Pilihan Jamaah Maiyah Cak Nun di Pilgub Jatim

0
705
Cak Nun dalam satu forum bersama jamaah Maiyah.

Nusantara.news, Jawa Timur – Sebutan jamaah Maiyah tidak ditujukan bagi kelompok eksklusif tertentu. Kelompok ini bergerak secara institutif. Ada Maiyah, tentu ada Emha Ainun Najib atau disapa Cak Nun. Jamaah Maiyah tidak bisa dilepaskan dari Cak Nun. Mereka secara rutin berkumpul dalam forum. Bisa disebut pengajian, tapi tidak benar-benar pengajian. Sebab di dalamnya banyak mengajarkan semangat hidup, sikap toleran dan hidup bersama dalam kontribusi kebaikan.

Jadi boleh dibilang jamaah Maiyah tidak identik sebagai sekumpulan orang Islam. Malah ada pengajian dari tokoh-tokoh lintas agama, aliran, suku bangsa, etnik, LSM, mahasiswa dalam maupun luar negeri, dan lain-lain. Nuansanya lebih ke budaya. Serta, tidak juga menjadi sinkretisme.

Seperti kata Cak Nun, “Acara ini (Maiyah) bukan acara khusus untuk orang Islam, tapi untuk semua manusia yang Islam dan yang tidak Islam. Manusia waras dan manusia yang tidak waras, bahkan jin, setan, dhemit, gendruwo, kalau memang berminat untuk jadi baik akan disambut dengan tangan terbuka”.

Maiyah bukan madzhab, aliran, sekte, ormas atau gerakan yang ingin menggulingkan pemerintah. Tapi, ini adalah majelis ilmu yang bersama-sama mencari dan merumuskan kebenaran, tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar.

Beberapa orang yang pernah hadir dalam acara ini antara lain, Gus Dur, Mbah Surip, Ebiet G. Ade, Ari Lasso, Ahmad Dhani, Muhammad Nuh, Permadi, Ian L. Betts, dan masih banyak lagi.

Kegiatan (pengajian) Maiyah tidak disponsori oleh produk tertentu apalagi partai politik. Dan tidak disiarkan di TV nasional, tapi hanya di TV lokal. Itu pun dalam rangka shodaqoh, tak dapat bayaran dari penayangannya. Pihak TV mengambil acara pengajian Cak Nun, bukan Cak Nun yang diacarakan oleh pihak TV.

Padahal jika ditinjau dari ilmu broadcast, acara Cak Nun sangat jauh dari kaidah pada umumnya. Lighting apa adanya, orang-orang yang dishooting tampak rileks tidak dibuat-buat alias alami. Rupanya pemirsa sudah bosan dengan polesan dan kepura-puraan. Mereka merindukan yang sejati.

Walaupun Maiyah diprakarsai Cak Nun, tapi dia sendiri memposisikan sama dengan jamaah Maiyah lain. Sebab di Maiyah semua orang berposisi sama. Tidak ada kyai, tidak ada imam, tidak ada mursid, tidak ada syekh. Intinya hanya taat sama Allah dan Rasul.

Karena itulah, banyak pengikut Maiyah yang tersebar di pulau Jawa bahkan Indonesia. Mereka berada dalam lingkaran Maiyah secara bergelombang, seperti Kenduri Cinta (Jakarta), Mocopat Syafaat (Jogyakarta), Phadangmbulan (Jombang), Bangbang Wetan (Surabaya), Gambang Syafaat (Semarang), Juguran Syafaat (Purwokerto) dan Maiyahan rutin yang berlangsung di beberapa kota di Indonesia.

Setiap Maiyah digelar, pengikutnya bisa mencapai ribuan. Kalau ditotal seluruh Indonesia, ya mencapai jutaan. Cak Nun bisa saja memanfaatkan basis massa tersebut untuk tujuan politis. Tinggal mengkomando saja, semua pasti bergerak. Sayangnya dalam setiap forum, dia menolak memobilisasi massa, apalagi bila menyangkut urusan politik.

