Pilkada DKI Putaran Dua: Dilema PKB, PAN, PPP dan Demokrat

0
1071
Foto: kawanmuda.co

Nusantara.news, Jakarta – Pilkada DKI Jakarta baru saja digelar. Hasilnya (quick count) Agus-Sylvi dipastikan tersingkir dengan perolehan suara sekitar 18%. Sementara Ahok-Djarot menang tipis pada kisaran 42% dan Anies-Sandi pada kisaran 39%. Itu berarti karena tidak ada pasangan yang meraih kemenangan di atas 50%, maka Pilkada DKI terpaksa masuk pada putaran kedua: Ahok-Djarot vs Anies-Sandi.

Ditinjau dari hasil suara, sepertinya kekuatan mesin partai-partai pendukung Agus-Sylvi tidak berjalan efektif. Berbeda dengan mesin partai pendukung Ahok-Djarot yang dinilai militan meski calon gubernurnya tersangkut kasus penistaan agama. Tim ini juga diuntungkan karena sebagai petahana, mereka bisa menyajikan bukti capaian kinerjanya selama kampanye ataupun pada saat acara debat.

Sementara dukungan Gerindra dan PKS terhadap Paslon Anies-Sandi juga lebih efektif dan kedua partai ini memang terkenal solid dalam menggalang suara akar rumput. Basis pemilihnya tersebar mulai dari pemilih pemula, kalangan muda khusunya mahasiswa, Islam perkotaan, dan kelas menengah baru.

Keadaan ini membuat pendukung Ahok sedikit cemas karena Ahok-Djarot terpaksa bertarung di putaran kedua melawan Anies. Dengan melawan Anies-Sandi di putaran kedua, maka kemungkinan besar Ahok kalah. Alasannya para pendukung Agus akan beralih mendukung Anies. Dari hasil quick count beberapa survei, memang Ahok hanya menang tipis atas Anies. Namun jika suara Agus digabungkan dengan suara Anies, maka Anies akan menang pada kisaran 58% atas Ahok yang hanya 42%.

Di poros pendukung Agus-Sylvi, selain Partai Demokrat, ada tiga partai politik dengan basis massa Islam yakni PPP, PKB, dan PAN. Demokrat diperkirakan akan merapat ke Anies-Sandi mengingat selama ini SBY merasa diserang oleh kubu pendukung Ahok-Djarot yang cenderung berafiliasi dengan penguasa (pihak istana), lewat tuduhan keterlibatan SBY di balik aksi 411 dan 212, serta tudingan Antasari yang menyebut SBY sebagai aktor yang merekayasa kasusnya. SBY juga telanjur sakit hati karena serangan tersebut dianggap sebagai pembunuhan karakter terhadap dirinya dan putranya sehingga bisa mendegradasi dukungan suara untuk Agus-Sylvi. Maka dengan bergabungnya ke kubu Anies-Sandi, Partai Demokrat memiliki mitra untuk melawan “musuh” politiknya.

Kemungkinan lain, Partai Demokrat akan meninggalkan gelanggang tanpa memberikan dukungan untuk Anies-Sandi ataupun Ahok-Djarot. Hal ini bisa terjadi karena Partai Demokrat susah berdamai dengan Gerindra. Dua periode SBY menjadi Presiden, tidak ada kader Gerindra yang duduk di kabinet. Sementara hubungan SBY dengan PKS  susah untuk mesra, sejak dulu manuver PKS selalu membikin SBY curiga. Mungkin SBY akan melepaskan kader Partai Demokrat untuk memilih sesuai dengan suara hati nurani masing-masing. Karena siapa pun yang menang di putaran kedua nanti tidak ada yang bisa menyenangkan hati SBY.

Lalu ke mana suara PPP, PKB, dan PAN akan diarahkan pada putaran kedua nanti?

PAN dan PKB mungkin akan berhitung-hitung dengan cermat untuk mengalihkan dukungannya, salah perhitungan akan rugi dua kali.  PAN dan PKB pasti akan memperhitungkan reaksi Jokowi. Tentu Jokowi akan menilai siapa teman sejati dan siapa yang opportunis. Bagi PPP, pengalihan dukungan suara kepada koalisi non petahana, akan mempengaruhi lobi politik di hadapan partai pemerintah terkait pengakuan legalitas partainya yang sedang bermasalah.

Namun, tampaknya ketiga partai politik tersebut hampir tidak mungkin akan mengarahkan suaranya ke Ahok, terlebih lagi karena kasus penistaan agama dan proses hukum yang sedang berjalan. Menurut Muhammad Isa dari Selasar.com, ketiga partai politik tersebut akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: mengarahkan suaranya ke calon tertentu (entah Ahok-Djarot/Anies-Sandi) atau membiarkan massa muslim pendukungnya untuk bebas memilih. Tidak ada pilihan lain.

Apabila pilihannya adalah mengarahkan suara kepada Ahok (yang non-muslim), tentu hal ini bukan pilihan yang bijak untuk ketiga partai ini, mengingat permasalahan “Memilih pemimpin muslim” adalah persoalan ideologis-politis, drajatnya bukan lagi persoalan tepat atau kurang tepat sebagaimana layaknya dilema keputusan politik lain.

“Jika mereka masih saja nekat mengambil keputusan untuk mendukung Ahok (dan Djarot), kemungkinan besar ketiga partai tersebut akan menghadapi risiko kekecewaan dari para pendukungnya dan bukan tidak mungkin akan terjadi pergeseran dukungan ke satu-satunya partai Islam yang tersisa, PKS.

Di tambah isu penistaan agama oleh Ahok masih tertanam di benak publik pemilih muslim,” ucap Isa.

Tentu saja Pilkada Jakarta putaran kedua akan berlangsung seru. Partisipasi publik untuk memilih juga diperkirakan akan meningkat. Perebutan suara pemilih di Jakarta pada pilkada putaran kedua ini akan mempengaruhi kekutan dan orientasi politik di kancah perpolitikan nasional ke depan.

Hasil putaran kedua nanti selain bergantung pada strategi dan kerja keras timses masing-masing, juga akan sangat bergantung pada kandidat mana yang dapat memenangkan limpahan suara dari pendukung Agus. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here