mengingat provinsi ini memiliki jumlah pemilih nomor 3 terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 lalu, PDIP memang menjadi partai yang menguasasi seluruh pulau Jawa.

Namun, jika melihat peta kepemimpinan di tingkat daerah, hanya Jawa Tengah  yang menjadi satu-satunya provinsi yang saat ini dikuasai oleh PDIP, sementara Jabar dipegang PKS, dan Jatim dikuasai Demokrat. Apalagi, pasca Pilkada Serentak 2017, PDIP kembali menelan kekalahan dalam perebutan kekuasaan di DKI Jakarta dan Banten. Kekalahan di DKI Jakarta merupakan salah satu kekalahan terbesar bagi PDIP, mengingat ibukota merupakan etalase perpolitikan di tingkat nasional.

Sebab itu, belajar dari keadaan pahit, PDIP tak akan begitu saja melepaskan Jateng. Pencalonan petahana yang sejak awal paling diunggulkan, tertinggi dalam survei elektabilitas, serta ultimatum Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahwa kemenangan Jawa Tengah adalah harga mati, membuktikan kesungguhan partai trah Soekarno ini untuk mempertahankan dominasinya di Jateng. Kehilangan suara di Jateng, selain akan mencoreg marwah PDIP, juga bisa berdampak pada kekalahan di Pilpres 2019 mendatang.

Peta Kekuatan Calon

Ganjar-Yasin diusung koalisi lima partai, yakni PDI-P (27 kursi), Golkar (10 kursi), Demokrat (9 kursi), PPP (8 kursi), dan Nasdem (4 kursi). Total 58 kursi DPRD. Sementara itu, pasangan Sudirman-Ida Fauziyah didukung koalisi empat partai, yakni Gerindra (11 kursi DPRD), PKS (10 kursi DPRD), PAN (8 kursi DPRD), dan PKB (13 kursi DPRD). Total 42 kursi DPRD.

Ganjar adalah petahana Gubernur Jateng. Sebelum menjabat Gubernur, ia menjadi anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan periode 2004-2009 dan periode 2009-2014. Ganjar berhenti menjadi anggota DPR setelah dilantik sebagai Gubernur Jateng pada Agustus 2013.

Sedangkan Sudirman Said adalah mantan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) di Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dua tahun menjabat menteri, ia terkena reshuflle pada Agustus 2016. Sudirman sempat menjadi Ketua Tim Sinkronisasi pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang memenangkan Pilkada DKI.

Kedua wakil dari masing-masing cagub, merupakan tokoh NU. Gus Yasin, cawagbnya Ganjar, adalah putra kiai sepuh NU yang kharismatik, yaitu KH Maimun Zubair. Dia adalah nahdlyin PPP. Sementara Ida Fauziyah, cawagubnya Sudirman, adalah anggota DPR RI Fraksi PKB dan mantan Ketua Umum Fatayat NU. Dia adalah nahdliyin PKB. Kehadiran keduanya akan memperebutkan suara warga NU di Jawa Tengah.

Baik Ganjar maupun Sudirman, di belakangnya ada tokoh ulama besar Jateng yang mendukungnya dan bisa menjadi vote gater bagi masyarakat tradisional. Di kubu Ganjar, ada KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, yang dikenal memiliki pengaruh di Pantura. Lalu di kubu Sidirman, ada KH Dimyati Rois (Mbah Dim), Pimpinan Ponpes Al Fadillah, Kendal, yang jago orasi dan juga dewan penasihat NU.

Tampaknya, suara di Pilgub Jateng kali ini diprediksi akan terbelah antara utara-selatan. Wilayah Jateng Utara memiliki banyak kantong PKB selaku partai pengusung Sudirman-Ida. Sementara Jateng Selatan adalah basis massa PDIP selaku pengusung Ganjar-Yasin. Namun, karena pasangan Sudirman-Ida dan Ganjar-Yasin sama-sama representasi abangan-santri, diprediksi suara nahdliyin di Jateng akan terbagi. Oleh sebab itu, Ganjar-Yasin masih memiliki peluang mendapatkan suara pemilih tradisional PKB dan nahdliyin di Pantura.

Kemudian, meski kedua calon memiliki basis suara tradisional di Jateng, keduanya masih bisa memperebutkan suara dari pemilih yang belum menentukan sikap. Seperti pemilih rasional dan pemilih yang suaranya masih mengambang. Potensi ini sepertinya akan lebih menguntungkan Sudirman-Ida, sebab partai pengusungnya (terutama PKS) dikenal paling lihai merebut suara dari kelompok massa mengambang.