Ya, jamaah Maiyah dibilang netral ya netral. Dibilang keluar dari hiruk pikuk politik negeri, juga iya. Tapi bukan berarti apatis. Mereka lebih suka disebut golongan para pendamai. Untuk urusan politik, itu urusan masing-masing individu, sama halnya urusan manusia dengan Tuhan.

Karenanya di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018, massa Maiyah Cak Nun sebenarnya juga digadang-gadang dapat mendulang perolehan suara signifikan. Dengan jumlah massa mencapai jutaan yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Jawa Timur, hal ini tentu menjadi kantong-kantong suara yang seksi bagi kandidat gubernur Jatim mendatang.

Wajar jika Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sering mendatangi forum-forum Maiyah, meski dia harus menahan diri menjadi bahan sindiran Cak Nun. Keberanian Gus Ipul memang bukan tanpa alasan. Dia menyadari besarnya jamaah Maiyah di Jawa Timur dapat mendulang suara di Pilgub Jatim. Apalagi sampai Cak Nun bersedia mengarahkan jamaahnya untuk memilih salah satu kandidat. Ya, itu harapan Gus Ipul.

Meski memiliki basis massa (Jamaah Maiyah) besar, namun Cak Nun tidak mau memanfaatkan untuk urusan politik

Cak Nun tidak mau memanfaatkan jamaah Maiyah untuk urusan politik, tapi bukan berarti dia merem soal politik. Di pengajian Maiyah, orang diajak ‘mengembara’, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Karena di Maiyah bukan cuman pengajian agama, melainkan juga kajian politik, budaya, sosial, termasuk urusan memilih calon pemimpin. Dalam berbagai forum Maiyah, dia sering menyinggung soal kriteria pemimpin (Jatim).

Apa saja kriteria sosok pemimpin yang cocok bagi masyarakat Jawa Timur? Di sini Nusantara.News merangkumnya dari forum-forum Cak Nun di beberapa kota Indonesia, khususnya Jawa Timur. Berikut rangkumannya:

Cak Nun menerangkan terminologi kepemimpinan sebagai salah satu contoh yang tidak pernah ditadabburi oleh masyarakat Islam saat ini. Dijelaskan, bahwa urusan Pilkada merupakan urusan negara, sedangkan Maiyahan merupakan urusan negeri.

Satu contoh kasus, ketika seorang suami harus membiayai istrinya melahirkan anaknya dan suaminya tidak mempunyai uang sehingga terpaksa mencuri sepeda untuk digadaikan dan uangnya digunakan untuk membiayai persalinan istrinya, secara hukum negara suami tersebut dinyatakan salah. Tetapi, di dalam wilayah negeri tidak sesempit itu persoalannya. Sehingga, dalam sebuah negeri, kepemimpinannya tidak terbatas dalam wujud tokoh seseorang saja, karena semua orang berhak menjadi pemimpin. Kepemimpinan tidak harus figur, dan semua orang bisa menjadi pemimpinnya, karena pemimpin adalah output dari kepemimpinan. Tetapi, yang terjadi di sebuah negara, subjek utamanya adalah pemimpin yang belum tentu memiliki kepemimpinan.

Cak Nun menekankan, jika memang pemimpin memiliki tujuan untuk memperbaiki keadaan Indonesia, perbaiki terlebih dahulu hal-hal yang sangat mendasar, seperti perbedaan antara negeri dan negara ini. Apalagi, yang ada di Indonesia adalah Undang-Undang Negara, bukan Undang-Undang Negeri. Sehingga sangat aneh ketika seorang Pegawai Negeri justru taat kepada negara, dan sangat wajar ketika seorang Pegawai Negeri melanggar Undang-Undang Negara dan lebih taat kepada atasannya, karena memang pada dasarnya tidak ada Undang-Undang Negeri. Alhasil, tentu saja akibat dari kesalahan yang sangat fatal ini adalah kerancuan pemerintah dalam mengurusi Negara Republik Indonesia.

