Pilgub Jatim, Raja Serakah dan Ikat Kepala Aji Saka

0
216
Mochtar "Ikat kepala Aji Saka mengajarkan agar para kandidat berkompetisi, adu gagasan dan perbuatan tentang bagaimana mewujudkan dan membuat rakyatnya aman, tenteram dan sejahtera"

Nusantara.news, Surabaya – “Peristiwa luar biasa menimpa Raja Dewata Cengkar dan pengikutnya yang suka hidup bermewah-mewah di tengah penderitaan rakyatnya. Saat ikat kepala Aji Saka dibeber di atas tanah, ajaib kain ikat kepala itu terus membesar dan terus mengembang ukurannya, Dewata Cengkar pun terdesak dan tumbang”.

“Aji ingin mengakhiri derita panjang rakyat Medang Kamulan. Dia menawarkan diri, mengorbankan raganya untuk santapan Raja Dewata Cengkar yang serakah”

Adalah Mochtar W Oetomo, Dosen Universitas Trunojoyo Madura yang mengisahkan dan menyebut, kisah Ikat Kepala Prabu Aji Saka (sekitar tahun 60-70 Masehi), menjadi cermin agar kandidat calon kepala daerah tidak menggunakan pengetahuan dan baktinya semata untuk memuluskan kepentingan diri sendiri dan golongannya, ibarat seluas kepalanya sendiri.

“Seorang kandidat harus memahami apa yang ada di kepala dan hati pemilihnya, di hati rakyatnya. Visi nya harus sebesar dan seluas daerah di mana dia akan bertarung berebut kekuasaan,” ujar Mochtar, mengawali berbincang dengan Nusantara.news. 

Dikatakan, seorang calon kepala daerah atau calon gubernur, yang maju di Pilkada 2018, tidak boleh memiliki cara berfikir dan berbakti sebagaimana seorang bupati. Dan seorang bupati juga tidak boleh memiliki cara berfikir dan berbakti seperti seorang lurah.

Ikat kepala Aji Saka mengajarkan agar para kandidat berkompetisi, adu gagasan dan perbuatan tentang bagaimana mewujudkan dan membuat rakyatnya aman, tenteram dan sejahtera. Sekaligus mengajarkan bagaimana beradu konsep dan argumen tentang cara yang paling baik dan tepat untuk menyingkirkan para Dewata Cengkar, serta berbagai persoalan, masalah, penderitaan dan kebijakan yang meneror rasa aman dan mengancam kesejahteraan rakyatnya.

Dewa Cengkar Pemakan Daging dan Penghisap Darah Rakyatnya

Digambarkan, Raja Dewata Cengkar yang gemar makan daging dan darah rakyat sesungguhnya adalah sebuah analogi kesewenang-wenangan seorang pemimpin. Dibalut kebijakan dan keputusannya selalu dan hanya menguntungkan dirinya sendiri, golongan serta selalu membuat rakyat menderita, bagai kehilangan daging dan darah yang terus dihisap.

“Bertahun-tahun rakyat Desa Sengkeran dan Medang Kamulan hidup dalam teror duka dan ketakutan akibat kekuasaan sewenang-wenang Raja Medang Kamulan, Dewata Cengkar. Raja bengis, serakah, tamak dan gemar hidup bermewah-mewah”

Falsafah ikat kepala Aji Saka mengajak para kandidat untuk meninggalkan ego sektoral kepalanya. Memijak bumi, membesar dan terus mengembang dengan segenap pengetahuan dan baktinya semata-mata untuk kepentingan yang tak berhingga, seluas kerajaannya.

Falsafah ikat kepala Aji Saka, menegur dan mengingatkan para kandidat yang maju di Pilgub Jatim agar menanggalkan politik simbol. Mengagung-agungkan etnis, agama, jabatan, kedudukan sosial, keturunan dan seabrek keculasan atas nama strategi pemenangan.

“Sesungguhnya semua itu hanya menunjukkan betapa pengetahuan dan baktinya hanya seluas kepalanya sendiri, seluas kepentingan diri dan golongannya sendiri,” terangnya.

Semua sikap itu sangat lazim terjadi di dalam kontestasi di pemilihan gubernur (Pilgub), Pilbup dan Pilwali, termasuk di Jawa Timur. Menurutnya, kontestasi adu gagasan, ide, visi, misi, program kerja untuk membuat rakyat sejahtera dan bahagia menjadi hal yang sangat langka.

