Pilgub Jatim Pertarungan Khofifah vs Anas, Gus Ipul Cuma Dagelan

0
496
Pilgub Jatim 2018 sebenarnya pertarungan antara Khofifah dan Anas. Sementara Gus Ipul dianggap sekedar dagelan. Karena selama ini Wagub Jatim dua periode tersebut hanya melakukan pencitraan saja, salah satunya menjual prestasi pendampingnya.

Nusantara.news, Jawa Timur – Majunya Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawangsa dalam Pilgub Jatim 2018 memang akan menguntungkan Nahdlatul Ulama (NU). Sebab kedua kandidat sama-sama berasal dari kader NU. Bahkan diyakini dalam tubuh NU tidak akan ada perpecahan.

Jangankan perpecahan, isu-isu SARA yang terjadi di Pilgub DKI beberapa waktu, dipastikan tidak terulang di Jawa Timur. Pasalnya, karakter masyarakat Jatim dikenal sangat moderat. Dengan adanya dua kandidat dari NU, maka isu-isu SARA dapat diredam. Sebaliknya pelaksanaan Pilgub Jatim 27 Juni 2018 mendatang, relatif aman.

NU secara organisasi telah memiliki dasar yang solid sebagai organisasi agama berbasis kultural, sehingga perbedaan politik kenegaraan antar kader tak akan serta merta memecah belah NU. banyaknya keterlibatan kader NU dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018 sebagai pembuktian akan kualitas kader-kader NU.

Sejumlah kiai NU sudah terang-terangan mendukung kandidat. Kiai dan pesantren pendukung Gus Ipul di antaranya adalah Kiai Anwar Iskandar dari Ponpes Al Amien Kediri, Kiai Anwar Mansyur dari Ponpes Lirboyo, Kiai Kafabihi Mahrus dari Ponpes Lirboyo, Kiai Nurul Huda Jazuli dari Ponpes Al Falah Ploso, Kiai Ahmad Fahrurrozi dari Ponpes An Nur Malang, dan Kiai Zainul Hasan dari Ponpes Genggong Probolinggo.

Sementara pendukung Khofifah antara lain pengasuh pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, Kiai Asep Saifudin Chalim, Kiai Mas Mansur dari Surabaya, Kiai Afifudin Muhajir dari Situbondo, Kiai Suyuti Toha dari Banyuwangi, pengasuh pesantren Darussalam Banyuwangi Kiai Hisyam Syafaat, Kiai Yusuf Nuris dari Banyuwangi, Kiai Mahfud dari Gresik, dan Kiai Yazid Karimulloh dari Jember.

Ya, pilihan politik boleh beda, tapi jangan sampai merusak umat. Intinya itu. Kelompok tahlilan (pengajian/ikatan tali persaudaraan/silaturahim) harus tetap dijaga. Jangan sampai karena Pilkada, majelis taklimnya pecah, atau tarekatnya beda-beda. Itu yang tidak boleh.

Justru, dua kandidat NU tersebut nantinya akan bersaing sesuai aturan yang berlaku. Para pihak juga tidak akan saling menjatuhkan sehingga merugikan umat. Bersaing menggunakan hukum, bersaing secara sehat, dan terpenting majelis taklim jangan dicampur adukan dengan Pilkada.

Nah, untuk menggapai elektablitas, masing-masing kandidat bakal menunjukkan kekuatan masing-masing. Satu yang bisa diketahui dari sepak terjang Gus Ipul, dia tampaknya bangga dengan pendampingnya Abdullah Azwar Anas yang notabene Bupati Banyuwangi. Kemana-mana Gus Ipul selalu menjual nama wakilnya untuk menaikkan elektabilitas dan popularitas.

Baca juga: Mengukur Kekuatan Kandidat di Pilgub Jatim

Kepada Nusantara.News saat berkunjung ke kantor DPD PDI Perjuangan beberapa waktu lalu, Gus Ipul mengaku senang atas pilihan yang dijatuhkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri kepada calon wakil gubernurnya.

“Saya berterima kasih kepada bu Mega, karena dapat didampingi calon wakil gubernur yang punya prestasi luar biasa seperti Anas,” terang Gus Ipul.

Gus Ipul juga terang-terangan memuji kelebihan Anas. Menurut dia, Banyuwangi bisa berubah seperti sekarang ini karena Bupati Anas. “Dulu (Banyuwangi) terisolasi. Tapi lihat sekarang, pesawat yang landing dalam sehari bisa tiga kali. Wisatawan dari 400 ribu menjadi 4 juta. Sementara pendapatan per kapita Kabupaten Banyuwangi meningkat,” puji Wakil Gubernur Jatim dua periode ini.

Ditambahkan Gus Ipul, dulu Banyuwangi sangat identik dengan kota santet. Namun setelah dipimpin Anas, kini image yang terbangun menjadi kota Sunrise of Java. Banyuwangi, imbuhnya, mengalami banyak kemajuan yang terukur. Pelayanan publiknya sangat bagus.

