Pilgub Jatim Belum Mulai, Kubu Gus Ipul Sudah Meradang

0
663

Nusantara.news, Surabaya – Pengamat Politik senior sekaligus pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi menilai, manuver yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar tidak tepat. Seiring dengan desakannya kepada Presiden Joko Widodo agar tidak memberi ijin Menteri Khofifah Indar Parawansa maju Pilihan Gubernur Jawa Timur 2018.

Menurutnya, peryataan Cak Imin sebutan akrab Muhaimin Iskandar tidak mencerminkan demokrasi, mengingat, maju atau tidaknya Mensos Khofifah adalah hak kosntitusional Khofifah sendiri dan merupakan pilihan politik setiap warga negara Indonesia yang harus dihormati bersama.

“Dari catatan saya, Khofifah mempunyai potensi dan peluang yang besar untuk menang di Pilgub Jatim 2018. Apalagi modal Khofifah sudah kuat, justru pernah maju dua kali di Pilgub Jatim, meski gagal, namun popularitas Mensos satu ini tidak pudar, bahkan semakin melambung, seperti diketahui bersama dua kali maju dan gagal dikarenakan ada indikasi penghadangan terhadap Khofifah,” jelasnya kepada Nusantara.news, Sabtu (8/7/2017).

Soal banyaknya kader NU yang maju di Pilgub Jatim seperti petahana Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Khofifah, Walikota Surabaya Tri Rismaharini maupun Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Airlangga punya pendapat tersendiri, menurutnya, justru NU harus bersyukur memiliki kader yang mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin. Namun yang harus diingat dan dilihat siapa sesungguhnya yang betul-betul mumpuni, berkapasitas, berintegritas dan mampu mendapatkan kepercayaan rakyat.

“Penting bagi keluarga besar NU untuk memastikan serta memberikan kontibusi kepada bangsa ini, yakni, menghadirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan bisa memenuhi harapan rakyat Jawa Timur, berbobot menjadi pemimpin yang bisa mengawal amanah rakyat,” tambahnya.

Airlangga juga berpesan, semua itu berlaku bukan hanya untuk Khofifah saja, namun juga kader-kader NU lainnya yang memang basisnya di Jawa Timur seperti Azwar Anas yang merupakan kader PDIP namun juga kader NU. Begitu juga dengan Tri Rismaharini yang kini mulai digadang-gadang akan maju merupakan kader PDIP sekaligus kader NU.

Seperti diketahui, ada indikasi untuk menjegal Khofifah untuk ketiga kalinya. Kubu PKB sudah mulai meradang, seiring dengan isu akan majunya Khofifah di Pilgub Jatim 2018, meski saat ini belum mendeklarasikan kepastiannnya untuk nyagub. PKB dinilai mulai ketakutan, seiring dengan manuver Cak Imin yang meminta Jokowi agar tidak memberi ijin Khofifah Nyagub Jatim.

Menurut Cak Imin,  Provinsi Jawa Timur merupakan basis terkuat dari Nadhalatul Ulama (NU). Maka, Saifullah Yusuf merupakan sosok yang tepat untuk diusung, apalagi dua kali Pilgub, dua kali Khofifah kalah. Maka, jalan satu-satunya mencari sosok baru yang dianggap bisa memenangi Pilgub Jatim 2018,  PKB memilih Gus Ipul.

Cak Imin bahkan merayu Presiden Jokowi agar Khofifah fokus sebagai Menteri saja dan tidak usah maju di Pilgub Jatim 2018. “Saya sudah sampaikan ke Presiden, hanya Jawa Timur ini satu-satunya Provinsi yang NU-nya sangat kuat. Maka, kalau bisa, Bu Khofifah tidak usah diizinkanlah (maju Pilkada). Jadi menteri saja,” kata Cak Imin di Kediamannya kawasan Ciganjur, JakartaSelatan, Sabtu (8/7).

Cak Imin mengklaim permintaan tersebut disambut baik oleh Presiden Joko Widodo. Permintaan ini disampaikan saat dirinya bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, sekitar dua minggu lalu. “Bu Khofifah di Pilgub Jatim kalah terus ya sudah saatnya ganti kader lain lah. Sama-sama NU sudah cukup,” ujarnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here