Akibatnya, negara dalam kondisi carut marut. Dalam skala kecil, setiap hari begitu banyak orang melanggar aturan lalu lintas di jalan raya, menerobos lampu merah, menerobos jalur yang tidak seharusnya dilalui. Tetapi, pada skala yang lebih besar, banyak pihak-pihak terutama pemimpin yang menganggap bahwa melanggar hukum sudah merupakan hal wajar.

Pemimpin memutuskan undang-undang yang tidak semestinya dikeluarkan. Begitu banyak kepala daerah melakukan korupsi dan merasa tenang-tenang saja meskipun ada KPK. Dan, itu fakta yang terjadi hari ini. Oleh karenanya, bagaimana mungkin masyarakat merasa memiliki hak untuk tidak pantas dipimpin oleh setan, sedangkan perilaku-perilaku kita sendiri di kehidupan nyata merepresentasikan perilaku-perilaku setan.

Karena itu jika memilih pemimpin, sumber bisa dari mana saja, bisa mengambil dari Alquran, bisa dari Rasulullah SAW, bisa dari Khulafaur Rasyidin, bisa dari sistem kerajaan, bahkan dari binatang atau pohon pun bisa.

Cak Nun mencontohkan bagaimana sikap kepemimpinan muncul dari dalam diri seorang Nabi, seperti ketika Rasulullah Muhammad SAW menjadi penengah masyarakat Mekkah yang berdebat atas siapa yang paling pantas meletakkan Hajar Aswad setelah pemugaran Ka’bah. Saat itu Rasulullah SAW menggunakan surbannya yang di setiap ujung surban tersebut lalu dipegang oleh para pemimpin masyarakat setempat saat itu. Atau, ketika di Madinah, Rasulllah SAW mengamanatkan kepada seekor unta untuk menentukan di mana letak akan dibangunnya Masjid Nabawi. Di mana Unta itu berhenti dan beristirahat, maka di situlah masjid akan dibangun.

Atau, beberapa suku-suku pedalaman bahkan melibatkan makhluk Allah yang lain untuk menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin. Salah satu contohnya adalah dengan menggunakan lebah. Di sebuah suku pedalaman di Sulawesi, lebah menjadi media parameter bagi masyarakatnya untuk mengetahui siapa yang layak untuk menjadi pemimpin. Setelah 3 orang dipilih oleh masyarakat setempat untuk menjadi pemimpin selanjutnya seorang pawang lebah melepaskan ribuan lebah untuk mengerumuni ketiga orang tersebut. Dari ketiga orang itu akan terlihat siapa yang paling pantas untuk menjadi pemimpin.

Orang yang pertama bisa lari ketakutan dikejar oleh ribuan lebah. Sementara itu, ada orang kedua sangat kebal dengan lebah sehingga setiap lebah yang menyengatnya langsung mati saat menyentuh tubuhnya. Dan, ada orang yang ketiga mampu membuat kondisi sangat mesra dan nyaman antara dirinya dengan ribuan lebah yang mendekatinya. Tentu saja, orang yang ketiga adalah orang yang kemudian terpilih menjadi pemimpin mereka.

Orang yang pertama tidak layak menjadi pemimpin karena ketika dihadapkan dengan satu persoalan bukan menyelesaikan tetapi malah melarikan diri. Orang yang kedua, adalah orang yang sangat kuat dan tegas, tetapi sangat berbahaya karena tidak akan tahan dengan kritikan. Siapa yang mengkritiknya bisa langsung dikenai hukuman. Sementara orang ketiga, dia mampu membuat masyarakatnya nyaman, mampu merealisasikan kebutuhan-kebutuhan yang ada di masyarakat, dan mampu mengayomi banyak orang.