Pilgub Jatim dan Dongeng Kejayaan Mbah Buyut

Sebaliknya, di sirkuit pelaksanaan Pilkada serentak, termasuk di Jawa timur nyatanya dipenuhi dengan dongeng-dongeng kejayaan orang tua, kakek-nenek dan mbah buyutnya yang sudah tenang berpulang ke alam baka.

Disadari atau tidak, rakyat entah oleh siapa diajak menarik-narik kembali Mbah Buyut mereka yang sudah tiada ke ‘dunia persilatan’ politik Pilkada yang nyatanya penuh siasat melalui berbagai gambar, ujaran dan termasuk ajarannya.

Mereka, sengaja mengabaikan yang seharusnya, yakni adu pengetahuan dan bakti, kerja keras dan kerja nyata, layaknya ajaran ikat kepala Aji Saka. Sebaliknya, yang jamak dijumpai justru adanya adu klaim dukungan ormas, komunitas, parpol, penguasa dan bahkan adu dukungan para kiai, hingga adu fatwa dan ayat-ayat suci.

Pemilihan kepala daerah tidak menjadi panggung bagi para kandidat untuk menyampaikan pengetahuannya, adu visi misi dan baktinya yang harus dijelentrehkan kepada masyarakat. Justru menjadi panggung bagi para artis juga pemain sinetron politik lainnya, untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.

“Semua hal yang menjadi komoditas Pilkada serentak sejauh ini sesungguhnya masih jauh dari substansi pengorbanan Aji Saka dan masih jauh dari cerah cerianya gemuyu warga, seperti kisah warga Desa Sengkeran dan rakyat Medang Kamulan yang terbebas dari kekejaman Dewata Cengkar. Semua gerak rasanya hanya diperuntukkan satu hal, yakni merebut kemenangan, kemenangan untuk rakyatnya,” urai Mochtar.

Padahal jika sekadar untuk menang maka lihatlah bagaimana Aji Saka yang sudi berkorban untuk rakyat di wilayah tersebut. Maka secara otomatis dengan tulus rakyat akan mengiring dan mengantarnya menuju ke kursi istana alias kursi jabatan kepala daerah atau gubernur.

Kisah Ikat Kepala Aji Saka, Si Pembela Rakyat

Dari mukadimah di atas, Mochtar kemudian menceritakan kisah itu yang dialami oleh Aji Saka di jamannya sekitar tahun 60-70 Masehi.

“Peristiwa luar biasa menimpa Raja Dewata Cengkar dan para pengawalnya. Saat kain ikat kepala Aji Saka dibeber di atas tanah, ajaib ikat kepala itu terus membesar dan ukurannya terus mengembang, Dewata Cengkar pun terdesak, terjepit dan terhempas ke samudera dan tumbang,” katanya.

Raja bengis, serakah, tamak, gemar hidup bermewah-mewah. Suka makan daging dan menghisap darah rakyatnya sendiri”

Dikisahkan, di suatu sore di awal abad Masehi, untuk pertama kali, telapak kaki sang musafir Aji Saka menginjak tanah bertuah, yakni Jawa Dwipa, Pulau Jawa atau Nusantara.

Tepatnya di Desa Sengkeran masuk wilayah atau tlatah Kerajaan Medang Kamulan (sekarang diperkirakan, meliputi wilayah Batang, Kendal, Semarang, Jepara, Demak, Kudus, Pati, Rembang). Sejak itu, Aji Saka menginap, kemudian menetap di rumah seorang janda tua dan seiring perjalanan waktu, janda tua itu dianggapnya sebagai ibu sendiri.

Beberapa waktu bermukim di Desa Sengkeran, mulai tersibak daya linuwih (kesaktian) Aji Saka. Ilmunya yang luas, tak terukur setelah bertahun melalang buana ke berbagai penjuru negeri (nglanglang jagad). Kedalaman ilmu batinnya, kecerdasan, kegesitan, kesantunan, ketampanan dan kewibawaannya yang dimiliki itu pun dengan cepat tersebar ke segala penjuru dan menarik banyak orang. Sontak warga banyak yang mencari dirinya untuk ngangsu kawruh (menggali ilmu) dari Aji Saka.