Ganjar Diganjal Isu Miring, Sudirman Kurang Populer

Terlepas dari apapun, setidaknya Sudirman Said dan Ganjar adalah dua figur yang sama-sama memiliki keunggulan serta kekuatan tersendiri. Pertama, figur penantang yaitu Sudirman Said, posisi beliau sebagai mantan menteri ESDM setidaknya memberikan keunggulan serta kekuatan. Dengan jabatannya di kabinet, dia menjelma sebagai tokoh nasional yang sudah pasti dikenal luas oleh masyarakat, tak terkecuali masyarakat Jateng. Hal itu ditambah dengan status dia sebagai putra asli Brebes.

Diketahui, Brebes merupakan daerah paling ujung yang berbatasan dengan Jawa Barat, sering tak tersentuh pembangunan atau dianaktirikan oleh pemerintah provinsi. Sentimen Brebes dan daerah pinggiran Jateng lain seperti Tegal, Pekalongan, dan Pemalang yang tak puas dengan kinerja pemerintah di pusat kota, bisa memicu dukungan masyarakat daerah tersebut.

Kelemahan “Pak Dirman” (Sebutan Sudirman), sebagai penantang memang kurang populer dibanding calon petahana. Di samping itu, segi pengalaman atau track record sebagai pemimpin daerah (kepala daerah) belum teruji. Karena itu, kontestasi Pilgub Jateng bisa menjadi ajang “pembuktian” Pak Dirman untuk merebut hati pemilih Jateng dengan gagasan dan perferoma yang lebih baik.

Kedua, figur inkumben Ganjar Pranowo, sosoknya memiliki keunggulan serta kekuatan sebagai seorang petahana dan kader tulen PDIP. Sebagai seorang inkumben, secara popularitas masyarakat Jateng telah mengenalnya, kemudian sebagai kader PDIP Ganjar diuntungkan karena mendapatkan dukungan mesin politik parpol di daerah yang dikenal sebagai “kandang banteng”, dimana dalam sejarah pilkada serta pemilu sebelumnya PDIP hampir selalu menang di Jateng.

Namun demikian, ada tiga isu yang potensial menghambat langkah Ganjar, sekaligus titik kelemahannya, yaitu: kasus korupsi e-KTP, proyek semen di Rembang dan Pati, serta polemik aturan alat tangkap di kalangan nelayan.

Kasus E-KTP akan mendegradasi kepercayaan publik terhadap Ganjar yang namanya selalu santer disebut, bahkan sempat masuk dalam surat dakwaaan terhadap bekas Ketua DPR RI Setya Novanto. Keadaan tersebut tentunya tidak menguntungkan bagi Ganjar, sebab kasus korupsi adalah salah satu kasus yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.

Kelemahan selanjutnya yang dimiliki Ganjar adalah adanya pembangunan pabrik semen di daerah Pati dan rembang, Jateng. Akibat dari itu, banyak dari aktivis lingkungan maupun petani mengecam serta menolak pembangunan pabrik semen tersebut. Ribuan aksi warga yang menolak proyek semen terjadi di depan kantor gubernur dan istana negara. Bahkan, Patmi (48), salah satu peserta aksi meninggal dunia beberapa lama setelah melakukan aksi semen kaki saat menolak pembangunan pabrik semen di Rembang. Tragedi ini tentu saja saat itu menggemparkan publik Jateng dan tanah air pada umumnya.

Isu miring lainnya, ketidakpuasan aturan alat tangkap jenis cantrang di kalangan nelayan. Kasus ini, bisa dijadikan senjata lawan politik untuk menyerang Ganjar. Apalagi, salah satu basis politik partai pendukung rival berada di wilayah pesisir utara dan selatan Jateng. Kasus-kasus tersebut tentu sedikit banyak akan menggerus elektabilitas Ganjar-Yasin.

Pun begitu, kemenangan dalam sebuah perebutan jabatan politik, sesungguhnya tergantung bagaimana para calon mampu mengelola dan memaksimalkan keunggulan yang dimiliki, serta melakukan counter terhadap kelemahan yang ada. Di samping mesin politik partai pendukung yang solid dan memiliki sejumlah strategi jitu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here