Pilgub Jatim dan Gerakan Kembali ke Khittah 1926

1
106
KH Mahfud MN, Ketua Gerakan Kembali ke Khittah NU 1926 (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Di temui Nusantara.news di sela menunggu belasan kiai se-Jatim melakukan pertemuan di sebuah rumah di Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, Siwalankerto, Surabaya, Minggu (5/11/2017). Ketua Gerakan Kembali ke Khittah Nahdlatul Ulama (NU) 1926, KH Mahfud MN menegaskan kiai di Jatim akan total mengawasi jalannya proses Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim, 2018. Selain mengawasi juga mengantar jalannya pesta demokrasi tanpa keberpihakan dan dukung mendukung yang mencederai semangat dan Khittah NU.

Termasuk ikut bertanggung jawab lahirnya pemimpin yang amanah, jujur, adil, berjuang tanpa keberpihakan dan selalu mengedepankan kemaslahatan umat, termasuk di Jatim. Itu menjadikan salah satu dasar mengajak dan merangkul semua kiai untuk merumuskan, menjaring sosok yang diharapkan akan mengerucut sebagai bakal calon yang mewakili dan diterima semua lapisan. Serta membawa kemaslahatan masyarakat, termasuk bagi partai politik. Itulah alasan mereka para kiai ‘turun gunung’.

“Itulah alasannya, kita bukan ikut campur apalagi berebut kekuasaan. Tetapi karena kondisi NU saat ini yang telah terlampau jauh masuk dalam kompetisi, itu tidak sehat dan harus diluruskan,” kata KH Mahfud, sambil menyebut di Pilgub Jatim sebelumnya dirinya tidak pernah dan sengaja tidak ikut campur dalam urusan itu.

Dijelaskan, terlepas dari berbagai anggapan orang, termasuk jika ada yang mengkait-kaitkan dengan Muktamar NU ke-33 di Jombang, yang digelar pada 1-5 Agustus 2015, dia menegaskan tidak ada hubungannya.

“Tidak ada hubungannya dengan itu (pasca Muktamar NU di Jombang). Saya sendiri sebelumnya tidak pernah ikut campur di urusan seperti ini (Pilgub Jatim), dan baru sekarang. Juga karena saya ditunjuk sebagai ketua tim (Gerakan Kembali ke Khittah), itu karena kondisi NU dinilai sudah memprihatinkan. Karena sudah dihadapkan ke urusan politik, dan dukung mendukung. Kita tidak terikat struktural, tapi kita diberikan hak untuk mengawal, ikut memilih seperti orang lain yang juga punya hak pilih,” terangnya.

Baca Juga: Pasangan Khofifah Dideklarasikan Pertengahan November

Tidak berpihak, dia kemudian menekankan kalau Khofifah Indar Parawansa layak dan pantas untuk dihantarkan menuju jabatan gubernur. Semua yang dilakukan untuk menjaga keutuhan warga NU, tidak terhasut dan masuk dalam ancaman perpecahan, khususnya di Jatim.

“NU tidak berpihak, tetapi Khofifah layak diantarkan ke sana (jabatan gubernur). Kita harus menjaga keutuhan warga NU, NU harus komitmen dengan Khittah dan tidak boleh terseret ke urusan itu (pilkada). Karena akan terkotak-kotak dan sangat membahayakan jika itu terjadi sampai di lapisan bawah, di masyarakat,” bebernya.

Selanjutnya, di bawah komando dan pengawasan kiai-kiai se-Jatim, Gerakan Kembali ke Khittah Nadhdiyah NU 1926 itu akan segera digelar dan dideklarasikan, di pertengahan November 2017, di Surabaya. Menghadirkan sedikitnya 9 orang untuk setiap perwakilan kabupaten/kota se-Jatim.

“Sembilan orang perwakilan dari semua daerah akan di undang. Sekarang proses pencetakan nama-nama yang terus dilakukan, dan itu menjadi tanggung jawab, karena saya ditunjuk sebagai ketua,” terang KH Mahfud MN yang pernah menjabat sebagai Ketua PMII 1994 itu.

Mahfud MN “Kalau mundur, semua harus mundur tidak boleh ada pilih kasih”

Sementara, ditanya soal munculnya desakan Khofifah harus mundur dari jabatannya jika maju di Pilgub Jatim, dia menimpali dan menegaskan tidak ada aturannya soal itu.

“Tidak ada aturannya soal itu, kalau mundur semua harus mundur, kenapa kok hanya Khofifah yang disuruh mundur, lucu itu,” tegasnya.

Kemudian, ditanya soal Khofifah yang harus maju di Pilgub Jatim dan meninggalkan jabatan yang sudah dipegang, sebagai Menteri Sosial di Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, dia menegaskan itu untuk azas manfaat yang lebih besar yakni, untuk masyarakat di Jatim.