Ya, pemimpin adalah orang yang tidak akan menawar-nawarkan dirinya untuk dipilih menjadi pemimpin. Bahwa pemimpin adalah ia yang memiliki sifat zuhud. Sementara, dunia modern saat ini tidak mengenal sifat-sifat luhur dari seorang pemimpin, bahkan sangat sukar ditemukan kemungkinan akan lahirnya seorang pemimpin yang sejati di Indonesia jika kita melihat realitas situasi dan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti sekarang ini.

Dalam satu khazanah Alquran disebutkan ada empat sosok teladan pemimpin; Nabi Adam, Nabi Nuh, Keluarga Nabi Ibrahim, dan Keluarga Imron. Satu hal yang digarisbawahi, kenapa bukan Rasulullah saw yang dijadikan teladan? Karena pada dasarnya, Rasulullah SAW adalah sosok yang terlampau sempurna yang sangat tidak mungkin diteladani seluruh laku hidupnya.

Cak Nun memaparkan, ada banyak sekali jenis-jenis atau istilah pemimpin dalam Islam, yakni Rois, Amir, Khalifah, Ulil Amri, Mursyid, Nabi hingga Rasul dengan skala ruang dan waktu yang berbeda.

Ada empat skala ruang pemimpin. Pertama, alam pemikiran modern di mana seorang pemimpin ditentukan atas dasar hal-hal yang sebenarnya masih bersifat abstrak: profesional, loyalitas, integritas, ekspertasi, kemampuan dan sebagainya. Kedua, konsep pemimpin menurut Rasulullah SAW: Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah.

Ada empat skala ruang pemimpin versi Cak Nun.

Ketiga, mengambil dari tadabbur Al-Hasyr 23-24, bahwa seorang pemimpin adalah ia yang memiliki sifat ‘Alimul ghoibi wa syahadah, rohman dan rohim. Baru setelah itu ia layak dipilih menjadi seorang pemimpin, yang kemudian akan memiliki sifat-sifat yang disebutkan selanjutnya; Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu`min, Al-Muhaimin, Al-‘Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Tentu saja bukan seperti sifat Allah, melainkan ia mampu mengejawantahkan sifat-sifat Allah tersebut dalam dirinya.

Keempat, dari khazanah Ronggowarsito kita mengenal Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu. Kata Satriasendiri sudah mencakup seluruh sifat-sifat Pemimpin. Seorang Satria adalah ia sudah pasti memiliki sifat-sifat dan nilai-nilai luhur Kepemimpinan yang sejati. Seorang satria sudah pasti jujur, sudah pasti kompeten, sudah pasti cerdas, sudah pasti kuat, sudah pasti tangguh. Ia adalah Pinandhita yang juga Sinisihan Wahyu. Ia bijaksana, yang juga dibimbing oleh Tuhan dalam setiap langkah-langkahnya.

Dan manusia yang paling sial di dunia adalah yang tak seorangpun berani menyalahkannya. Pemimpin yang paling berbahaya bagi rakyatnya adalah pemimpin yang semua orang tidak mengemukakan kebenaran kepadanya, baik karena takut, kepentingan untuk menjilat, atau karena sikap kemunafikan. Ketika pemimpin ini bertelanjang bulat pun bawahannya membungkuk dan bilang “Jas dan dasi Bapak bagus sekali”.

Kalau orang yang demikian itu kebetulan seorang pemimpin, maka ia bisa disebut “Pemimpin Yang Tuhan”. Sebab can do no wrong. Ia dianggap tidak mungkin salah. Ia diyakini selalu benar. Maka selalu harus dipuji, dilindungi, dibela: kalau perlu dengan toh nyowo, bertaruh nyawa. Segala keburukan, asal dia yang melakukan: menjadi kebaikan. Segala kebodohan, asal dia yang melakukan: menjadi kepiawaian. Segala kekonyolan, asal dia yang melakukan: menjadi kemuliaan. Ia bagaikan Tuhan itu sendiri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here