“Nanti (saat kampanye), kita mau duplikasi keberhasilan Banyuwangi. Apalagi Bupati Anas mempunyai misi visi yang jelas dan konsisten untuk diterapkan,” ujarnya.

Baca Juga: Pilgub Jatim Jadi Ajang Jualan Wakil

Dari koalisi PKB-PDIP, Gus Ipul memang patut bersyukur karena berhasil mendapatkan Anas sebagai pasangan Cawagubnya. Sebab, berdasarkan hasil survey The Initiative Institute periode 6 September – 20 September 2017, tingkat elektabilitas Gus Ipul cenderung stagnan di kisaran 36,3 persen.  Sebaliknya, dari kubu Khofifah, tingkat elektabilitasnya naik di kisaran 32,4 persen sehingga selisihnya semakin tipis menjadi 3,9 persen. Padahal dalam survey sebelumnya di bulan April 2017, tingkat elektabilitas Gus Ipul mencapai 33,2 persen dan Khofifah hanya 28 persen atau selisih sekitar 5 persen. Tapi perlu diingat, elektablitas Khofifah naik tanpa Cawagub, sementara Gus Ipul naik setelah didampingi Anas.

“Elektabilitas Gus Ipul memang belum aman untuk menang karena selisih dengan kompetitor masih di bawah 10 persen. Tapi dia diselamatkan oleh Cawagubnya yaitu Anas karena bisa menjadi mendongkrak elektabilitas suara pasangan,” ujar Moh Dahlan peneliti senior The Initiative Institute di Hotel Sahid Surabaya, Minggu (22/10/2017).

Diprediksi, Ketum PP Muslimat NU bisa menandingi atau bahkan melebihi elektablitas Gus Ipul jika sudah mendapatkan pasangan Cawagub yang bisa menyaingi Anas. Minimal kriterianya adalah kepala daerah, berusia muda, cerdas dan bisa mendulang suara (vote getter). Namun demikian, ada yang mengatakan Khofifah tidak butuh wakil kalau cuma untuk menaikkan elektablitas.

Pada dasarnya Menteri Sosial itu sudah memiliki elektabilitas tinggi menandingi pasangan Gus Ipul-Anas. Sehingga ada adagium, Pilgub Jatim 2018 sebenarnya pertarungan antara Khofifah dan Anas. Karena keduanya adalah figur pekerja keras dan pemikir. Sementara Gus Ipul seperti dalam sindiran budayawan kondang Emha Ainun Najib (Cak Nun), hanyalah dagelan saja. “Orang yang melakukan pencitraan itu seperti kayak bibir hitam yang dikasih lipstik merah. Saipul!!! Gak usah bengesan (lipstikan), gak usah gincuan (lipstikan), tampilkan dirimu apa adanya kepada rakyatmu,” ungkap Cak Nun.

“Sang Wakil” Kuda Hitam

Gus Ipul dan Khofifah adalah musuh bebuyutan sejak dua periode, yakni Pilgub 2003 dan 2008. Sayangnya, elektabilitas keduanya sudah mencapai puncak alias mentok. Masyarakat Jawa Timur sudah mengenal baik kedua sosok tersebut. Siapa yang dipilih, sama saja. Karena itu para pemilih akan melihat siapa sosok wakil gubernurnya. Ya, sosok Cawagub inilah yang bakal menjadi kuda hitam dua kandidat tersebut.

Gus Ipul sudah punya. Lantas, Khofifah pilih siapa? Ini masih tanda tanya. Yang jelas pemilih lebih tertarik dengan sang wakil. Hal itu disampaikan Kepala Laboratorium Ilmu Politik Universitas Brawijaya Fazadhora Nailufar di Surabaya, beberapa waktu lalu, “Duet Gus Ipul-Anas ini menjual prestasinya Anas,” kata dia.

Tinggal pilihan Khofifah jatuh ke siapa. Menurut Ketua Penelitian dan Pengembangan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur ini, pasangan Khofifah juga akan menjadi kuda hitam. Kalau Anas mewakili wilayah Tapal Kuda, maka calon wakil Khofifah minimal bisa mewakili wilayah Arek dan Mataraman.

Untuk itu, Dhora mengingatkan agar Khofifah jeli memilih kandidat calon wakil gubernur yang tepat. Sebab jika tidak pas pilihannya, kata Dhora, maka suara Khofifah akan hanyut. Apalagi jika sang wakil tak menunjukkan prestasi apa-apa. “Kalau wakilnya tidak tepat, ya bisa makin turun. Kalau wakilnya tepat, bisa berkontribusi mendongkrak elektabilitas dan mengimbangi Gus Ipul-Anas.”

Khofifah, kata Dhora, memiliki banyak opsi dari kalangan partai-partai pendukungnya. Terutama dari Demokrat sebagai partai inkumben. Ia mencontohkan figur seperti Kepala Inspektorat Jawa Timur Nurwiyatno, Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Bupati Trenggalek Emil Dardak, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, atau Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Berdasarkan data survey, responden yang berjumlah 1016 orang tersebar di 108 desa mewakili daerah pemilihan di Jatim ternyata lebih menginginkan latar belakang politik pasangan Cagub-Cawagub Jatim mendatang berasal dari kalangan santri-santri sebanyak 63,3 persen. Disusul pasangan santri-nasionalis sebanyak 54,3 persen, pasangan nasionalis-santri 52,0 persen dan lainnya 3,1 persen.