“Bicara soal azas manfaat, Khofifah memang bermanfaat dengan jabatannya. Tetapi dan akan lebih bermanfaat kalau Khofifah memimpin di Jatim, silakan di ulas sendiri. Yang pasti, kita semua akan turun untuk ikut mengawal dan mendukung Khofifah. Tidak terikat struktur tetapi kita mengajak semua masyarakat di Jatim untuk mengawal itu (Pilgub Jatim),” tegasnya.

Karena, masih kata KH Mahfud, keberadaan dan jalan perjuangan Khofifah sesuai dengan prinsip dan tidak pernah melenceng dari jalur perjuangan NU. Dia berharap semua pihak memahami itu, untuk mewujudkan ketenteraman masyarakat Jatim, dan terus terjaganya kerukunan dan keutuhan warga NU. Dengan mengedepankan kepentingan yang lebih besar, daripada kepentingan pribadi dan golongan.

Perjalanan Khittah NU dan Realita

Nahdlatoel Oelama 1926

Untuk diketahui, dari referensi perjalanan sejarah NU, Kittah NU adalah landasan berpikir, bersikap dan bertindak yang harus dilakukan oleh warga NU. Itu tercermin dalam perilaku, baik perseorangan maupun organisasi termasuk setiap pengambilan keputusan. Itu tertuang dalam Naskah Khittah NU poin ke dua oleh Abdul Mun’im DZ dalam buku Piagam Perjuangan Kebangsaan (2011).

Selanjutnya, naskah Khittah NU yang dirumuskan KH Achmad Siddiq dibantu sejumlah kiai menjadi tonggak kembalinya NU dalam rel perjuangan seperti cita-cita organisasi tersebut saat didirikan.

Keputusan NU menjadi partai pada tahun 1952 turut mendegradasi peran dan perjuangan luhur organisasi, karena lebih ke arah politik praktis. Dalam prosesnya, keputusan menjadi partai juga memicu silang pendapat karena setelah menjadi partai pada 1952, tidak sedikit kiai mengusulkan kembali ke Khittah.

Baca Juga: Pilgub Jatim, Bukan Adu Sosok Tapi Program Inovatif

Dalam perjalanannya, seruan kembali ke Khittah 1926 muncul kembali tahun 1971. Saat itu Ketua Umum PBNU KH Muhammad Dahlan menilai langkah tersebut sebagai sebuah kemunduran secara historis. Pendapat KH Muhammad Dahlan itu ditengahi oleh Rais Aam KH Abdul Wahab Chasbullah. Kembali ke Khittah berarti kembali kepada semangat perjuangan NU 1926, saat awal didirikan.

Sempat terhenti, gaung itu muncul kembali tahun 1979 saat digelar Muktamar ke-26 di Semarang. Seperti seruan sebelumnya, usulan kembali menjadi jami’iyah diniyyah ijtima’iyah dalam Muktamar juga terhenti. Apalagi NU sedang giat- memperjuangkan aspirasi rakyat dari represi Orde Baru lewat Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, dinilai kelompok kritis dari NU mengalami penggusuran sehingga menurunkan kadar perjuangan partai tersebut.

Kemudian, KH Achmad Siddiq menyusun tulisan komprehensif berisi pokok-pokok pikiran tentang pemulihan Khittah NU 1926. Sebelumnya, itu dibahas terbatas dengan sejumlah ulama sepuh di rumah KH Masykur di Jakarta.

Gagasan KH Achmad Siddiq mendapat sambutan baik dan menjadi konsep dasar kembali di Munas NU, 1983 di Situbondo. Kemudian naskah itu menjadi dokumen resmi Munas sebagai dasar merumuskan Khittah Nahdliyah.

KH Achmad Siddiq menyebut, Khittah NU tidak dirumuskan berdasarkan teori saja. Tetapi berdasarkan pengalaman dan sejarah NU, puluhan tahun lamanya. Mengembalikan organisasi ke relnya, untuk kepentingan yang lebih besar, bangsa dan negara.

Naskah Khittah Nahdliyah KH Achmad Siddiq, kemudian ditindaklanjuti oleh para aktivis NU, di antaranya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Termasuk Mahbub Djunaidi, Fahmi D. Saifuddin, dan lainnya. Gus Dur dan Gus Mus juga merumuskan naskah hubungan Islam dengan Pancasila, di Munas NU 1983 di Situbondo.

Gus Mus menyebut, gagasan kembali ke Khittah 1926 baru bisa diputuskan berkat pemikiran jernih dari pribadi bersih, penuh kharisma yakni tokoh besar, KH Achmad Siddiq dan Gus Dur, (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015).

NU dari pandangan kedua tokoh tersebut, memandang politik hanya instrumen untuk mencapai tujuan mewujudkan kemaslahatan bangsa dan negara. Politik yang dipraktikkan secara struktural adalah politik kebangsaan, politik keumatan, politik kerakyatan dan politik etika, bukan politik praktis yang berorientasi kekuasaan semata dengan menghalalkan segala cara.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here