Gayung bersambut, Aji Saka memahami serta ikut merasakan derita dan duka rakyat Medang Kamulan. Termasuk cerita pilu mereka yang didapat dari para pengikut atau murid-muridnya. Bertahun-tahun rakyat Desa Sengkeran dan Medang Kamulan hidup dalam teror duka dan ketakutan akibat kekuasaan sewenang-wenang Raja Medang Kamulan, Dewata Cengkar. Raja bengis, serakah, tamak dan gemar hidup bermewah-mewah itu memiliki kegemaran aneh, suka makan daging dan darah manusia, menghisap darah dan memakan daging rakyatnya sendiri.

Aji Saka pun tersendak dan ingin mengakhiri derita panjang rakyat Medang Kamulan. Dia kemudian memberanikan diri, mengorbankan raganya untuk santapan Raja Dewata Cengkar. Di antar seluruh penduduk Desa Sengkeran, Aji Saka mendatangi istana Dewata Cengkar, dengan lantang menyampaikan maksudnya merelakan tubuhnya menjadi santapan Sang Raja.

Dewata Cengkar pun kegirangan mendengar tawaran Aji Saka. Tanpa fikir panjang menyanggupi permintaan terakhir dari Aji Saka, yakni sebidang tanah seluas ikat kepala yang dipakai, untuk dipersembahkan sebagai tanda bakti sucinya kepada ibu angkatnya di Desa Sengkeran yang ditinggali.

Terjadilah peristiwa di luar dugaan Dewata Cengkar dan seluruh rakyat yang melihatnya. Saat ikat kepala Aji Saka dibeber, diletakkan di atas tanah, secara ajaib kain ikat kepala itu terus membesar dan ukurannya terus mengembang. Akibatnya, Dewata Cengkar yang berdiri bersama pasukannya terus terdesak, hingga ke bibir samudera.

Kemudian, terjadilah seperti cerita dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Ikat kepala Aji Saka yang terus mengembang dan membesar hingga seluas tanah kerajaan Medang Kamulan. Itu membuat Dewata Cengkar dan pasukannya terus terdesak, kemudian terlempar ke dalam samudera dan tewas.

“Ikat kepala Aji Saka sesungguhnya bukan simbol kedudukan sosial dirinya, baik sebagai kesatria ataupun brahmana. Bukan simbol keanggotaan sebagai kader ormas keagamaan. Bukan juga simbol sebagai anak atau cucu atau keturunan dari orang besar dan berpangkat. Apalagi simbol kedudukan dan jabatan,” terang Mochtar.

Bukan itu semua, meskipun simbol-simbol itu kini tengah ramai diperdagangkan dalam kontestasi Pilgub, Pilbup dan Pilwali termasuk di pemilihan kepala daerah di Jatim 2018.

“Ikat kepala Aji Saka sesungguhnya adalah simbol pengetahuan dan bakti.
Jika hanya dikenakan sendiri, hanya untuk diri sendiri, maka tidak bermakna apa-apa. Dan seorang calon pemimpin, seorang calon gubernur dan wakil, seorang calon bupati dan wakil, seorang calon wali kota dan wakilnya tidak semestinya memiliki ikat kepala hanya seluas kepalanya dan dikenakan sendiri,” ucap lelaki berkacamata itu.

Mochtar menyebut, ikat kepala Aji Saka mengajarkan kepada para kandidat yang tengah berkompetisi untuk terus membesar dan mengembang. Membesar dan mengembangkan pengetahuan dan baktinya yang sekarang dan kelak akan memberi manfaat, menciptakan keamanan dan kesejahteraan untuk rakyatnya.

Intinya, mengalahkan Dewata Cengkar dan bisa bertahta di Medang Kamulan. Soal teknis kemenangan, serahkan saja pada Dora dengan serangan daratnya yang menusuk langsung ke jantung pertahanan lawan. Dan percayakan pada Sembada yang mengepung tuntas dari laut dan udara. Jika tidak, pasti hanya akan terlempar ke dalam samudera luas, sebagaimana tragedi yang dialami Dewata Cengkar. Begitulah, ya begitulah kisah Aji Saka dan Dewa Cengkar yang congkak dan rakus. Semoga, tidak sampai terjadi di Pilgub Jatim 2018, ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here