Pasangan santri-santri sudah terwakili oleh Gus Ipul-Anas. Sedangkan karakter pasangan santri-nasionalis belum muncul. Kalau Khofifah mengambil kalangan nasionalis sebagai pasangan, tentu itu akan menjadi kelebihan yang tak dimiliki pasangan kompetitor. Apalagi Khofifah didukung sejumlah kiai NU, baik yang dari wilayah Tapal Kuda hingga Mataraman.

Dari pertemuan sejumlah kiai se-Jatim pendukung Khofifah Indar Parawansa yang tergabung dalam Tim 9 di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Kamis (19/10/2017), sudah ada delapan nama calon wakil gubernur yang muncul dan terus dimatangkan untuk dipilih. Nantinya pembahasan akan dilanjutkan di forum penggodokan berikutnya. Nama-nama yang terjaring merupakan usulan dari para kiai.

Baca juga: Tim 9 Kiai Bertemu, Bahas Calon Wakil Khofifah

Dikatakan, ada dua cara dilakukan oleh Tim 9 untuk menjaring banyak nama yang kemudian dilakukan pembahasan khusus siapa yang dianggap cocok, serasi dan pas bersanding dengan Khofifah. Pertama, dilakukan istisyarah, dilanjutkan dengan istikharah. Istisyarah, yakni melalui bahasan dan berbagai pertimbangan-secara rasional. Juga mengacu kriteria yang ditentukan sebagai bakal calon wakil gubernur. Selain memiliki kapabilitas, integritas, juga bisa bekerja sama, termasuk untuk mendulang suara saat pemilihan, diterima oleh semua partai pengusung.

Khofifah dalam mencari tandem, dia akan memilih pasangan dari wilayah Mataraman yang tidak terwakili dalam konfigurasi calon usungan PDIP dan PKB. Berkaca dari dua kontestasi sebelumnya, pasangan pemimpin ideal di provinsi paling timur Pulau Jawa itu adalah nasionalis dan religius. Gus Ipul dengan pendampingnya dari wilayah Arek, maka Khofifah dengan pendampingnya dari wilayah Mataraman. Pasalnya, hingga kini belum ada representasi tokoh dari wilayah Mataraman dan Arek yang ikut maju dalam kontestasi lima tahunan di Jatim. Karena itu Khofifah akan bisa menjual wakil bila diambil dari wilayah Mataraman maupun Arek. Kalau ini yang terjadi, Pilgub Jatim pasti seru dan sengit. Hasilnya bisa ketat.

Baca Juga: Menangi Suara Mataraman, Menangi Pilgub Jatim

Direktur Utama The Initiative Institute, Airlangga Pribadi Kusman mengatakan, aroma Pilgub Jatim 2018 sangat kental dengan nuansa Pilpres 2019. Ini berbeda dengan wilayah lain, seperti Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Bahkan diakuinya, Pilgub Jatim tak ubahnya miniatur pertarungan politik nasional menghadapi Pileg dan Pilpres. “Jokowi effect atau restu dari istana kepresidenan diperebutkan dalam Pilgub Jatim mendatang,” ungkap Airlangga.

Yang menarik, di internal partai pendukung pemerintahan Jokowi-JK terjadi faksionalisasi.  PKB dan PDIP mendukung pasangan Gus Ipul-Anas, sedang Parpol besar lain seperti Golkar, NasDem, Hanura dan PPP, justru mendukung Khofifah. Partai Demokrat sepertinya juga tidak mau ketinggalan. Momentum Pilgub Jatim akan dimanfaatkan Demokrat untuk merapat ke Jokowi. Pilihannya, mendukung Khofifah.

Merapatnya Partai Demokrat ke Khofifah jelas akan menguntungkan Khofifah. Sebab Soekarwo selaku Gubernur Jatim berasal dari Demokrat. Tentu, dia akan mengerahkan mesin birokrasinya untuk memenangkan Khofifah. Dua periode menjabat Gubernur Jawa Timur bukan hal yang remeh. Soekaro dinilai memiliki jaringan kuat di birokrasi se-Jawa Timur. Di akhir masa jabatannya, dia akan memaksimalkan mesin birokrasinya tersebut untuk memenangkan calon penggantinya.

Baca juga: Siapa pun Calonnya, Sosok Ini Penentu Kemenangan Pilgub Jatim

“Soekarwo bisa mempengaruhi pemilih dari Partai Golkar dan PDIP untuk mendukung Khofifah,” dalih dosen FISIP Unair Surabaya ini.

Pengaruh Soekarwo sampai saat ini masih sangat besar. Percaya atau tidak, pemenang Pilgub Jatim 2018 tergantung di mana Soekarwo akan berlabuh. Jadi, pertarungan Pilgub Jatim ini sebenarnya pertarungan Pakde Karwo untuk mengamankan posisinya setelah tidak lagi menjabat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here