Pilgub Jatim Panas, Khofifah-Nurwiyatno Beredar di WhatsApp

0
498
Poster Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa (KIP) berpasangan dengan Nurwiyatno (Cak Nur) yang beredar di grup WhatsApp.

Nusantara.news, Surabaya – Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 makin memanas. Para calon yang sudah mendaftar di partai maupun yang belum mendaftar, mulai tebar pesona. Mereka punya gaya politik sendiri-sendiri.

Beredar di grup WhatsApp, Kamis (14/9/2017), sebuah foto hasil editan, memunculkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa (KIP) bersanding dengan calon gubernur Partai Demokrat Nurwiyatno (Cak Nur). Dalam poster digambarkan dua sosok tersebut menjadi pasangan Gubernur Jawa Timur tahun 2018.

Belum jelas siapa yang menyebarkannya. Yang jelas poster itu sengaja disebar untuk menarik isu bahwa Cak Nur layak disandingkan dengan Khofifah, kendati yang bersangkutan hingga kini belum mendeklarasikan maju Pilgub Jatim 2018.

Khofifah sebelumnya berujar sudah bertemu dengan beberapa petinggi parpol, antara lain, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, Ketua umum PPP  Romahurmuziy, dan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang.

Komunikasi juga dilakukan dengan sekjen masing-masing partai tersebut, dalam pertemuan formal maupun nonformal. Dalam pertemuan itu, Khofifah memberi sinyal adanya koalisi partai untuk mengusung dia sebagai Cagub Jatim.

“Pokoknya saya pada saat mengambil keputusan untuk maju, Insya Allah jumlah partai yang mengusung sudah cukup,” kata Ketua Umum Muslimat NU ini saat menghadiri Rakor Penanggulangan Kemiskinan di Surabaya, Rabu (13/9/2017).

Pernyataan Khofifah ini disikapi beragam. Peluang Khofifah diusung ‘koalisi naga’ (nasionalis-agama) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mungkin telah sirna. Sebab kedua partai itu tampaknya sudah memastikan dukungan ke Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Sebaliknya peluang Khofifah bersama partai koalisi memasuki babak baru.

Tidak bisa dipungkiri, tingkat popularitas dan akseptabilitas Khofifah di Jawa Timur cukup kuat. Sejumlah tokoh bahkan bersedia disandingkan dengan Khofifah, meski hanya di posisi wakil. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan pendukung Nurwiyatno. Sebagai Pengurus Daerah Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PD PA GMNI) Jawa Timur, para pendukung Cak Nur tentu sangat berharap jagoannya dapat berpasangan dengan Khofifah.

Nah, poster yang beredar di grup-grup WhatsApp diduga dilakukan Cak Nur dan pendukungnya. Tujuannya tentu untuk menggiring opini publik. Hal yang lumrah dalam politik. Apalagi Nurwiyatno masuk melalui gerbong Partai Demokrat, di mana partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut sangat berharap Khofifah dapat meneruskan estafet kepemimpinan Soekarwo di Jawa Timur. Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, dalam setiap kesempatan telah memberi sinyal positif mendukung Khofifah maju Pilgub Jatim.

Ada celotehan di kalangan aktivis, Khofifah dipasang dengan siapapun pasti akan menang. Beberapa pengamat menyebut, Khofifah itu bagai magnet. Maka, sangat rugi jika parpol tidak mengusungnya. Sejauh ini, memang hanya Nasdem yang jatuh hati dan mendeklarasikan dukungannya. Golkar sudah merapatkan barisan ke menteri sosial.

Senada, para pendukung Ketua Kadin Jawa Timur juga berharap La Nyalla Mattalitti berpasangan dengan Khofifah. Hal tersebut pernah disampaikan Ketua Forum Kiai Kampung Jawa Timur Gus Fatkhur dari Cangaan Bangil Pasuruan.

Menurut kiai kampung, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan La Nyalla Mahmud Mattalitti adalah pasangan “Falah”, singkatan Khofifah dan La Nyalla. Keduanya cocok berpasangan pada Pilgub 2018.

“Saya dukung Pak Nyalla jika beliau maju dalam Pilgub 2018 berpasangan dengan Ibu Khofifah, pasangan yang pas dan Insya Allah Falah (kemenangan) ada pada beliau berdua,” katanya saat itu di hadapan sekitar 200.000 massa Haul Syekh Abdul Qodir Jailani dan Majelis Dzikir Manaqib Ponpes Al-Qodiri, Jember.

Gaya Politik Risma Mirip Jokowi

Hal berbeda ditunjukkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma). Siapa bilang Risma tidak mau maju sebagai Cagub Jatim 2018. Ingat, dia bukan lagi seorang birokrat. Dia kini kader PDI-P. Mustahil tidak memiliki karep (kemauan). Sebagai seorang politisi, pasti dalam benak Risma ada keinginan tidak sekedar memimpin Surabaya, tapi juga naik level memimpin Jawa Timur.

Penolakan Risma di hadapan pemimpin media di kediamannya kemarin, justru menunjukkan bahwa itulah gaya politik abu-abu dia.

Vinsensius Awey, politisi NasDem asal Kota Surabaya kepada Nusantara.News menilai setiap orang berhak punya pendapat. Risma menolak masuk bursa Pilgub Jatim adalah gaya politiknya selama ini.

“Setahu saya Bu Risma punya tipikal tidak vulgar, dan selalu menyampaikan penolakannya ketika ada wacana pilkada, dengan menganggap bahwa jabatan itu tidak boleh diminta, karena menjadi beban, itu catatan saya selama ini,” ujar Awey dalam keterangannya, Kamis (14/9/2017).

Dalam sistem monarki PDI-P, hal itu juga pernah dialami Jokowi. Hanya saja Jokowi terlihat santai dan tenang dalam menyikapinya, termasuk saat menghadapi serangan lawan. Saat itu entah berapa banyak yang menyinggung pencapresan dirinya, namun Jokowi selalu mengeluarkan jurus abu-abu; terkesan cuek, tidak peduli, pasrah, dan sebagainya.

Demikian halnya Risma. Sebagai wali kota perempuan pertama di Surabaya. Risma tampaknya tidak mau tenggelam dalam riuh pemberitaan Khofifah dan Gus Ipul. Dengan caranya dia lantas menggunakan kekuatan media yang selama menjadi kendaraannya berpolitik.

Di Surabaya, Risma memiliki pendukung yang cukup kuat dari grassroot hingga level atas. Beberapa elemen masyarakat telah terbentuk. Sejumlah pengusaha dan akademisi juga turut menyatakan dukungannya, meski terkesan masih diam-diam.

Menurut Awey, penolakan Risma tidak bisa diartikan dia menolak seratus persen untuk maju di Pilgub Jatim 2018. “Karena menurut saya itu justru style politiknya, bisa saja tiba-tiba dia muncul, kita lihat saja nanti, ini kan waktunya masih panjang,” tegasnya.

Menurut Awey, hal itu merupakan politik nothing to lose, karena Risma bisa maju tanpa beban karena bukan atas niat pribadinya.

Awey menilai, secara popularitas nama Risma sebenarnya sejajar dengan Gus Ipul dan Khofifah. “Tidak bermaksud mengecilkan yang lain, tetapi jika ketiga nama itu, Risma, Gus Ipul dan Khofifah masuk dalam putaran Pilgub Jatim, pilkada ini akan lebih berkualitas. Karena akan terjadi persaingan ketat, dan yang perlu dicatat, nama ketiga sosok ini cukup beken, tidak hanya di Jatim, tetapi juga secara nasional. Artinya, mereka ini sudah menjadi aset nasional,” pungkasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here