Pilgub Jatim, Bukan Adu Sosok Tapi Program Inovatif

0
93
Dosen Universitas Airlangga Aribowo (Nusantara.news)

Nusantara.news, Surabaya – Pengamat politik yang juga dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Aribowo menilai di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 mendatang yang diharapkan rakyat Jatim bukan hanya pada sosok calon, tetapi kecerdasan meramu program yang ditawarkan. Itu juga yang diharapkan bisa mengurai persoalan di Jatim, menuju kesejahteraan rakyat.

Dikompetisi lima tahunan itu, kedua kandidat bakal calon yang muncul, yakni Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa memiliki nilai kompetisi yang sangat kuat. Tetapi, kedua tim kandidat harus bisa membranding calonnya tampil sebagai tokoh inovatif dan memiliki lompatan yang maju ke depan, itu yang harus disodorkan.

Gus Ipul sebagai incumbent dan Khofifah selain sebelumnya di era Presiden Abdurrahman Wahid pernah menjabat menteri, juga kaya pengalaman. Dan, saat ini memegang peran dan pengalaman penting sebagai Menteri Sosial.

“Di Pilgub Jawa Timur sesungguhnya yang dipertaruhkan atau diadu adalah program, bukan pada sosok. Siapa di antara mereka yang bisa menyajikan visi baru kekinian. Bisa meyakinkan masyarakat Jawa Timur untuk mengatasi persoalan dengan branding baru, menuju perbaikan. Gus Ipul sebagai incumbent meneruskan program Pakde Karwo, sementara Khofifah juga kenyang pengalaman dan saat ini sebagai menteri itu juga modal kuat,” urai Aribowo, Selasa (24/10/2017).

Ditambahkan, tantangannya adalah peran tim di kedua kandidat tersebut yang harus bisa membranding bakal calon, dengan berbagai program yang diharapkan oleh masyarakat pemilih, itu yang menjadi kompetisi.

Juga tidak bisa dipungkiri, kekuatan kedua kandidat yang sama-sama berlatar belakang NU, termasuk Abdullah Azwar Anas sebagai wakil Gus Ipul ikut mempengaruhi suara pemilih dari NU. Tetapi, lanjut Aribowo, kebaradaan Anas sebenarnya bukan mewakili dari kalangan nasionalis, tetapi kultur NU itu yang akan memberatkan pasangan Gus Ipul-Anas untuk bersaing merebut suara di sejumlah wilayah kultur di Jatim.

“Anas memang populer apalagi jika dikaitkan dengan prestasinya membangun Kabupaten Banyuwangi yang dipimpinnya. Tetapi, karena berlatar belakang NU, dia belum mewakili kultur nasionalis seperti yang diharapkan PDIP. Menurut saya, idealnya harus digandengkan dengan Risma (Tri Rismaharini), itu yang bisa dijual,” terangnya.

Khofifah Unggul di Banyak Wilayah, Idealnya GI dengan Risma 

Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, Saifullah Yusuf

Terkait kemungkinan pecahnya suara pemilih dari NU, itu bisa dipastikan dan akan terjadi dimana-mana. Tetapi, warga NU terbiasa dengan perbedaan-perbedaan yang dimungkinkan timbul, karena masyarakat NU bisa disebut dalam faksi-faksi.

“Tetapi, masyarakat NU cerdas, mereka akan memilih calon yang baik,” tegasnya.

Pilgub Jatim masih setahun lagi, tepatnya Juni 2018. Khofifah terus meningkat elektabilitas dan kredibilitasnya. Masyarakat semakin yakin dengan kekuatan perempuan asal Surabaya itu, dengan sepak terjang dan kerja kerasnya di posisinya sebagai menteri.

Lelaki itu menilai, jaringan pemilih Khofifah dipastikan akan semakin kuat, tidak hanya karena disokong oleh massa pemilih dari NU. Masyarakat banyak yang mengerti kalau sosok yang telah mempunyai jaringan kuat dan merata di seluruh Jatim itu akan unggul di berbagai wilayah kultur di Jatim. Pastinya di komunitas NU, ditambah lagi dari elemen muda dan intelektual lainnya. Termasuk wanita Fatayat dan Muslimat yang selama ini telah dikenal dekat dengan Khofifah.

Khofifah sudah mempunyai jaringan kuat dan merata di Jatim. Anak-anak muda dan intelektual NU ada kecenderungan lebih melihat Khofifah, juga ibu-ibu dan Fatayat yang selama ini menjadi komunitasnya. Suara perempuan, Muslimat dan Fatayat cukup besar.

Pertarungan perebutan suara antar kedua kandidat utamanya di wilayah kultur, seperti di Pandalungan, Mataraman, Madura dan Osing akan menjadi ketat. Khofifah punya khans yang cukup kuat, dibanding dengan Anas.

“Khofifah harus mengambil calon wakil dari kalangan NU, itu untuk mengimbangi kekuatan dirinya untuk masuk ke kantung nasionalis,” tegasnya.

Kesenjangan, Kemiskinan, dan Disparitas Isu Sensitif

Tenaga Kerja Asing hantui Jatim (Nusantara.news)

Tim sukses kedua kandidat, selain harus bisa membranding calon, juga harus memahami isu sensitif yang masih menguat di Jatim. Kemiskinan, kesenjangan dan disparitas harus disambut dengan kepiawaian menyodorkan program yang inovatif dan solutif, sebagai jalan menuju perubahan.

“Soal isu itu memang terjadi dimana-mana, itu isu sensitif kita tahu kalau kesenjangan terjadi dimana-mana tidak hanya di Jawa Timur. Kedua kandidat harus bisa memecahkannya, dengan program inovatif dan solitif,” katanya.

Sementara, soal isu asing yang telah masuk ke berbagai wilayah di Indonesia termasuk ke Jatim, menurut Aribowo, itu tidak bisa ditampik karena telah menjadi isu nasional.

Kaitannya dengan Pilgub Jatim, kandidat harus bisa menampilkan data riil soal keberadaan asing yang dikhawatirkan mengurangi dan menyita kesempatan masyarakat lokal. Termasuk harus bisa menyajikan data soal pertumbuhan dan keberadaan tenaga kerja asing yang ditakuti sebagai momok persaingan tenaga kerja lokal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here